Pentingnya Menjaga Toleransi di Kalangan Anak Muda
- 28 Mei 2026 11:36 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Isu toleransi dan radikalisme menjadi perhatian penting yang harus dipahami oleh generasi muda dalam kehidupan beragama dan bersosial. Ustaz Hanu Permono, S.P.d.I., menegaskan bahwa sikap toleransi (tasamuh) dan radikalisme muncul dari bagaimana seseorang merespons suatu perbedaan dan sudut pandang.
Di tengah keberagaman Indonesia, generasi muda diimbau untuk tidak bersikap acuh tak acuh (bodo amat), melainkan harus terus memperluas wawasan keilmuan agar mampu menyikapi perbedaan secara bijak dan adil. Ustaz Hanu yang merupakan guru Madrasah Aliyah Tahfidzul Quran (MA TQ) Sambas Purbalingga menjelaskan bahwa sikap radikal sering kali berakar dari pemahaman yang terlalu ekstrim.
Manifestasi dari radikalisme ini tidak selalu berupa tindakan fisik, melainkan bisa muncul dalam bentuk verbal, seperti melontarkan kritik atau sentilan yang tidak pada tempatnya terhadap kelompok mayoritas atau ormas lain yang berbeda pandangan. Dalam penjelasannya, Ustaz Hanu juga menggarisbawahi adanya batasan-batasan dalam bertoleransi, khususnya dalam konteks agama Islam. Ia membagi tingkat toleransi dari yang terendah hingga tertinggi.
"Toleransi dan radikalisme paling tidak keduanya itu muncul karena suatu perbedaan dan cara sudut pandang. Perbanyak terlebih dahulu wawasan keilmuan, karena wawasan keilmuan itu yang membuat kita lebih bersikap tasamuh, lebih bersikap toleransi, lebih bersikap menghargai," ujar Ustaz Hanu, dalam dialog Toleransi dan Radikalisasi, Selasa (19/05/26).
Toleransi terendah diwujudkan dengan sekadar menghormati keyakinan orang lain tanpa ikut campur, sesuai prinsip lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu, dan untukku agamaku). Namun, ia mengingatkan agar toleransi tidak dilakukan secara berlebihan (kebablasan), seperti ikut merayakan ritual ibadah atau memasuki tempat peribadatan agama lain, karena hal tersebut sudah melewati batasan yang diajarkan.
Sebagai solusi untuk menjaga persatuan di tengah berbagai pandangan politik, sosial, budaya, dan agama, Ustaz Hanu mengajak anak muda untuk mengedepankan dialog yang berbasis pada data dan referensi yang valid, bukan sekadar opini pribadi. Jika menghadapi perbedaan pendapat yang tidak bisa disatukan, jalan terbaik adalah saling menghargai dan tidak saling mengganggu demi mewujudkan kehidupan masyarakat yang rukun, seimbang (tawazun), dan adil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....