Solidaritas Umat Beragama: ketika Perbedaan Jadi Kekuatan, Bukan Pemisah

  • 06 Mei 2026 07:06 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Pernahkah Anda sadar bahwa Tuhan menciptakan anggota tubuh kita berbeda-beda. Strukturnya berbeda, kehalusan nya berbeda, ketebalan. Namun karena perbedaan yang diciptakan tuhan itulah yang membuat sisi keindahan dan kekuatan yang luar biasa. Selain itu juga kita tidak bisa mencemooh orang lain yang memiliki keterbasan. Karena pasti tuhan juga memberikan kekuatan dibalik orang tersebut.

Bayangkan saja manusia yang memiliki jari-jari tangan tidak benar-benar sama. Ada yang panjang, pendek, lentik, atau kokoh, tetapi justru karena perbedaan itulah tangan dapat menulis, menggenggam, dan melakukan tugas dengan baik. Jika semua jari sama, kita mungkin kesulitan melakukan hal-hal sederhana sekalipun. Begitu pula dengan manusia, perbedaan membuat kita saling membutuhkan satu sama lain, dan membuat kehidupan kita lebih harmonis.

Tidak hanya dalam bentuk fisik, nilai keberagaman juga tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk keyakinan dan kepercayaan. Agama merupakan pilihan sekaligus warisan dari keluarga, sehingga ekspresi keagamaan seseorang harus dihormati tanpa stigma.

”Ekspresi keagamaan seseorang yang beragam juga tidak boleh diusik dengan mengstigma agama seseorang. Misalnya saja seseorang dengan agama tertentu distigmakan sebagai agama teroris, kemudian mengklaim kawannya juga sebagai seorang teroris,” jelas Prof. Dr. M. Roqib., M.Ag, seorang Ketua FKUB Kabupaten Banyumas.

Hal itupun berlaku juga pada pandangan agama lain, seperti kristen misalnya. ”Dalam pandangan kristen, Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Hal ini karena manusia harus saling melengkapi satu sama lain sehingga akan menciptakan keharmonisan bagi umat manusia itu sendiri,” menurut Pdt. Dr. Yunus Rahmadi, S.H.,M.A.C.E seorang Pendeta Gereja Utusan Pantekosta.

Menurut beliau, pandangan itu harusnya tidak hanya pemikiran saja, namun perlu juga gerakan dengan membentuk suatu komunitas yang ingin belajar tentang bagaimana caranya menerima dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan. Oleh sebab itu dengan adanya komunitas Persekutuan Antar Keluarga, untuk menjadikan anggotanya ”anak Tuhan” atau manusia yang menjalankan tugas dari Tuhan untuk senantiasa menghargai keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....