Fenomena Red String Theory: Benang Merah Takdir yang Menghubungkan Dua Jiwa

  • 04 Mei 2026 07:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Fenomena Red String Theory atau legenda benang merah sering kali muncul dalam karya sastra dan film sebagai simbol takdir yang menghubungkan dua orang. Meskipun berasal dari mitologi Asia Timur yang meyakini adanya ikatan batin yang tak terlihat, konsep ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh mengenai bagaimana manusia merasakan keterhubungan emosional yang kuat secara tiba-tiba.

Nia Anggri Noveni, S.Psi.,M.A dalam program Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto yang menjelaskan bahwa dalam psikologi, fenomena ini dapat dikaitkan dengan konsep ketidaksadaran kolektif yang diperkenalkan oleh Carl Jung.

“Manusia membawa "warisan" emosional dan memori dari nenek moyang yang tidak disadari, sehingga terkadang kita merasa sangat akrab atau terhubung dengan seseorang meski baru pertama kali bertemu,” tuturnya.

Selain ketidaksadaran kolektif, keterkaitan ini juga bisa dijelaskan melalui pendekatan psikologi energi yang melibatkan frekuensi dan getaran emosi. Seseorang yang mempunyai frekuensi energi yang sama cenderung akan saling tarik-menarik dan merasa nyaman berada dalam satu ruang interaksi yang sama.

Perubahan diri menjadi kunci penting untuk menarik frekuensi atau "benang merah" yang positif ke dalam kehidupan kita. Dengan memperbaiki kualitas diri dan kesehatan mental, seseorang akan memancarkan energi yang lebih tinggi sehingga dapat bertemu dengan seseorang yang juga memiliki energi yang sama.

Mengenal diri sendiri dan memahami asal-usul keluarga dapat membantu kita merefleksikan mengapa pertemuan tertentu terjadi dalam hidup kita. Dengan kesadaran yang baik, keterkaitan yang dirasakan bukan lagi dianggap sebagai kebetulan belaka, melainkan sebagai bagian dari bagian pengembangan diri yang bermakna. (Khofifah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....