Future Skill ASN: Kunci Bertahan di Era Digital
- 27 Apr 2026 08:01 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi, khususnya dalam menghadapi tatangan di bidang pendidikan dan teknologi. Dengan begitu, dibutuhkan upaya untuk memperoleh wawasan baru serta kesiapan dalam menghadapi perubahan di masa depan.
Berdasarkan hal tersebut, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Badan Kepegawaian Negara (BKN) dalam Sharing Session BKN kembali hadir menjawab kebutuhan tersebut. Series ke-49 kali ini mengangkat tema “Future Skills untuk ASN: Menjawab Tantangan Pendidikan dan Teknologi” yang secara virtual melalui zoom meeting dengan menghadirkan narasumber ahli, yaitu Mutiara Hikma Mahendradatta, B.B.A., M.B.A. selaku CEO Educourse.id.
| Baca juga: Pentingnya Puasa Pikir di Bulan Ramadhan |
Dalam hal ini, Mutiara Hikma menungkapkan pentingnya future skill terutama bagi ASN adalah membantu mempermudah orang lain dan diri kita sendiri dari permasalah yang ada saat ini. Dengan adanya tools-tools digital, di antaranya seperti ChatGPT, AI, dan Gemini itu dapat mempermudah pekerjaan yang tadinya dikerjakan secara manual menjadi lebih efektif dan efisien.
“Kenapa future skill ini penting sekarang? Pertama, kita udah udah enggak bisa memungkiri lagi ya, teknologi itu cepat banget. Dulu mungkin enggak ada AI, mungkin 5 tahun yang lalu kita enggak terlalu familiar, tapi sekarang semuanya udah ChatGPT, Prosplexity, Gemini, dan lain sebagainya yang alhamdulillah memudahkan kita semuanya,” jelas Hikma.
Menurutnya, perkembangan teknologi juga membuat ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan publik semakin tinggi. Masyarakat kini ingin layanan yang cepat, mudah, dan responsif, sehingga ASN perlu memiliki kemampuan berpikir analitis serta literasi digital agar mampu menjawab kebutuhan tersebut dengan tepat. “Masyarakat punya ekspektasi yang instan, karena adanya sesutau yang bertransformasi begitu cepat itu sendiri,” ujar Hikma.
Ia juga menekankan bahwa ASN perlu memiliki kebiasaan belajar secara mandiri agar tidak tertinggal oleh perubahan yang terus terjadi. Kemampuan baru tidak harus selalu menunggu pelatihan resmi, tetapi bisa dimulai dari memanfaatkan berbagai sumber belajar digital yang tersedia secara gratis. “Ketika kita diberikan tugas digital, nggak usah nunggu pelatihan resmi dulu, kita sudah bisa sambil nyicil, sudah bisa sambil belajar,” ujarnya.
Selain penguasaan teknologi, ia menilai nilai utama ASN tetap terletak pada empati dan integritas dalam melayani masyarakat. Teknologi memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi sentuhan manusia dalam memahami kebutuhan publik tidak dapat digantikan oleh mesin. “AI tidak akan menggantikan ASN yang bernilai. Maka jadikan digital ini, AI ini kawan kita, bukan lawan kita,” ujar Hikma.
Dengan demikian, future skill menjadi penting bagi ASN untuk menghadapi perubahan di bidang pendidikan dan teknologi. Penguasaan teknologi perlu diimbangi dengan kemauan belajar, empati, dan integritas dalam pelayanan publik. Dengan begitu, ASN dapat tetap relevan sekaligus memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat. (Helmalia)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....