Hidup yang Berhati-hati, Perbanyak Amal, dan Kemuliaan Akhlak

  • 22 Apr 2026 07:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Hidup yang berhati-hati merupakan manifestasi dari ketakwaan yang sesungguhnya, di mana kita harus waspada terhadap berbagai "duri" yang dapat menghalangi perjalanan spiritualnya. Dalam filosofi Islam, kehati-hatian ini bukan berarti rasa takut yang melumpuhkan, melainkan kesadaran penuh untuk menjaga setiap langkah agar tetap selaras dengan syariat Allah SWT di mana pun kita berada.

Ustaz Mintaraga Eman Surya, Lc.,MA dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, menjelaskan bahwa takwa diibaratkan seperti seseorang yang berjalan di jalan penuh duri dengan penuh kesungguhan untuk menghindarinya. "Hakikat takwa adalah usaha keras untuk melewati duri-duri kehidupan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati agar tidak terperosok dalam kesalahan," jelasnya.

Salah satu duri kehidupan yang sering disalahpahami adalah musibah, yang sebenarnya tidak hanya berupa kesusahan tetapi juga bisa datang dalam bentuk kesenangan yang melalaikan. Kesenangan sering kali menjadi ujian yang lebih berat karena berpotensi membuat seseorang merasa sombong dan melupakan Sang Pencipta, berbeda dengan kesulitan yang cenderung mendekatkan hamba kepada Tuhannya.

Mengenai fenomena ujian hidup, Ustaz Mintaraga mengingatkan bahwa tingkat beban ujian yang diterima seseorang berbanding lurus dengan kekuatan iman yang dimilikinya. “Seseorang akan diuji sesuai dengan tingkat agamanya, jika agamanya kokoh, maka ujiannya akan semakin berat, namun setiap musibah tersebut sejatinya menggugurkan dosa-dosa kita," pungkasnya.

Kesungguhan dalam beramal saleh dan menjaga kemuliaan akhlak menjadi kunci utama untuk meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat. Dengan membiasakan diri dalam kebaikan, seorang Muslim diharapkan dapat menutup setiap kekhilafan dengan amal jariyah yang tulus. (Khofifah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....