Peringatan Hari Kartini: Masihkah Perjuangannya Relevan hingga saat Ini?
- 21 Apr 2026 12:30 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April menjadi momen refleksi atas perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Kartini dikenang dalam usahanya memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan dan kesetaraan.
Semangat Kartini yang tertuang dalam gagasan-gagasannya terus hidup hingga kini, melampaui zamannya dan menjadi inspirasi lintas generasi. Lalu, “apa makna perjuangannya bagi kita sekarang?”. Pertanyaan tersebut, membuat kita menelisik kembali apa yang kita perjuangkan sejauh ini.
Bagi Founder Ramah ke Bumi, Ria Elsani, peringatan Hari Kartini bukan sekadar perayaan, melainkan momen untuk mengingat keberanian Kartini dalam membuka jalan untuk para perempuan agar bisa memilih hidupnya sendiri.
Menurut Elsa, Hari Kartini masih sangat relevan di masa sekarang, tentunya dengan bentuk perjuangan yang berbeda. Isu kesetaraan, kesempatan, pendidikan bahkan representasi perempuan masih ada hingga saat ini. “Hari Kartini tidak hanya diperingati secara seremonial, tetapi nilai-nilainya harus diperjuangkan lebih lanjut karena perempuan mempunyai hak yang sama untuk hidup,” ungkap Elsa.
Konsep emansipasi yang diperjuangkan Kartini pun kini memiliki makna yang lebih luas. Emansipasi tidak lagi sekadar soal hak untuk bersekolah, tetapi juga tentang hak untuk didengar, mendapatkan kesempatan yang setara, serta kebebasan menentukan jalan hidup.

Founder Comotz, Ermit Three atau lebih akrab disapa Mimot menilai Hari Kartini tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol sejarah, melainkan sebagai inspirasi untuk terus belajar menerima diri, bertumbuh, dan berani berjalan dengan caranya sendiri.
Nilai perjuangan Kartini tercermin dalam upaya menjadi individu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, meski belum sempurna. Dalam perspektif ini, menjadi perempuan yang terus berkembang dan memberi dampak positif sudah menjadi bentuk nyata melanjutkan semangat Kartini.
Di sisi lain, pendidikan sebagai jalan perubahan masih relevan hingga saat ini. Pendidikan membentuk karakter, menanamkan nilai kebangsaan, dan membuka peluang hidup. “Zaman dahulu Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, sekarang akses pendidikan sudah terbuka, namun masih ada ketimpangan kesempatan kerja, stereotip gender masih kuat. Artinya perjuangan belum selesai, hanya bentuknya saja yang berubah,” tutur Mimot.
Pada akhirnya, relevansi Hari Kartini hari ini terletak pada aksi nyata. Bukan sekadar mengenakan kebaya atau mengikuti upacara tahunan, tetapi bagaimana nilai-nilai perjuangan itu benar-benar dihidupkan dalam keseharian yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....