Frugal Living Bukan Berarti Menderita: Cara Cerdas Mengelola Keuangan

  • 21 Apr 2026 09:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID,Purwokerto - Istilah frugal living semakin populer di kalangan anak muda pasca pandemi, terutama akibat dampak ekonomi global yang memberikan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Frugal berarti hemat dan living berarti hidup, sehingga frugal living dapat diartikan sebagai standar hidup hemat.

Hal tersebut disampaikan dosen UIN Saizu Purwokerto, Fitri Sari Setyorini, M.Hum, dalam program Sore Ceria di Pro 2 RRI Purwokerto beberapa hari lalu. Ia menambahkan, gaya hidup frugal living tentunya berbeda dengan perilaku kikir atau pelit. Seseorang yang menerapkan frugal living melakukan pengaturan keuangan untuk jangka panjang tanpa harus mengurangi pemenuhan kebutuhan mereka.

Mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan keinginan menjadi penting dalam frugal living. Menentukan skala prioritas antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan akan sangat berguna. Meskipun begitu, frugal living juga tidak pernah melarang seseorang untuk membeli barang mahal selama disesuaikan dengan kebutuhan, kualitas, dan dapat dipakai dalam jangka waktu yang panjang.

Meskipun sering disalahpahami dengan perilaku pelit, konsep frugal living sebenarnya mirip dengan konsep zuhud dalam islam. Zuhud merupakan perilaku yang meninggalkan dunia dan lebih fokus pada kehidupan akhirat dengan hidup sederhana. Dengan demikian, melalui konsep frugal living, kita juga telah menjalankan prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan kesederhanaan dan rasa syukur.

Dalil Al-Quran yang mendukung frugal living atau zuhud terdapat dalam surat Al-Isra ayat 26 dan 27 yang menjelaskan tentang kewajiban membantu sesama muslim dan larangan terhadap perilaku menghamburkan harta atau boros.

Hadits Riwayat Bukhari juga menerangkan pentingnya perilaku hemat yang berbunyi, “Simpanlah sebagian dari harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu karena itu jauh lebih baik bagimu.”

Cara sederhana untuk menerapkan frugal living yakni dengan membawa bekal dan botol minum dari rumah. Selain menghemat uang, kualitas makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuh juga dapat dipastikan sehingga kebersihan dan kesehatan dapat terjaga. Secara tidak langsung, kita juga ikut mengurangi sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman sekali pakai.

Tantangan dalam melakukan frugal living adalah kehadiran tren dan pola pikir konsumtif yang terbentuk karena lingkungan. Pada dasarnya, tren memang diciptakan untuk menarik konsumen dan tidak akan ada habisnya. Karena itu, memiliki pola pikir yang kuat saat melakukan frugal living sangat diperlukan untuk menekan perilaku konsumtif.

Kemauan dan niat untuk menata kehidupan yang lebih baik merupakan prinsip utama dalam menerapkan frugal living. Selain itu, mengatur pemasukan dan pengeluaran juga termasuk dalam upaya frugal living. Yang tidak kalah penting adalah melakukannya secara konsisten.

Kini kehidupan frugal living mulai diterapkan oleh anak muda. Oleh karena itu, peran dari pemerintah juga dibutuhkan untuk pengenalan atau mensosialisasikan gaya hidup frugal living.

“Anak muda merupakan generasi penerus bangsa, jika perilaku boros terus diterapkan dan tidak bisa hemat, bagaimana nasib kekayaan alam dan manusia di masa depan? Jangan sampai negara kita menjadi negara yang banyak resesi dan hutang hingga tingkat kriminalitas dan kemiskinan tinggi,” tambah Fitri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....