Keadilan Allah VS Standar Manusia: saat Logika Kita Tak Sampai
- 21 Apr 2026 07:38 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Dalam menjalani kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam penilaian sempit mengenai keadilan yang hanya didasarkan pada apa yang terlihat secara kasat mata. Standar manusia cenderung memandang kebahagiaan hanya melalui keberuntungan materi atau tidak adanya ujian, sementara dalam perspektif iman, keadilan Allah bersifat mutlak dan mencakup jangkauan yang jauh lebih luas hingga ke akhirat.
Dalam dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto bersama Muh. Muamar Lc.,M.H., dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto, menjelaskan bahwa keterbatasan pengetahuan manusia membuat kita sering salah dalam menafsirkan kejadian hidup. "Pemahaman manusia itu terbatas pada waktu itu saja, tidak tahu ke depannya nanti seperti apa, sedangkan pengetahuan Allah SWT itu luas dan tidak terbatas," jelasnya.
Konsep adil dalam Islam juga menjawab pertanyaan kritis mengenai nasib seseorang yang tampak sangat baik secara kemanusiaan namun tidak beriman. Melalui analogi kontrak kerja, dijelaskan bahwa setiap keyakinan memiliki konsekuensinya masing-masing, di mana kebaikan orang yang tidak beriman biasanya telah dibalas oleh Allah dalam bentuk kenikmatan selama di dunia.
Mengenai hal itu, Muamar memberikan logika mengenai balasan atas amal perbuatan seseorang di akhirat nanti. Beliau menyampaikan, "Surganya Allah itu hanya untuk yang meyakini Allah sebagai Tuhannya, kalau kalian punya Tuhan lain, ya silakan minta surga ke Tuhan yang lain," tuturnya.
Menghadapi takdir yang terasa pahit, kunci utama bagi setiap Muslim adalah senantiasa menjaga prasangka baik (husnuzan) agar hati tetap damai dalam menghadapi segala ujian. Dengan meyakini bahwa setiap kesulitan menyimpan hikmah dan merupakan bagian dari kasih sayang Allah untuk menaikkan derajat hamba-Nya, kita dapat melangkah maju tanpa harus terbebani oleh rasa iri atau kecewa terhadap ketetapan-Nya. (Khofifah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....