Melalui Sekolah Kohati, HMI-Wati Kuatkan Peran Intelektual Perempuan
- 20 Apr 2026 16:04 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Wati Cabang Purwokerto menggelar kegiatan Sekolah Kohati pada Sabtu pagi di Kantor Bakesbangpol Banyumas. Kegiatan ini mengangkat tema “Wanita dalam Perspektif Islam” sebagai upaya memperkuat kesadaran, intelektualitas, dan peran strategis perempuan di ruang publik.
Hadir sebagai narasumber, Desi Natalia, yang merupakan praktisi radio sekaligus Dosen Luar Biasa Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa perempuan dalam Islam memiliki posisi setara secara kemanusiaan dengan laki-laki, serta berperan sebagai subjek perubahan, bukan sekadar objek sosial.
Menurut Desi, kemuliaan perempuan dalam Islam tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan. Ia juga menyoroti pentingnya prinsip tauhid, keadilan (‘adl), dan konsep khalifah yang menempatkan perempuan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Desi menekankan urgensi penguasaan fiqhunnisa atau fikih perempuan sebagai bentuk kesadaran diri dan perlindungan dari berbagai miskonsepsi yang berkembang di masyarakat. Ia menyebut, rendahnya literasi keagamaan perempuan kerap memunculkan bias gender serta stigma sosial yang tidak berdasar.
“Perempuan harus memiliki kemandirian spiritual dan intelektual, tidak bergantung sepenuhnya pada tafsir orang lain. Literasi agama menjadi kunci untuk membebaskan diri dari ketidaktahuan,” ujarnya.
Dalam sesi materi, juga dibahas aspek praktis terkait fikih perempuan, seperti haid, nifas, wiladah, dan mustahadhah yang berkaitan langsung dengan sah atau tidaknya ibadah. Materi ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus pemahaman keagamaan peserta.
Selain itu, Desi turut mengaitkan materi dengan realitas perempuan masa kini, khususnya dalam bidang media, public speaking, dan dunia akademik. Ia menilai masih banyak perempuan yang memiliki potensi intelektual tinggi, namun belum berani tampil dan menyuarakan gagasannya.
“Perempuan harus memiliki suara. Ketika perempuan berilmu berani berbicara, maka di situlah perubahan sosial bisa dimulai,” tegasnya.
Kegiatan Sekolah Kohati ini juga menjadi ruang refleksi bagi HMI-Wati dalam menghadapi tantangan patriarki dan bias gender yang masih terjadi. Melalui semangat Insan Cita, peserta didorong menjadi perempuan yang sadar akan peran, kritis terhadap ketidakadilan, serta berani tampil sebagai pemimpin.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang membahas persoalan praktis perempuan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus penguatan kepercayaan diri dalam berorganisasi dan berdakwah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....