Pick Me Culture: Kenapa Kita Haus Validasi dari Lawan Jenis?
- 20 Apr 2026 13:16 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Istilah pick me girl belakangan ini seringkali terdengar di kalangan Generasi Z. Pick me merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana seseorang berusaha tampil berbeda untuk mendapatkan validasi dari lawan jenis. Meskipun seringkali ditambahkan imbuhan girl, istilah pick me sebenarnya bisa terjadi pada siapapun, baik untuk perempuan maupun laki-laki.
Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Psikologi UMP, Dzikria Afifah Primala W. S. PSi., M.A., dalam Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto. Ia juga menambahkan bahwa seseorang dengan perilaku pick me ternyata tidak selalu narsistik, namun mereka tetap memiliki keinginan untuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda, yakni dengan mengambil keputusan yang berlawanan dengan mayoritas gendernya meskipun itu bukanlah suatu hal yang Ia sukai.
Hal ini dilakukan semata-mata untuk validasi yang diinginkannya. Self-esteem atau harga diri memegang peranan penting dalam menimbulkan gejala pick me. Oleh karena itu, perasaan insecure atau kepercayaan diri yang rendah juga dapat mempengaruhi timbulnya perilaku pick me.
“Sama diri sendiri aja gak sayang artinya salah satu faktor yang menyebabkan si-pick me ini muncul ya kita gak senang dengan diri kita sendiri,” ucap Dzikria
Menurutnya, seseorang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung merasa tidak nyaman akan dirinya. Oleh karena itu, mereka mencari penerimaan dari orang lain agar merasa dirinya diterima oleh orang-orang pilihannya.
Lingkungan sekitar dan media sosial juga dapat menjadi pemicu perilaku pick me akibat tekanan untuk terlihat sempurna dan berbeda. Namun, tidak semua orang yang berbeda berarti memiliki perilaku pick me. Berusaha menjadi orang lain, memaksa perasaan yang tidak nyaman, dan berharap dipilih merupakan tiga hal yang bisa digunakan untuk mendeteksi perilaku pick me.
Perilaku pick me bisa menyebabkan ketidakjujuran pada diri sendiri dan orang lain. Hal ini tentunya dapat membuat seseorang terjebak dalam kebohongan mereka yang terus berkembang. Pada akhirnya, mereka akan bertemu dengan titik dimana mereka merasa lelah, terlebih lagi jika tujuan validasi tidak tercapai.
Hal yang ditakutkan adalah hilangnya jati diri dan identitas asli mereka. Selain itu, perilaku pick me juga bisa memunculkan isu lain seperti perilaku people pleaser yang dapat membuat mereka tunduk kepada orang lain.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya kesadaran akan potensi diri. Menyadari kelebihan dan kekurangan serta niat untuk belajar dan berkembang dapat membantu menghindari perilaku ini. Dengan mengetahui potensi diri, seseorang dapat mengetahui skill yang bisa mereka asah dan juga mengetahui branding yang sesuai dengan dirinya.
“Adanya fenomena pick me ini sih harapannya temen-temen bisa lebih aware dan lebih semangat lagi untuk cari aku tuh uniknya dimana sih gitu, kelebihan ku cocok di peran apa, aku cocok di lingkungan yang seperti apa gitu,” ujar Dzikria
Kesadaran dan evaluasi adalah langkah awal untuk mengatasi perilaku pick me. Menyadari bahwa kita mungkin menjadi bagian dari fenomena ini dan menghentikan kebiasaan tersebut merupakan kunci untuk keluar dari perilaku ini. Selain itu, evaluasi terhadap diri sendiri dapat membantu kita menentukan apakah perilaku sebelumnya hanya didasari oleh keinginan validasi atau memang sudah menjadi bagian dari diri sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....