Tradisi Mudik Lebaran: Bukan Sekadar Pulang Kampung

  • 27 Mar 2026 06:51 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Tradisi mudik sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap menjelang hari raya, jutaan orang melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan tahunan, tetapi sesuatu yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam sudut pandang psikologi, mudik bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan emosional. Ada keterikatan antara seseorang dengan kampung halaman yang dikenal sebagai secure attachment atau kelekatan yang aman. Keterikatan ini membuat seseorang tetap merasa memiliki “rumah” untuk kembali, meskipun sudah lama merantau.

Mudik juga menjadi cara untuk kembali mengenal identitas diri. Selama tinggal di perantauan, seseorang sering kali beradaptasi dengan lingkungan baru hingga sedikit menjauh dari budaya asalnya. Dengan tradisi mudik ini mengingatkan kita kembali ke identitas budaya kita, sehingga mudik menjadi momen refleksi diri.

Namun, di balik makna tersebut, mudik tetap membutuhkan persiapan yang matang. Dari sisi teknik, jumlah pemudik yang besar membuat perjalanan berpotensi padat dan melelahkan. Oleh karena itu, kesiapan fisik dan kondisi kendaraan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Selain itu, pengaturan waktu perjalanan dan istirahat juga menjadi kunci agar perjalanan tetap aman.

Kondisi fisik dan mental selama perjalanan tidak boleh diabaikan. Kelelahan dapat memicu risiko di jalan, sehingga pemudik diimbau untuk tidak memaksakan diri. Beristirahat secara berkala dan menjaga konsentrasi menjadi langkah penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Prinsip keselamatan harus tetap diutamakan dibanding keinginan untuk cepat sampai tujuan.

“Dan ternyata mudik ini sangat bagus sekali untuk kesejahteraan psikologis, dengan catatan asal semua happy dan mungkin diawali dengan meningkatkan imunitas tubuh gitu ya. Jangan lupa istirahat, tidur yang cukup, makan makanan yang bergizi, itu dulu gitu. Dan selamat mudik dan selamat bertemu dengan keluarga tercinta,” ujar Nia Anggri Noveni, S.PSi., M.A - Dosen Fakultas Psikologi UMP, dalam siaran Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto.

Secara keseluruhan, mudik juga memiliki dampak positif bagi kondisi seseorang. Bertemu keluarga, kembali ke lingkungan yang akrab, serta mengenang masa lalu dapat memberikan rasa nyaman dan bahagia. Hal ini menjadikan mudik sebagai momen pemulihan dari rutinitas yang padat di perantauan. (Dwinanda)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....