Lapar Mata saat Berbuka: Ancaman Sampah Makanan dan Ujian Pengendalian Diri
- 10 Mar 2026 15:22 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto : Fenomena “lapar mata” saat menjelang waktu berbuka puasa sering kali berujung pada tersisa makanan yang tidak termakan. Padahal, perilaku menyisakan makanan bukan sekadar masalah finansial, melainkan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan dan ujian terhadap ibadah puasa itu sendiri.
Secara antropologis, dahulu lapar mata adalah respon alamiah manusia untuk bertahan hidup, namun di masa modern hal ini seharusnya bisa dikendalikan. Kebutuhan kalori harian tidak semestinya dilampiaskan dengan makan sebanyak-banyaknya saat berbuka yang justru dapat mengganggu ibadah selanjutnya.
Terkait dampak lingkungan, sisa makanan sebagai "luka bagi bumi" karena menyumbang persentase sampah tertinggi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Berdasarkan fakta di lapangan, sekitar 40% isi TPA adalah sampah organik atau sisa makanan yang berkontribusi pada pemanasan global melalui penumpukan gas.
“Bayangkan kalau ada satu juta orang berpikiran seperti itu, sisa sedikit itu tidak masalah, itu akan menjadi masalah di penumpukan gas di TPA dan jangka panjang bagi anak cucu kita,” tegas Rahman L Alfian, S.Pd., M.Ant., dosen FUAH UIN Saizu Purwokerto, dalam dialog Café Ramadan Pro 2.
Dari sisi religi, menyisakan makanan dianggap sebagai kegagalan dalam melewati ujian puasa yang sesungguhnya. Ujian sejati saat puasa muncul ketika kita sudah diperbolehkan makan, apakah kita mampu tetap menahan diri atau justru menjadi berlebihan.
Islam sendiri melalui Surah Al-A'raf ayat 31 telah memperingatkan manusia agar tidak berlebihan dalam makan dan minum karena Allah tidak menyukai hal tersebut.
Praktik mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh harus diterapkan agar esensi puasa tercapai. Masyarakat diimbau untuk membeli makanan secukupnya atau berbagi dengan orang lain jika porsi yang dibeli ternyata berlebihan. (Dwinanda)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....