Moderasi Beragama: Imlek sebagai Jembatan Harmoni di Banyumas
- 25 Feb 2026 19:19 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada tahun 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Dalam program Special Talk bertajuk "Wujud Moderasi Beragama dalam Perayaan Imlek" pada Selasa (10/2), rohaniwan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Purwokerto, Wen Shi Budi Rohadi, S.T., menekankan pentingnya memaknai Imlek sebagai jembatan toleransi lintas iman.
Budi Rohadi menjelaskan bahwa Imlek bagi umat Khonghucu merupakan hari raya keagamaan yang sarat dengan nilai teologis, bukan sekadar perayaan budaya etnis Tionghoa. Ia meluruskan kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat, menegaskan bahwa rangkaian ritual dari H-7 hingga H+14 merupakan bentuk refleksi diri dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Tahun ini, perayaan Imlek memiliki keunikan tersendiri karena berdekatan dengan bulan suci Ramadhan. Sebagai bentuk nyata moderasi beragama, komunitas umat Khonghucu di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto melakukan penyesuaian agenda.
Puncak perayaan Cap Go Meh yang biasanya identik dengan kirab budaya keliling kota, tahun ini tidak digelar seperti biasanya. Kegiatan tersebut akan dikemas dalam bentuk acara internal di lingkungan klenteng guna menghormati umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.
"Kami akan menyelenggarakan pertunjukan Liong dan Barongsai dalam format 'Ngabuburit Bersama' pada 3 Maret mendatang. Ini adalah bentuk penghormatan kami agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah puasa, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat umum untuk tetap menikmati hiburan budaya," ujar Budi Rohadi.
Moderasi beragama dalam Imlek di Banyumas juga terlihat dari akulturasi budaya, seperti penyajian Lontong Cap Go Meh yang merupakan perpaduan kuliner Tionghoa dan lokal. Selain itu, keterlibatan aktif berbagai elemen masyarakat dan instansi pemerintah, seperti Kementerian Agama, dalam kegiatan bakti sosial dan pembersihan tempat ibadah menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang untuk bekerja sama.
Budi Rohadi berpesan kepada generasi muda agar tidak hanya terfokus pada euforia perayaan, tetapi memahami nilai kemanusiaan yang melampaui batas agama. Diharapkan, momentum Imlek tahun ini dapat terus merajut keharmonisan dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk menjaga suasana damai di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
"Kita boleh berbeda dalam jalan ibadah, namun kita harus tetap satu dalam kemanusiaan," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....