Hakikat Keberkahan, Kualitas Amal yang Melampaui Sekadar Formalitas

  • 24 Feb 2026 08:25 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Bertambahnya kebaikan atau ziadatul khair menjadi standar utama apakah hidup seseorang sungguh diberkahi atau hanya berjalan tanpa adanya makna. Hal inilah yang disampaikan oleh Ustaz Dr. Shofiyulloh, M.H.I dalam Syiar Ramadan Pro 1, yang menyoroti bahwa banyak orang mengejar hasil akhir tanpa memedulikan makna di baliknya.

“Ketika kita tidak memiliki nilai barokah, maka hidup kita ini ibarat hidup yang kosong, tanpa arti, tanpa makna, dan tanpa substansi yang jelas,” ujar beliau.

Dalam beribadah, keberkahan tidak bisa hanya diukur dari terpenuhinya rukun dan syarat secara formal, melainkan dari dampak yang nyata tertinggal dalam perilaku. Shalat dan puasa yang diberkahi sudah seharusnya dapat mendorong perubahan diri yang lebih positif.

Mengenai hal ini, beliau menjelaskan, “Kita melakukan shalat belum tentu dikatakan mempunyai keberkahan jika ziadatul khair atau bertambahnya kebaikan setelah shalat itu belum terwujud dalam kehidupan nyata.” lanjutnya. Ibadah yang sesungguhnya yakni mampu menjadi penangkal perbuatan buruk dan sebagai penggerak dalam hal kebaikan.

Dalam hal mencari nafkah, kejujuran dalam berproses sangat memengaruhi keberkahan rezeki. Proses yang kurang baik bisa memutus roda keberkahan itu. “Sedikit tidak apa-apa, tetapi dilakukan dengan jujur, memperhatikan sisi kehalalan dan ketoyiban, maka di situ akan semakin baik,” tuturnya.

Dengan menyebarkan ilmu bermanfaat dapat menjadi salah satu jalan utama untuk meluaskan dampak keberkahan yang tak terputus oleh waktu. Ustaz Sofiullah menjabarkan bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan satu dari tiga amalam yang pahalanya mengalir terus meskipun seseorang teslah meninggal dunia. “Ilmu itu kalau kemudian disebarluaskan, itu jelas punya manfaat besar dan kita akan mendapati keberkahan itu,” pungkasnya. (Khofifah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....