Menggali Lebih dalam Hakikat Puasa di Bulan Ramadan

  • 24 Feb 2026 07:16 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Berbicara soal filsafat, dalam hal ini berarti membahas sesuatu yang filosofis, hakikat dan tentang suatu hal. Salah satu yang dapat kita gali hakikat dan maknanya pada saat bulan Ramadan ini, yaitu puasa. Tentu, puasa sendiri juga mempunyai hakikat dan maknanya.

Program Café Ramadan Pro 2 RRI Purwokerto bersama Bayu Dwi Cahyono, S,Pd.I., M.Pd, Dosen FAI UMP membahas tema “Filsafat Puasa di Bulan Ramadan”. Kali ini, kita diajak untuk lebih dalam memaknai dan mengetahui hakikat puasa di bulan Ramadan itu sendiri.

Bayu Dwi Cahyono menyampaikan bahwa puasa adalah transformasi diri untuk menjadi lebih baik. Ia juga menambahkan kalau puasa tidak hanya dilakukan oleh umat manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan.

“Contohnya kayak gini, ketika yang sering kita ambil filosofinya, ya adalah ulat. Ulat itu kan dia berpuasa menjadi kepompong, kemudian sebelum dia tumbuh menjadi kupu-kupu yang bisa terbang berawal dari hewan yang hanya bisa merambat gitu, yang hanya bisa kluket-kluket gitu ya di atas daun, kemudian dia harus berpuasa, bertransformasi diri, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang bisa terbang bebas ke udara. Seperti itu, artinya puasa ini harusnya digunakan untuk merubah diri kita yang belum baik menuju kesempurnaan,” ujarnya.

Manusia sendiri mempunyai akal pikiran dan hawa nafsu, hal ini menjadi suatu posisi di yang mana manusia sendiri lebih tinggi derajatnya dari hewan dan lebih rendah dari malaikat, sebab hewan tidak punya akal pikiran dan malaikat tidak punya hawa nafsu.

Dengan adanya hawa nafsu tersebut, manusia bisa saja sewaktu-waktu terjerumus melakukan maksiat-maksiat yang dapat menurunkan derajatnya. Maka dari itu, supaya tidak terjerumus pada maksiat-maksiat yang dapat merugikan diri manusia, salah satunya adalah dengan berpuasa yang dapat meningkatkan derajat manusia untuk lebih dekat dengan Allah Swt.

Puasa sendiri bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu. Menahan pikiran, menahan mulut, menahan pendengaran, serta menahan mata dari perbuatan-perbuatan yang menjurus pada maksiat. Demikianlah hakikat dan makna puasa.

Kita, sebagai umat Muslim di bulan Suci Ramadan ini hendaknya memaksimalkan itu semua, bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi berusaha menaikkan derajat untuk lebih dekat dengan Allah Swt. (Helmalia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....