Green Ramadan: Meningkatkan Kualitas diri, Menyelamatkan Lingkungan
- 18 Feb 2026 15:00 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto : Bulan Ramadan merupakan momentum bagi umat muslim dalam meningkatkan aspek spiritualitas, penyucian jiwa, serta kualitas diri. Hal ini diwujudkan dengan usaha menahan diri, mengontrol, dan meregulasi emosi. Namun, terkadang ada satu hal yang sering dilupakan, yaitu budaya konsumtif yang menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri dan lingkungan.
Dalam Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto bersama Uswatun Hasanah, S.Psi.,M.A Dosen Fakultas Psikologi UMP yang membahas tema “Menyongsong Green Ramadan, Perspektif Psikologi”. Dalam pembahasan kali ini, pendengar diajak untuk menyadari perilaku konsumtif yang diakibatkan oleh kontrol diri yang kurang baik yang berdampak pada keseimbangan lingkungan dari sisi psikologi melalui Green Ramadan.
“Budaya konsumtif saat bulan Ramadan nyatanya menjadi suatu hal yang tidak dapat dipungkiri. Kurangnya pengendalian atau kontrol diri menjadi pemicu utama hal ini terjadi. Contoh kecilnya, yaitu membeli takjil dengan jumlah banyak, tetapi kebutuhan tubuh tidak sebanyak itu, hingga pada akhirnya terbuang sia-sia kemudian menjadi limbah,” ujar Uswatun.
Dalam psikologi sendiri terdapat istilah Self Regulation atau pengendalian diri, yaitu kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan perilaku secara jangka panjang. “Ya, puasa itu bener-bener mengajarkan kita bahwa gak semua keinginan, nafsu itu harus dituruti. Dalam psikologi ada juga istilahnya nih, Mas, namanya delay of gratificatin. Jadi, kita tunda dulu, nih kepuasan yang berhubungan dengan kematangan emosi. Pastinya delay of gratification juga berkaitan dengan namanya ketahan diri, dan bagaimana cara kita mengambil keputusan dengan bijak, seperti itu,” jelasnya.
Pengendalian diri sangat penting dilakukan saat kita berpuasa. Di tengah-tengah lingkungan dengan krisis ekologisnya, kontrol diri menjadi penyelamat diri dan lingkungan.
Uswatun mengungkapkan, Green Ramadan tidak hanya sebagai slogan, tetapi dapat menjadi kerangka transformasi. “Bagaimana kesalehan ritual itu bisa dipertautkan dengan namanya kesadaran ekologis. Jadi, kalo dalam perspektif psikologi, Green Ramadan itu adalah upaya menyelaraskan tiga hal, Mas, ada nilai, kemudian identitas, dan juga namanya perilaku,” jelasnya.
Ketika spiritualitas tidak ditekankan pada amanah, rohmah, dan tidak berlebih-lebihan, pada realitanya kita akan terperangkap dalam budaya konsumtif tersebut.
Pada akhirnya, Green Ramadan adalah titik balik umat Muslim, bukan sekadar menahan haus dan lapar, tetapi menahan hawa nafsu kita terhadap sifat rakus. Tentunya, hal ini bukan hanya memperbaiki kualitas diri, tetapi pengendalian diri melalui Green Ramadan menjadi ajang dalam menyelamatkan lingkungan. (Helmalia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....