Filosofi Penerangan Hidup dalam Tradisi Imlek
- 17 Feb 2026 13:51 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Dalam rangka Perayaan Ulang Tahun Imlek ke-2577 Kongzili, para penganut Agama Khonghucu berbondong-bondong mempersiapkan alat-alat peribadatan untuk proses persembahyangan di Klenteng. Dalam kepercayaannya, alat-alat peribadatan tersebut dipercayai memiliki makna dan filosofinya yang berbeda-beda.
Hal tersebut disampaikan oleh Rusmanan, seorang relawan di Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto. Ia menjelaskan terdapat beberapa alat peribadatan dari ajaran Tri Dharma yang meliputi 3 aliran yang berbeda (Buddhisme, Khonghucu, dan Taoisme).
| Baca juga: Ramadhan Vibes |
“Iya, ada Lilin dan Dupa (Hio). Lalu ada tempat sembahyang. Ada juga kertas sembahyang, namanya beda-beda. Ada yang namanya Hu—itu biasanya seperti jimat yang ditempel di rumah. Ada juga kertas yang bentuknya menyerupai uang-uangan untuk dikirim ke leluhur”, ujarnya saat diwawancarai oleh RRI Purwokerto.
Selain itu, juga terdapat altar yang merupakan meja persembahyangan di dalam Klenteng. Alat-alat ini memiliki makna dan filosofinya masing-masing yang dipercayai oleh para penganut agama Khonghucu.
Salah satu alat ibadah yang familiar dengan agama Khonghucu adalah lilin/lentera. Menurutnya, cahaya lilin/lentera memiliki filosofi sebagai penerangan kehidupan.
| Baca juga: Makna Makanan Khas Imlek |
“Ada Lentera minyak yang harus selalu nyala. Maknanya sebagai penerangan kehidupan. Istilahnya, agar kita hidup di dunia ini selalu diberikan jalan yang terang”, jelasnya.
Lilin yang digunakan oleh penganut Agama Khonghucu, khususnya dalam tradisi Imlek biasanya memiliki ukuran yang berbeda-beda, dari terkecil hingga terbesar. Tentunya perbedaan ukuran ini juga berpengaruh pada harga lilin tersebut.
Perbedaan ukuran lilin ini juga dipercayai memiliki makna yang berbeda. Lilin yang besar sering dikaitkan dengan rasa syukur berlimpah dan harapan untuk memperoleh penerangan hidup yang terus menyala dalam jangka waktu yang lama.
| Baca juga: Imlek Jadi Momentum Berlomba dalam Kebaikan |
“Kalau menurut pandangan saya, itu kembali ke kemampuan dan keyakinan masing-masing. Ada lilin kecil yang harganya terjangkau, ada juga lilin raksasa yang harganya jutaan rupiah. Lilin yang besar sekali itu bisa nyala sampai satu tahun penuh. Biasanya diganti saat Tahun Baru Imlek berikutnya”, ujarnya.
Terakhir, ia menyampaikan harapannya untuk Perayaan Tahun Baru Imlek kali ini. Dalam keragaman budaya dan agama yang ada di Indonesia, ia memilih untuk tetap memohon kebaikan untuk seluruh umat beragama.
“Kalau soal perhitungan Shio, mungkin orang lain punya hitungan yang lebih detail soal kecocokan. Tapi kalau harapan saya secara umum saja: semoga kita semua di dunia ini diberikan kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang lancar. Yang punya masalah semoga cepat selesai, dan yang sakit segera sembuh. Pokoknya doa-doa yang baik untuk semua”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....