Kebiasaan Menonton saat Makan terhadap Daya Fokus Mahasiswa

  • 13 Feb 2026 07:11 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto : Kebiasaan makan sembari menonton video Youtube, film, atau konten lainnya telah menjadi fenomena yang sering ditemukan atau tidak asing di kalangan mahasiswa. Aktivitas multitasking ini sering dianggap sekadar pengisi waktu, namun di balik kenyamanan psikologisnya, hal tersebut memicu dampak buruk bagi kesehatan, terutama terhadap daya fokus, baik dalam konteks akademik maupun kesadaran saat makan (mindful eating).

Otak dipaksa memproses dua tugas yang rumit secara bebarengan, harus menafsirkan informasi visual dan audio dari tontonan, sembari memproses isyarat sensorik yang berhubungan dengan rasa, tekstur, dan aroma.

Kebiasaan distracted eating ini berawal dari kebutuhan psikologis, terutama mahasiswa yang tinggal sendiri di kos. Bagi Revalia, kebiasaan menonton saat makan sudah ia mulai sejak SMA. Salah satu tontonan favoritnya adalah serial kartun Upin dan Ipin.

“Kalau makan sendirian tanpa nonton tuh terasa sepi dan otak mikir kemana-mana, overthinking,” jelasnya. Tontonan baginya sudah seperti “teman” untuk melawan kebosanan agar ia merasa ditemani.

Pengalaman nan senada juga dialami oleh Anisa, yang telah memulai kebiasaan ini semenjak SMP. Seiring berjalannya waktu, pilihan tontonan Anisa berubah, dari kartun anak, beralih video cerita seperti Nadia Omara. Ia mengaku merasa sedih dan sendiri jika makan dalam keheningan total. “Kalo makan sendiri nggak ngapa-ngapain itu kayak sedih aja gitu, nggak ada yang nemenin, jadi mencari mencari teman dari video itu gitu kayak lebih biar ada temannya aja,” tuturnya.

Kebutuhan psikologis tersebut membuat Anisa kini lebih selektif, untuk mencari tontonan yang bermanfaat saat makan. Kebiasaan ini hanya dilakukan saat makan sendiri, khususnya di kos atau di rumah. Jika makan bersama teman atau keluarga mereka lebih memilih untuk mengobrol. Durasu menonton pun bervariasi, berkisar dari minimal 15 menit hingga rata-rata 40 menitan.

Masalah utama dari kebiasaan menonton saat makan yaitu hilangnya daya fokus yang berdampak pada kontrol diri, seperti ketika fokus teralih ke layar, otak kehilangan kesadaran terhadap isyarat sensorik terhadap rasa, tekstur, dan aroma makanan. Menurut sumber kesehatan, kurangnya konsentrasi ini menyebabkan sulit mengontrol jumlah makanan yang masuk ke mulut, yang memicu pola makan tidak bisa berhenti mengunyah. Kemudian juga berdampak pada kecepatan makan yang bervariasi.

Walaupun Revalia merasakan kecepatan makannya tidak berubah, namun Anisa menemukan hasil yang berbeda, “Nggak lebih cepat, sih. Malah jadi lebih lambat ... dan bisa lebih banyak juga karena makannya secara perlahan, jadi perut itu nggak kaget,” ucapnya. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa proses makan yang terganggu dapat memperpanjang durasi makan dan secara tidak sadar meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi, karena sinyal yang dikirim ke otak menjadi lambat.

Terlalu asyik menonton hingga tidak hati-hati saat mengunyah dan menelan makanan juga memicu tersedak. Menurut para ahli, gangguan pola makan pun dapat meningkatkan asam lambung. Selain itu, dapat meningkatkan risiko obesitas, dan cenderung mengonsumsi junkfood serta camilan tidak sehat lainnya.

Meskipun tujuannya untuk mengusir rasa sepi, kebiasaan menonton saat makan menciptakan multitasking yang menguras daya fokus. Dampak terbesarnya adalah hilangnya kesadaran makan dan berpotensi meningkatkan risiko kesehatan. Dengan kesadaran bahwa multitasking ini mengganggu fokus, mahasiswa perlu memisahkan waktu makan sebagai waktu fokus tunggal, mematikan layar, dan berlatih mindful eating untuk mengembalikan kontrol atas daya konsentrasi. (Khofifah)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....