FORSA Banyumas: Toleransi di Tengah Modernisasi

  • 05 Feb 2026 08:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Kesalahpahaman antar generasi kerap muncul di tengah arus modernisasi yang terus berkembang. Untuk merespons hal tersebut, Forum Persaudaraan Lintas Iman (FORSA) Banyumas mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menumbuhkan sikap saling memahami dan saling menghormati dalam keberagaman. Hal ini dibahas dalam Dalam Special Talk Spada Pro 2 RRI Purwokerto beberapa hari lalu.

Musmuallim dari Komunitas Forum Persaudaraan Lintas Iman (Forsa) Banyumas menyampaikan bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang perlu dipertentangkan. Sebagai manusia yang beriman kepada Tuhan, perbedaan justru harus dipahami sebagai bagian dari ketetapan Ilahi. “Perbedaan itu sudah diskenariokan oleh Tuhan agar manusia saling mengenal dan saling memahami,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Banyumas hidup dalam lingkungan yang majemuk, baik dari sisi budaya maupun agama. Kondisi tersebut menjadi takdir sosial yang menuntut toleransi dalam menyikapi perbedaan.

Senada dengan itu, Slamet Raharjo dari Forsa Banyumas menuturkan bahwa sikap saling menghormati dapat diwujudkan dengan cara memelihara perbedaan sekaligus menjaga hati. Dalam perspektif Hindu, ia menjelaskan konsep Tri Hita Karana yang menekankan pentingnya hidup harmonis agar manusia dapat merasakan kebahagiaan. “Hidup ini terbentuk dari perbedaan, dan perbedaan itu saling mengisi,” jelasnya.

Ia juga mengulas konsep Tat Twam Asi, yang bermakna bahwa dalam diri setiap manusia terdapat esensi yang sama. Karena itu, membenci orang lain sama halnya dengan membenci diri sendiri.

FORSA Banyumas sendiri merupakan Forum Persaudaraan Lintas Iman yang berdiri sejak 2017 dan berpusat di Klenteng Pasar Wage Purwokerto. Forum ini bergerak di bidang edukasi, literasi, dan kemanusiaan dengan fokus menyemai nilai perdamaian dan toleransi, terutama di kalangan generasi muda.

Musmuallim menambahkan bahwa konflik atas nama perbedaan muncul karena individu belum mampu meneladani dan menafsirkan ajaran agamanya secara utuh. Ia mengutip prinsip dalam Islam, “Lakum dinukum waliyadin” yang artinya “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” sebagai dasar saling menghormati.

Menutup diskusi, para narasumber menegaskan peran strategis generasi muda sebagai agen perdamaian. Dialog lintas iman dan ruang diskusi terbuka dinilai penting untuk membangun saling pengertian. Dengan saling mengenal dan menempatkan diri pada posisi orang lain, toleransi bukan hanya menjadi wacana, tetapi praktek nyata dalam kehidupan bermasyarakat. (Nisrina)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....