Ramadan Momentum Perubahan Diri dan Peristiwa Besar Islam

  • 04 Feb 2026 07:58 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Bulan Ramadan sejatinya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi momentum perubahan dalam diri setiap muslim. Ramadan hadir sebagai bulan pembentukan karakter, penguatan spiritual, sekaligus bulan yang sarat dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam yang menandai perubahan arah peradaban dunia.

Ustaz Hendro Kuncoro, S.Pt dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 menjelaskan bahwa sejarah mencatat ramadan kerap menjadi saksi lahirnya kemenangan dan transformasi besar umat Islam. Salah satu peristiwa monumental adalah penaklukan Andalusia di Spanyol yang dipimpin oleh panglima Islam, Thariq bin Ziyad, pada 28 Ramadan tahun 92 Hijriyah. Peristiwa ini terjadi di penghujung Ramadan, setelah melalui perjuangan panjang, dan menjadi simbol bahwa kesabaran, keyakinan, serta keteguhan iman mampu melahirkan perubahan besar.

“Peristiwa lain yang tak kalah penting adalah penaklukan Romawi Timur atau Konstantinopel yang berlangsung pada tahun 463 Hijriyah. Kemenangan ini menandai runtuhnya kekuasaan Romawi dan membuka lembaran baru dalam sejarah Islam. Selain itu, pertempuran Hittin yang dipimpin oleh Shalahuddin Al-Ayyubi juga terjadi di bulan Ramadan dan berujung pada penaklukan kembali Baitul Maqdis untuk kedua kalinya,” kata ustaz Hendro.

“Ramadan juga menjadi saksi pertempuran Ain Jalut, ketika pasukan Islam yang dipimpin oleh Saifuddin berhasil menghentikan laju pasukan Tartar setelah sebelumnya Baghdad jatuh ke tangan mereka,” lanjutnya.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan yang istimewa, bukan bulan kemunduran, melainkan bulan kekuatan dan kebangkitan. Dalam konteks ibadah, Ramadan juga berkaitan erat dengan peristiwa besar lainnya, seperti Perang Badar. Menariknya, perintah sholat telah ditetapkan pada bulan Sya’ban, sementara Ramadan menjadi bulan ujian berupa puasa dan perjuangan. Islam memberikan keringanan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, namun banyak sahabat Nabi yang tetap memilih berpuasa di tengah kondisi perang, menunjukkan keteguhan iman dan kedisiplinan spiritual.

Peristiwa Fathul Makkah juga terjadi di bulan Ramadan. Dalam kondisi haus dan lelah selama perjalanan dari Madinah ke Makkah, Rasulullah SAW dan para sahabat tetap menunjukkan keteladanan luar biasa. Kemenangan ini bukan hanya penaklukan wilayah, tetapi penaklukan hati, ditandai dengan pemaafan dan penghapusan dendam.

Lebih dari itu, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebuah peristiwa luar biasa yang menjadi pusat perubahan umat manusia. Nuzulul Qur’an diperingati pada malam 17 Ramadan, ketika wahyu pertama diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dengan Surat Al-‘Alaq. Al-Qur’an diyakini sebelumnya diturunkan dari Lauhul Mahfudz, kemudian disampaikan secara bertahap kepada Rasulullah. Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang semakin menegaskan keistimewaan bulan ini.

Dengan berbagai peristiwa besar tersebut, Ramadan seharusnya menjadi ruang refleksi dan perubahan diri. Tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah secara ritual, tetapi juga membangun kesadaran sosial, keteguhan prinsip, serta semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ramadan mengajarkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari perubahan diri, dan sejarah telah membuktikan bahwa bulan suci ini adalah bulan lahirnya transformasi. (Silma)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....