Kelola Sampah, Selamatkan Generasi Masa Depan
- 19 Jan 2026 06:59 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Sampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang paling serius di dunia saat ini. Jumlah sampah yang dihasilkan terus meningkat setiap tahun, dan jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengelola sampah dengan bijak dan bertanggung jawab, agar kita dapat menyelamatkan generasi masa depan dari dampak negatif sampah.
Dalam Podcast Tematik RRI Purwokerto hadir Mujibur Rahman dari PT. Greenprosa Adikara Nusa dan Supriyatno, S.T Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas
“PT. Greenprosa mulai beroperasi di Banyumas pada 2017. Namun, saat ini fokus pada kegiatan yang berada di wilayah JABODETABEK. Green prosa ini hadir karena kondisi darurat sampah hingga krisis TPA di Banyumas. Pemerintah daerah mengajak berbagai elemen untuk ikut melakukan aksi nyata dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ungkap Mujibur Rahman.
Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata sampah paling banyak sekitar 40% berasal dari sisa makanan. Kondisi tersebut mendorong fokus pada pengelolaan sampah organik. Black Soldier Fly (BSF) menjadi solusi yang efektif dalam menyelesaikan masalah sampah organik.
BSF mampu menghabiskan sampah 20 kali lipat lebih cepat. Proses ini juga menghasilkan pupuk dan sumber protein. BSF seringkali dianggap sebagai career disease atau pembawa penyakit. Padahal, anggapan tersebut tidak tepat. BSF hidup hanya untuk bereproduksi, tidak makan dan minum. BSF jantan akan mati setelah bereproduksi, sedangkan BSF betina akan mati setelah bertelur. Oleh sebab itu, BSF tidak menularkan penyakit. Selain itu, BSF mampu mencegah terjadinya methane avoidance.
“Kondisi pengelolaan sampah di Banyumas saat ini mengalami perkembangan cukup baik. Pada 2018 sempat terjadi penumpukan sampah di berbagai titik. Saat ini lebih dari 70% sampah telah terolah. Green prosa juga membangun ekonomi berkelanjutan berbasis masyarakat. Sehingga, respon yang diberikan masyarakat cukup positif,” lanjut Mujibur.
Model yang digunakan untuk saat ini adalah inti plasma. Masyarakat berperan menjadi mitra pengelola maggot. Perusahaan membeli maggot hasil budidaya dan mitra mendapatkan sampah yang sudah dipilah sebagai bahan baku.
Green prosa menggunakan teknologi Black Soldier Fly biokonversi. Metode ini tidak hanya berorientasi pada perusahaan saja, namun juga membangun kegiatan inti plasma. Misalnya, di JABODETABEK dan Banyumas, terdapat mitra budidaya maggot. Sebelumnya mitra mengambil sampah organik di TPST atau TPS. Kemudian, cara ini membantu TPS dengan organiknya yang sudah terkelola dan mitra tidak perlu lagi memilah sampah organik. Mitra pembudidaya maggot kemudian disetorkan ke Green prosa. Sehingga, terjadi transaksi jual beli. Selain itu, pupuk yang dihasilkan didistribusikan ke petani.
Masyarakat sering menganggap bahwa BSF menimbulkan bau. Padahal, bau muncul ketika sampah datang dan bukan berasal dari prosesnya. Kemudian, tahapan selanjutnya berlangsung di TPA BLE di Lahar Kaliori. Output olahan diproses di TPS3R. Sampah anorganik dipilah untuk menjadi bahan RDF lalu diangkut ke TPA. Sehingga, hasil RDF akan dimanfaatkan Offtaker sebagai bahan bakar alternatif.
Sampah organik akan diolah menjadi bubur sampah (bursam). Bursam dapat dimanfaatkan sebagai media maggot dan kompos. Media maggot ini menjadi produk dari KSM setempat.
“Tantangan utama berada pada tahap sosialisasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus melakukan edukasi. Sosialisasi dilakukan melalui media sosial dan tatap muka. Berbagai elemen juga dilibatkan, termasuk generasi muda, perguruan tinggi, dan komunitas lingkungan,” kata Supriyatno.
Generasi muda, khususnya Gen Z, memainkan peranan penting dalam pengelolaan sampah. Aktivitas lingkungan justru ditopang oleh generasi muda. Generasi muda dinilai lebih menguasai tren dan akses digital sehingga berperan menjadi pengingat di tingkat masyarakat.
Narasumber juga mengajak generasi muda untuk lebih proaktif dalam pelestarian lingkungan. Misalnya, dengan membentuk atau bergabung dengan komunitas yang ada. Selain itu, generasi muda akan menjadi penerus pelestarian lingkungan dalam 5 hingga 10 tahun kedepan. Selain itu penggunaan plastik perlu diukur dan membatasi konsumsi agar tidak menambah timbulan sampah. (Dian)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....