Kain Jumputan: Warisan Budaya yang Harus Dilestarikan
- 06 Des 2025 07:57 WIB
- Purwokerto
KBRN, Purwokerto : Kain jumputan adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan keindahan yang tinggi. Teknik pewarnaan kain jumputan telah digunakan sejak zaman dahulu dan masih dipraktikkan hingga saat ini. Namun, dengan perkembangan zaman, kain jumputan mulai terancam oleh modernisasi dan industrialisasi.
Kain jumputan adalah sebuah teknik pewarnaan kain tradisional yang sederhana namun penuh nilai seni, Jumputan sendiri berasal dari kata "jumput" yang berarti mengambil atau mencubit kain sedikit demi sedikit dengan tangan, lalu dipelintir bagian atas dan bawahnya untuk menghasilkan pola yang khas.
Di banyumas sendiri terdapat sebuah tempat usaha menyediakan jumputan sebagai media kreasi, salah satu nya adalah Toko Bruwun Alas, toko ini memiliki keunikan tersendiri dengan menjadikan tokonya sebuah media pemberdayaan ekonomi bagi para lanjut usia (lansia) di Banyumas. Alasan toko ini mempartisipasikan lansia sebagai media pemberdayaan adalah karena teknik jumputan ini sangat mudah dipelajari oleh semua kalangan, baik anak muda maupun lansia.
"Tidak perlu sekolah khusus, cukup dilatih saja sudah bisa membuat karya yang bagus," jelas Sumiyati, pemilik Toko Bruwun Alas.
Dalam proses produksi, Toko Bruwun Alas menggunakan kain katun berwarna putih dan pewarna alami maupun sintetis. Pewarna sintetis yang digunakan adalah jenis Remasol, karena dinilai memiliki daya ikat warna yang lebih kuat dan proses fiksasi yang lebih cepat dibandingkan jenis pewarna lainnya seperti Napthol dan Indigosol. Dan menggunakan kain yang harus berwarna putih agar pewarnaannya terlihat jika menggunakan warna yang dari pewarna berbeda dengan warna kain.
Antusiasme dari lansiapun sangat tinggi. Berkat kolaborasi dengan yayasan pelatihan lansia di Banyumas, pelatihan teknik jumputan berjalan lancar dan diminati. Selain itu, Toko Bruwun Alas membuka peluang bagi masyarakat umum yang ingin belajar dan bergabung, dengan menyediakan fasilitas edukasi di Desa Notog, Patikraja, Banyumas. Di lokasi ini, masyarakat bisa belajar beragam keterampilan mulai dari seni batik, ecoprint, fashion, kerajinan tangan (craft), hingga pengolahan makanan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....