Aksesibilitas Jadi Kunci Wujudkan Kemandirian Tunanetra
- 17 Sep 2026 14:12 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto — Aksesibilitas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kemandirian penyandang tunanetra dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kemudahan mengakses fasilitas publik, pendidikan, pekerjaan hingga layanan informasi menjadi bagian penting untuk menciptakan lingkungan yang inklusif.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI) Kabupaten Banyumas, Dwi Kurniasih saat hadir dalam program Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Purwokerto belum lama ini. Menurut Dwi dalam perspektif pemenuhan hak penyandang disabilitas, aksesibilitas bukan hanya berkaitan dengan tersedianya fasilitas fisik.
“Jadi bagi kami selalu penyandang tunanetra, akses terhadap informasi, teknologi, transportasi, pelayanan publik serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial juga memiliki peran penting, karena lingkungan yang aksesibel memungkinkan penyandang tunanetra melakukan berbagai aktivitas secara lebih mandiri, tanpa selalu bergantung kepada bantuan orang lain, “ Tutur Dwi
Selain itu lanjut Dwi kemandirian disabilitas juga berkaitan erat dengan kepercayaan diri. Ketika seseorang mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya, kemampuan untuk mengambil keputusan dan menjalankan aktivitas secara mandiri dapat berkembang. Karena itu menurut Dwi, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi tunanetra.
“Jadi bagi kami, bantuan kepada penyandang disabilitas seperti kami, sebaiknya diberikan sesuai kebutuhan dan tidak dilakukan dengan asumsi bahwa setiap penyandang tunanetra selalu membutuhkan pertolongan, sikap yang tepat adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan aktivitas secara mandiri, sekaligus menawarkan bantuan ketika memang diperlukan, “ Tegas Dwi
Selain aksesibilitas, lanjut Dwi, perkembangan teknologi juga membuka peluang yang semakin luas bagi penyandang tunanetra. Berbagai teknologi asistif dapat membantu mereka mengakses informasi, berkomunikasi, belajar, bekerja, hingga menggunakan layanan digital.
Menurut Dwi, upaya mewujudkan kemandirian tunanetra membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, organisasi masyarakat hingga keluarga.
“Jadi mudahnya begini mas, bagi sekolah dan institusi pendidikan itu perlu memastikan peserta didik tunanetra memperoleh akses pembelajaran yang sesuai, sementara dunia kerja juga perlu membuka kesempatan yang setara berdasarkan kompetensi dan kemampuan yang dimiliki, “ Ujar Dwi.
Dwi Kurniasih juga mengajak masyarakat melihat tunanetra bukan dari keterbatasannya, melainkan dari kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan ketika didukung lingkungan yang aksesibel.
“Intinya adalah, bahwa inklusivitas itu bukan berarti memberikan perlakuan khusus secara berlebihan kepada penyandang disabilitas, tetapi memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang setara untuk beraktivitas, berkembang dan berkontribusi di tengah masyarakat,” Pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....