Pendidikan Inklusif, Membangun Sekolah yang Mendukung Penyandang Disabilitas

  • 17 Sep 2026 14:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto— Pendidikan inklusif bukan sekadar memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk bersekolah bersama peserta didik lainnya. Lebih dari itu, pendidikan inklusif perlu memastikan setiap peserta didik merasa diterima, dihargai, aman secara psikologis, serta mendapatkan kesempatan berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya.

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto Prof. Dr. Nuraeni.,M.Si, Psi saat menjadi narasumber Ruang Disabilitas Pro 1 RRI Purwokerto belum lama ini menyatakan, dari perspektif psikologi, lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk rasa percaya diri dan perkembangan sosial anak. Karena itu, keberadaan teman disabilitas di sekolah tidak seharusnya dipandang hanya dari keterbatasannya, tetapi juga dari kemampuan, minat, dan potensi yang dimilikinya.

“ Kami melihat bahwa salah satu tantangan pendidikan inklusif bukan hanya persoalan akses fisik, tetapi juga bagaimana membangun lingkungan sosial yang bebas dari stigma dan perlakuan diskriminatif, “ Kata Prof. Nur’aeni.

Ia menambahkan ketika seorang anak disabilitas mendapatkan perlakuan berbeda secara negatif, diejek, dikucilkan, atau dianggap tidak mampu sebelum diberikan kesempatan, kondisi tersebut dapat memengaruhi pengalaman sosial dan psikologisnya di sekolah. Sebaliknya, lingkungan yang menerima keberagaman dapat membantu anak membangun rasa aman, memiliki hubungan sosial yang sehat, dan mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuan dirinya.

“ Jadi pendidikan inklusif itu membutuhkan perubahan cara pandang seluruh warga sekolah, guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki cara belajar dan kebutuhan yang berbeda. Hal ini tentu sejalan dengan penekanan Kemendikdasmen bahwa dalam pendidikan inklusif, pembelajaran perlu menyesuaikan kemampuan dan kebutuhan peserta didik., “ Tambahnya.

Prof. Nur’aeni menyatakan teman sebaya juga memiliki peran yang sangat penting. Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa perbedaan kemampuan bukan alasan untuk menjauhkan seseorang dari lingkungan sosial. Interaksi sederhana seperti bermain bersama, bekerja dalam kelompok, berdiskusi, atau saling membantu dalam kegiatan sekolah dapat menjadi pengalaman belajar sosial yang berharga bagi seluruh peserta didik.

“ Kami selalu tekankan bahwa anak lainnya juga belajar mengenai empati, penerimaan terhadap perbedaan, kerja sama, serta kemampuan menghargai orang lain, sehingga pendidikan inklusif bukan hanya tentang bagaimana sekolah menyesuaikan diri terhadap kebutuhan teman disabilitas, tetapi juga bagaimana sekolah membangun budaya yang memungkinkan semua anak tumbuh bersama, “ Ujarnya.

Prof. Nur’aeni menyarankan dalam praktiknya, sekolah dapat membangun pendidikan inklusif melalui beberapa langkah. Di antaranya meningkatkan pemahaman guru mengenai kebutuhan peserta didik disabilitas, menyediakan fasilitas yang aksesibel, menggunakan metode pembelajaran yang fleksibel, serta membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan tenaga pendukung.

“ Yang tidak kalah penting adalah membangun budaya sekolah yang tidak memberi label kepada anak berdasarkan keterbatasannya, karena setiap anak perlu diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan dan mengambil bagian dalam kehidupan sekolah.,”Pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....