Memahami Makna Kafir agar Tidak Mudah Menghakimi

  • 16 Sep 2026 12:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Istilah kafir dalam ajaran Islam memiliki beragam makna dan perlu dipahami secara tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun sikap mudah menghakimi. Hal tersebut disampaikan Ustaz K.H. Daliman, M.Pd dalam dialog interaktif Mutiara Pagi RRI Purwokerto, Selasa (15/9/2026). Menurutnya, secara garis besar istilah kafir merujuk kepada orang yang mengingkari atau tidak percaya kepada keesaan Allah dan kenabian Nabi Muhammad SAW.

Ustaz Daliman menjelaskan, dalam Islam terdapat istilah kafir kecil atau kufur ashghor yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam. Beberapa contohnya antara lain kufur nikmat, mencela nasab, meratapi kematian secara berlebihan, hasad atau dengki, serta memusuhi sesama muslim. Sementara kafir besar atau kufur akbar berkaitan dengan hal-hal yang menurut penjelasannya dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, seperti mendustakan Al-Qur'an, mengingkari keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW, serta menyembah selain Allah.

"Istilah kafir memang mempunyai banyak makna dan istilah ini memang sering disalahartikan karena pemahaman yang kurang luas, sehingga dengan demikian orang mudah untuk menghukumi orang lain sebagai orang yang kafir," ujar Ustaz Daliman. Karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak sembarangan memberikan label kafir kepada orang lain. Menurutnya, kondisi dan latar belakang seseorang perlu dilihat terlebih dahulu melalui tabayun dan pendekatan yang baik.

Dalam kehidupan bermasyarakat, Ustaz Daliman juga mengingatkan pentingnya berlaku adil kepada orang yang berbeda keyakinan, tetap menjaga akidah dan ibadah, serta menghormati perjanjian yang telah disepakati. Ia menilai perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi alasan untuk menimbulkan permusuhan. Sikap saling menghormati diperlukan karena masyarakat hidup dalam kondisi yang majemuk.

"Jadi dengan tema kita pada pagi hari ini tentang kafir itu merupakan istilah yang mengandung bermacam-macam makna, mari kita pahami dengan bijaksana dengan arif ya, bahwa istilah kafir itu bukan istilah yang seram," katanya. Ia juga menjelaskan bahwa dalam kehidupan sosial, masyarakat dapat menggunakan istilah nonmuslim sebagai bentuk etika dalam menyebut orang yang berbeda agama.

Ustaz Daliman menegaskan, pemahaman yang baik terhadap istilah keagamaan perlu diiringi dengan sikap bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, masyarakat yang hidup dalam keberagaman harus pandai menempatkan diri agar tidak menimbulkan permusuhan atau menyakiti perasaan orang lain. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....