Menjadi Umat yang Dicintai Nabi, Dirindukan Syafaat

  • 14 Sep 2026 08:50 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID. PURWOKERTO – Rasulullah Muhammad SAW merupakan teladan bagi seluruh umat manusia. Mencintai Nabi tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui perilaku dan kesungguhan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Dialog Interaktif Mutiara Pagi RRI Purwokerto, Jumat (11/9/2026), bersama Ustaz Enjang Burhanuddin Yusuf dengan tema “Menjadi Umat yang Dicintai Nabi, Dirindukan Syafaat”.

Ustaz Enjang menjelaskan, kecintaan Rasulullah kepada umatnya begitu besar. Hal itu antara lain tergambar dalam Surah At-Taubah ayat 128, yang menyebutkan bahwa Rasulullah merasa berat atas penderitaan umat dan sangat menginginkan keselamatan mereka. “Jangan sampai kita ini tidak menyambut cintanya Rasulullah kepada kita sebagai umatnya. Jangan sampai kita membiarkan cinta Rasulullah kepada kita bertepuk sebelah tangan,” kata Ustaz Enjang.

Menurutnya, salah satu bentuk kasih sayang Rasulullah kepada umat adalah adanya kemudahan dalam menjalankan syariat. Dalam kondisi tertentu, umat Islam diberikan keringanan, seperti jamak dan qasar ketika melakukan perjalanan, serta kemudahan dalam pelaksanaan salat bagi orang yang tidak mampu berdiri. Ustaz Enjang menegaskan, ajaran Islam tidak dimaksudkan untuk memberikan beban di luar kemampuan manusia. “Syariat tidak mau menjadikan kita orang-orang yang berat melakukannya. Bahkan salat bagi yang tidak mampu melakukannya dengan berdiri, karena mungkin keseleo, mungkin kakinya sakit, boleh dilakukan sambil duduk,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga niat dan terus berupaya melakukan kebaikan. Menurutnya, hadis Nabi menjelaskan bahwa seseorang yang berniat melakukan kebaikan tetapi belum sempat mengerjakannya tetap mendapatkan satu pahala. Sementara ketika kebaikan tersebut benar-benar dilakukan, pahalanya dapat dilipatgandakan. Sebaliknya, orang yang berniat melakukan keburukan tetapi tidak jadi melakukannya mendapatkan catatan kebaikan, sedangkan keburukan yang benar-benar dilakukan dicatat sebagai satu dosa.

Dalam dialog tersebut, Ustaz Enjang juga menjawab pertanyaan pendengar mengenai seseorang yang tertidur hingga melewatkan salat Jumat atau salat wajib. Ia menjelaskan, apabila benar-benar tertidur dan tidak disengaja, kondisi tersebut termasuk uzur yang dapat diterima. Namun, ketika telah terbangun atau mengingatnya, salat tetap harus segera dilaksanakan. Selain itu, ia menjelaskan perbedaan antara ibadah mahdah yang tata caranya telah ditentukan syariat dan ibadah ghairu mahdah yang memiliki ruang lebih luas, termasuk dalam memperbanyak zikir selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.

Menutup dialog, Ustaz Enjang mengajak umat Islam menyambut kecintaan Rasulullah dengan memperbanyak kebaikan dan berusaha istiqamah menjalankan ajaran agama. “Mari menjadi umat Nabi yang benar-benar menyambut cintanya dengan penuh kegembiraan, menyambut kasih sayangnya dengan dada yang begitu lapang, agar kemudian kita termasuk menjadi umat yang kelak mendapatkan syafaat, pertolongan dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....