Memanfaatkan Peluang Digital untuk Membangun Bisnis

  • 05 Sep 2026 08:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Perkembangan teknologi digital membuka semakin banyak peluang bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi, termasuk membangun bisnis. Berbagai platform digital tidak hanya digunakan untuk berbelanja dan berkomunikasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk, membuat konten, melakukan riset pasar, hingga mengembangkan usaha.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Ekonomi Digital Pro 1 RRI Purwokerto dengan tema Mengubah Peluang Digital Menjadi Bisnis, yang menghadirkan Susetio, S.E., selaku Instruktur Digital Marketing dari Rumah Digital Sidakangan. Ia membagikan berbagai cara untuk mengungkap peluang digital dan mengubahnya menjadi bisnis.

Menurut Susetio, ekonomi digital sebenarnya bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Penggunaan smartphone untuk berbelanja melalui e-commerce, mencari informasi di internet, memesan makanan secara daring, hingga menggunakan layanan transportasi berbasis aplikasi merupakan bagian dari aktivitas ekonomi digital.

“Ekonomi digital itu semua aktivitas ekonomi mulai dari produksi, kemudian distribusi, kemudian konsumsi,” jelas Susetio.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa masyarakat telah menjadi bagian dari ekosistem ekonom digital. Perkembangan ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat yang ingin memulai usaha dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia.

Bagi calon pelaku usaha yang masih bingung untuk menentukan bisnis, Susetio menjelaskan bahwa langkah awal bukan sekadar mencari produk untuk dijual. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa proses tersebut dapat dimulai dengan membangun empat terhadap calon konsumen. Setelah mengetahui kebutuhan mereka, pelaku usaha dapar memberikan solusi melalui sebuah produk atau layanan.

“Orang bisnis itu nyari masalah. Kita cari masalahnya orang dulu,” ungkapnya.

Setelah menemukan masalah, pelaku usaha perlu menentukan segmen dan target pasar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melihat aspek demografis, geografis, hingga perilaku konsumen. Dengan demikian, produka yang dibuat dapat disesuaikan dengan kelompok konsumen yang menjadi sasaran.

Tidak berhenti pada penentuan target, pelaku usaha juga perlu memiliki positioning yang membedakan produknya dari pesaing. Menurut Suse, melakukan pengamatan terhadap bisnis lain diperbolehkan selama produk yang dikembangkan tetap memiliki nilai dan pembeda.

“Amati, tiru, modifikasi. Tapi juga harus punya value, punya pembeda,” katanya.

Sebelum memproduksi barang dalam jumlah besar, pelaku usaha perlu melakukan riset pasar dan pesaing. Riset dapat dilakukan dengan memanfaatkan informasi yang tersedia di internet maupun melakukan pengamatan secara langsung.

Salah satu contoh yang diberikan adalah ketika seseorang ingin membuka usaha makanan. Calon pelaku usaha dapat mencari informasi mengenai pesaing di wilayah yang dituju, mulai dari produk yang dijual, harga, pilihan menu, hingga kemasan. Informasi tersebut kemudian dianalisis untuk menemukan peluang yang belum banyak dimanfaatkan.

Hasil riset selanjutnya dapat digunakan untuk membangun ide bisnis, membuat prototipe atau minimun viable product (MVP), serta melakukan sampling. Produk tidak disarankan langsung diproduksi dalam jumlah besar sebelum mendapatkan validasi dari pasar.

“Jadi jangan produksi banyak dulu di awal,” ujar Susetio.

Tahapan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kerugian sekaligus memastikan produk yang ditawarjan benar-benar sesuai dengan kebutuhan, keinginan, dan permintaan konsumen.

Perkembangan ekonomi digital juga membuat tren bisnis dapar berubah dengan cepat. Karena itu, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan tren ketika menetukan produk. Susetio menekankan pentingnya melakukan riset secara berkelanjutan untuk memahami perubahan perilaku konsumen. Menurutnya, produk yang sedang popular belum tentu dapat bertahan dalam jangka panjang apabila pelaku usaha tidak memahami kebutuhan konsumennya.

“Jadi intinya tuh riset. Emang harus riset,” tegasnya.

Selain riset, pelaku usaha juga perlu melakukan marketing intelligence, yaitu mengumpulkan informasi mengenai konsumen dan kondisi pasar. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui perubahan selera, kebutuhan, dan keinginan pelanggan sehingga bisnis dapat terus melaukan inovasi.

“Jadi jangan asal kita, wah kita produk bikin ayam geprek pasti nih orang itu suka terus, belum tentu,” jelas Susetio.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Ia menekankan bahwa pelaku usaha sebaiknya tidak hanya berfokus pada produk yang dibuat, tetapi juga memahami apa yang diinginkan konsumen.

“Jangan jatuh cinta juga pada produk kita sendiri, tapi jatuh cintanya kepada orang lainnya,” katanya.

Setelah mengetahui target konsumen, pemilihan platform digital juga perlu disesuaikan. Pelaku usaha tidak harus menggunakan seluruh media sosial sekaligus. Platform yang digunakan sebaiknya dipilih berdasarkan karakteristik target pasar dan produk yang ditawarkan.

Sebagai contoh, produk fashion hijab yang menyasar remaja dapat dipasarkan melalui TikTok, baik sebagai seller maupun sebagai program afiliasi. Sementara itu, produk digital yang menyasar dosen atau guru dapt dipromosikan melalui Instagram yang dinilai lebih sesuai dengan target tersebut.

Dengan menentukan platform berdasrkan target pasar, strategi pemasaran dapat menjadi lebih terarah. Pelaku usaha juga dapat mengombinasikan promosi organic maupun berbayar sesuai kebutuhan.

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artficial Intelligience (AI) turut memberikan peluang baru bagi pelaku usaha. Menurut Susetio, AI dapat dimanfaatkan dalam berbagai tahapan bisnis, salah satunya untuk melakukan riset pasar.

AI dapat digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai besaran pasar suatu produk, baik dalam lingkup nasional maupun wilayah tertentu. Informasi tersebut dapat membantu calon pelau usaha untuk mengetahui apakah terdapat pasar yang cukup sebelum memutuskan untuk menjalankan bisnis.

Selain riset, AI juga dapat membantu proses produksi konten. Pelaku usaha dapat memberikan perintah atau prompt untuk membuat skripp konten, kemudian mengembangkannya menjadi gambar maupun video.

“Bagaiman akita bisa memanfaatkan AI untuk kita melakukan aktivitas bisni,” ujarnya.

Pemanfaatan AI juga dapat membantu suatu pelaku usaha yang mengalami keterbatasn waktu dalam membuat konten. Bahkan, menurut Suse, tekonologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu sekaligus menghasilkan sejumlah konten dalam satu hari, termasuk untuk kebutuhan pemasaran melalui platform seperti TikTok.

AI juga dapat digunakan untuk menganalisis iklan, menilai kualitas konten maupun live streaming, serta mengidentifikasi bagian yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengoptimalkan aktivitas bisnis.

Meski tekonologi memberikan banyak kemudahan, keberhasilan dalam bisnis digital tidak terjadi secara instan. Suse menekankan bahwa konsistensi merupakan salah satu hal yang penting dalam menjalankan pemasaran digital.

“Konten itu nyawanya digital marketing,” katanya.

Pelaku usaha perlu konsisten dalam memproduksi konten dan menjalankan strategi pemasaran. Keinginan untuk memperoleh hasil secara cepat justru dapat membuat pelaku usaha mengabaikan proses penting seperti riset dan validasi produk.

Menurut Susetio, pelaku usaha perlu memahami bahwa membangun bisnis membutuhkan proses. Produk yang baru diluncurkan belum tentu langsung menghasilkan omzet besar. Karena itu, proses riset, pengujian, evaluasi, dan perbaikan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, peluang digital dapat dimanfaatkan oleh siapa saja selama memiliki kamauan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan. Sise menekankan bahwa modal awal untuk memasuki dunia bisnis digital tidak selalu berupa uang, tetapi juga dapat berupa kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.

Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan adalah dengan membuat konten dan memasarkannya melalui platform digital. Masyarakat juga dapat mencoba model bisnis seperti affiliate, dropshipper, maupun reseller yang tidak selalu membutuhkan persediaan produk dalam jumlah besar.

Namun, membangun bisnis tidak cukup hanya dengan menemukan peluang. Pelaku usaha perlu memahami masalah konsumen, melakukan riset, menentukan target pasar, menciptakan produk yang memiliki nilai pembeda, menguji produk, serta menyusun strategi bisnis.

”Cari apa masalahnya orang, terus kita carikan solusinya. Kita itu memberikan solusi untuk mereka,” tuturnya.

Setelah produk diluncurkan, proses tersebut tidak berhenti. Evaluasi dan marketing intelligience tetap diperlukan agar bisnis mampu mengikuti perubahan kebutuhan konsumen dan bertahan dalam jangka panjang.

Pemanfaatan teknologi digital dan AI pada akhirnya bukan sekadar tentang mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga bagaimanan teknologi tersebut digunakan untuk membaca peluang, memberikan solusi, dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. (Tiara Chelsea)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....