Merdeka Sejati Dimulai dari Membebaskan Diri dari Belenggu Ego

  • 17 Agt 2026 09:08 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID., PURWOKERTO – Momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang perjuangan para pahlawan dan merayakan kemerdekaan secara simbolis. Lebih dari itu, kemerdekaan dapat dimaknai sebagai upaya setiap individu membebaskan dirinya dari berbagai belenggu yang justru muncul dari dalam diri.

Hal tersebut menjadi bahasan dalam program Mutiara Pagi RRI Purwokerto, Senin (17/8/2026), dengan tema “Merdeka-ku; Dari Belenggu ke-Akuan dan Kehidupan”. Program tersebut menghadirkan KH. Mintaraga Eman S., Lc., M.A. sebagai narasumber.

Dalam pengantarnya, tema tersebut mengajak masyarakat melihat kembali makna kemerdekaan. Perayaan kemerdekaan tidak semestinya berhenti pada simbol-simbol fisik, sementara manusia masih terbelenggu oleh ego, kesombongan, hawa nafsu, maupun kecemasan terhadap masa depan. KH. Mintaraga Eman menekankan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga kemampuan manusia membebaskan hati dan pikirannya dari belenggu keakuan. Kesadaran tauhid, kerendahan hati, serta kemampuan berserah diri kepada ketetapan Allah menjadi fondasi penting untuk memperoleh ketenangan jiwa.

Menurutnya, tantangan kehidupan modern membuat manusia semakin mudah terjebak dalam keinginan untuk menunjukkan pencapaian, mendapatkan pengakuan, dan merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Kondisi tersebut dapat semakin kuat ketika seseorang menjadikan media sosial sebagai ruang untuk membandingkan kehidupan dirinya dengan kehidupan orang lain.

Fenomena tersebut juga menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam Mutiara Pagi, khususnya mengenai batas antara mensyukuri nikmat dengan munculnya sifat ujub atau membanggakan diri secara berlebihan.

Kemerdekaan dari belenggu keakuan juga relevan dengan persoalan kecemasan yang banyak dirasakan masyarakat. Tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan dapat membuat seseorang terus-menerus hidup dalam rasa takut. Dalam perspektif keagamaan, ketenangan hati menjadi bagian penting untuk menghadapi kondisi tersebut tanpa terjebak dalam kecemasan yang berlebihan.

Selain itu, kesombongan dan keengganan menerima kebenaran dinilai dapat menjadi penghalang seseorang untuk mencapai kemerdekaan diri. Bahkan, sikap tersebut berpotensi memicu konflik, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang media sosial.

Persoalan lainnya adalah kecenderungan manusia hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan kekhawatiran terhadap masa depan. Penyesalan yang terus dipelihara maupun prasangka buruk terhadap sesuatu yang belum terjadi dapat menciptakan belenggu psikologis yang membuat seseorang sulit menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Karena itu, kemerdekaan diri juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan. Materi memang dibutuhkan dalam kehidupan, tetapi ketika keinginan terhadap materi dan kenikmatan dunia mulai mendikte seluruh arah kehidupan, manusia justru dapat kehilangan kebebasan batinnya. "Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika manusia tidak lagi diperbudak oleh ego, keinginan untuk dipuji, ketakutan terhadap masa depan, maupun dorongan hawa nafsu. Dengan mendekatkan diri kepada Allah, membangun kerendahan hati dan belajar menerima ketetapan-Nya, seseorang dapat menemukan ketenangan yang tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan duniawi, ujar KH. Mintaraga Eman S., Lc., M.A."

Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan demikian dapat menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi. Jika dahulu para pahlawan berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, maka perjuangan manusia saat ini juga dapat diarahkan untuk membebaskan diri dari belenggu internal yang menghambat kehidupan.

Kemerdekaan bukan sekadar tentang mengibarkan bendera dan merayakan hari bersejarah. Kemerdekaan juga tentang bagaimana seseorang mampu menaklukkan dirinya sendiri, mengendalikan ego dan hawa nafsu, serta menjalani kehidupan dengan hati yang lebih tenang, rendah hati, dan berserah diri kepada Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....