Ketersedian Pupuk dan Digitalisasi Distribusi Angkat Produktivitas Petani Cila

  • 26 Apr 2026 08:36 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Cilacap—Peningkatan produksi padi terus dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari PT. Pupuk Indonesia, hingga Kementerian Pertanian. Salah satu contoh keberhasilan peningkatkan produksi padi terjadi di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap.

Musim panen kali ini menjadi bukti nyata. Produktivitas padi di desa tersebut melonjak hingga 9,5–10 ton per hektare, angka yang tergolong tinggi bagi petani setempat. Meningkatnya hasil panen ini salah satunya mereka, dari distribusi pupuk yang semakin pasti dan mudah diakses.

Salah satu petani di Desa Mernek Tolhah, merasakan langsung dampaknya. Dari lahan dua hektare miliknya, hasil panen meningkat signifikan dibanding musim sebelumnya. Ia menyebut ketersediaan pupuk yang stabil sebagai faktor kunci.

“Hasil panen bagus karena pupuk selalu ada. Jadi perawatan tanaman juga maksimal,” ujarnya.

Tak hanya soal ketersediaan, biaya produksi juga ikut terpangkas. Penurunan harga pupuk subsidi sejak Oktober 2025 hingga sekitar 20 persen membuat petani lebih leluasa dalam mengelola kebutuhan tanam. Dengan kebutuhan pupuk yang cukup besar,urea sekitar 75 kilogram per hektare dan Ponska hingga 400 kilogra.

Peningkatan hasil panen ini tak lepas dari peran teknologi. Hadirnya aplikasi IPubers menjadi titik balik dalam sistem distribusi pupuk subsidi. Aplikasi yang dikembangkan Kementerian Pertanian bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) ini mengubah cara kios dan petani berinteraksi dengan rantai pasok pupuk.

Jika sebelumnya pemesanan dilakukan secara manual dan sulit dipantau, kini semuanya bisa dilakukan lewat genggaman.Pemilik kios pupuk UD Berkah Azzam Puji Riyani, merasakan perubahan tersebut sejak mulai menggunakan IPubers pada April 2026.

“Sekarang lebih praktis. Tinggal pesan lewat aplikasi, kita bisa langsung tahu statusnya sampai pengiriman. Dulu harus manual dan tidak bisa dipantau,” jelasnya Sabtu ( 25/4/2026).

Bagi Puji, kemudahan ini bukan sekadar soal efisiensi waktu. Transparansi dalam distribusi membuatnya lebih percaya diri menjaga pasokan untuk sembilan kelompok tani yang dilayaninya. Ia bahkan memastikan stok pupuk di kiosnya tidak pernah kosong sejak mulai beroperasi.

“Kami wajib jaga stok minimal lima ton. Jadi kebutuhan petani tetap aman,” katanya.

Digitalisasi juga memperketat ketepatan sasaran distribusi. Melalui sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), data petani kini lebih akurat dan mudah diverifikasi. Cukup dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK), proses pendataan menjadi lebih cepat dan minim kesalahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....