Sekolah Inklusif, Upaya Pencegahan Kekerasan pada Anak Difable
- 22 Feb 2026 15:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto — Upaya mewujudkan sekolah inklusif, ramah anak, dan bebas kekerasan terus disuarakan di Kabupaten Banyumas. Pembahasan tersebut disampaikan dalam program Suara Difabel di RRI Purwokerto bersama Nur Aziz Asma Sangadah, S.Pd sebagai Kepala SMP Permata Hati Purwokerto beberapa waktu lalu.
Dalam pembahasan tersebut, Asma menyampaikan bahwa anak difabel masih berpotensi mengalami kekerasan di sekolah, baik kekerasan verbal, nonverbal, maupun perlakuan diskriminatif. Kekerasan tersebut kerap terjadi akibat kurangnya pemahaman tentang disabilitas yang dapat muncul dari lingkungan pendidikan maupun lingkungan sekitarnya.
“Pentingnya mewujudkan sekolah inklusif karena memang mereka bisa belajar bersama tanpa adanya diskriminasi. Kemudian saling menghargai perbedaan. Meskipun anak-anak yang ada di situ adalah anak yang berkebutan khusus dan reguler, mereka belajar bersama,” ucap Asma.
Sekolah inklusif bertujuan memberi hak pendidikan yang setara bagi seluruh anak. Termasuk anak difabel dengan kebutuhan dan karakteristik yang beragam. Asma menekankan bahwa lingkungan sekolah yang aman menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kenyamanan dan proses belajar anak.
Upaya mewujudkan sekolah inklusif juga tidak dapat dilakukan secara mandiri, sehingga diperlukan keterlibatan pihak lainnya dalam mendukung proses pendidikan anak difabel. Asma menekankan pentingnya sebuah kolaborasi antara beberapa pihak. Sinergi tersebut diperlukan agar tujuan sekolah inklusif dapat terlaksana dengan baik dan berkelanjutan.
“Kami selalu memberikan pelatihan kepada guru-guru dan anak-anak reguler. Kita berikan pengertian bahwa setiap anak itu anugerah, setiap anak itu istimewa, dan pasti ada kekurangan maupun kelebihan. Kami juga memberikan pengertian kepada orang tua. kita sampaikan di sini semuanya sama, mendapatkan pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan,” pungkas Asma. (Ninda)