Oemah Sinau Bocah Soroti Lunturnya Kearifan Lokal
- 22 Feb 2026 15:53 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto : Pembentukan Oemah Sinau Bocah dilatarbelakangi oleh kegelisahan terhadap kondisi pendidikan saat ini yang dinilai mengalami krisis mental, karakter, serta mulai menjauh dari nilai kearifan lokal. Hal ini disampaikan langsung oleh penggagas Oemah Sinau Bocah, Slamet Riyanto saat menjadi narasumber dalam Program Indonesia Cerdas RRI Purwokerto (18/2/2026) jam 10.10 WIB.
Slamet menyatakan, nilai-nilai kearifan lokal yang dulu menjadi pegangan, kini mulai tergerus oleh perubahan zaman. Ia juga mengkhawatirkan adanya fenomena ini dapat menyebabkan munculnya generasi penerus yang tumbuh tanpa karakter yang kuat. Sehingga anak-anak perlu dibekali bukan hanya kecerdasan akademik, melainkan pembentukan moral dan identitas budaya.
Selain persoalan karakter, faktor lain yang mendorong lahirnya Oemah Sinau Bocah adalah banyaknya anak yang putus sekolah atau bahkan tidak memperoleh pendidikan yang layak. Ia melihat realitas bahwa akses pendidikan berkualitas kerap berdampingan dengan kemampuan ekonomi. Layanan tambahan seperti les privat atau bimbingan belajar umumnya berbayar dan sangat sulit dijangkau keluarga dengan kondisi ekonomi menengah kebawah.
“Saya dan istri berpikir, di era sekarang anak-anak cenderung mengalami krisis mental, karakter, dan kearifan lokal. Kami tidak ingin keturunan kami tumbuh tanpa karakter. Di sisi lain, masih banyak anak putus sekolah atau kurang mendapat pendidikan layak. Pendidikan yang baik seolah hanya untuk yang mampu secara ekonomi, sementara keluarga kurang mampu kesulitan mengakses guru atau bimbingan karena biaya. Bagi kami, pendidikan kini sering hanya rutinitas berangkat dan pulang tanpa interaksi dan pembentukan karakter yang kuat. Karena itu, kami turun langsung ke desa-desa dan respon masyarakat sangat baik,” ujarnya.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Oemah Sinau Bocah hadir sebagai ruang belajar alternatif yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik formal, tetapi juga penguatan karakter dan nilai kearifan lokal. Inisiatif ini juga lahir dari pandangan bahwa perhatian pemerintah terhadap persoalan krisis karakter dan ketimpangan akses pendidikan dinilai belum maksimal, terutama di daerah pelosok. Oleh sebab itu,
Slamet juga berharap gerakan berbasis masyarakat seperti Oemah Sinau Bocah dapat menjadi pelengkap sekaligus pendorong perubahan, sehingga pendidikan tidak hanya soal formalitas, melainkan benar-benar membentuk generasi yang berdaya dan berkarakter. (Milly)