Pertamina Groundbreaking Biorefinery Cilacap Perkuat Hilirisasi Energi Nasional

  • 07 Feb 2026 08:24 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Cilacap : Pertamina menandai babak baru hilirisasi energi nasional dengan memulai groundbreaking Proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 di Kilang Pertamina Cilacap, Jumat (6/2/2026). Proyek strategis ini menjadi lompatan penting dalam agenda transisi energi Indonesia sekaligus mengukuhkan Kilang Cilacap sebagai pusat pengembangan biofuel dan hilirisasi energi hijau Pertamina.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menegaskan bahwa pengembangan Biorefinery Cilacap merupakan perjalanan panjang yang dibangun di atas fondasi kuat Fase 1. Unit eksisting kilang yang telah dikembangkan sebelumnya terbukti menjadi tulang punggung lahirnya bioavtur nasional.

Kehadiran unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) menjadi elemen kunci dalam produksi avtur berbasis kerosene yang kemudian dikembangkan menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). 

Inovasi ini menempatkan Pertamina sebagai pelaku utama dalam pengembangan bahan bakar ramah lingkungan di sektor penerbangan.

Pengembangan Biorefinery Cilacap telah dimulai sejak 2021 dan terus menunjukkan kemajuan signifikan. 

Setelah penyempurnaan unit pada 2022, Pertamina berhasil mencatat sejarah pada 2025 dengan memproduksi SAF berbahan baku minyak jelantah melalui skema co-processing, menggunakan katalis buatan dalam negeri.

Keandalan produk SAF nasional ini telah teruji melalui serangkaian uji coba penerbangan, mulai dari pesawat CN-235-200, Boeing 737 milik Garuda Indonesia, hingga Airbus A320 Pelita Air. Capaian tersebut sekaligus membuka jalan menuju tahap komersialisasi.

Pada 2026, Pertamina menargetkan produksi 27 ribu kiloliter SAF, dengan bahan baku minyak jelantah. Komitmen penyerapan dari Pelita Air menjadi sinyal kuat kepercayaan industri penerbangan terhadap kualitas bioavtur karya anak bangsa.

“Tahun 2026 ini, Pertamina menargetkan produksi SAF sebesar 27 ribu kilo liter, dengan bahan baku minyak jelantah. Kabar baiknya, telah ada komitmen offtaker dari Pelita Air, yang menandakan tingginya kepercayaan pasar terhadap produk SAF nasional,” katanya.

Keberhasilan Fase 1 kemudian dilanjutkan melalui Biorefinery Cilacap Fase 2 dengan kapasitas 6 Kilo Barrel per Day (KBPD). Fase ini dirancang untuk menghasilkan SAF dan Hydrogenated Vegetable Oil (HVO) yang ditujukan bagi pasar domestik maupun internasional.

Dengan beroperasinya dua fase tersebut, Kilang Cilacap diproyeksikan menjadi hub hilirisasi nasional, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan bioavtur di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi hijau global.

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, menambahkan bahwa proyek ini selaras dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, terutama pada pilar swasembada energi, hilirisasi industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Projek ini cukup lengkap karena merubah dari jelantah menjadi energi hijau dengan berbagai multiplayer effect, tidak hanya sebagai biofuel tapi menjadikan jelantah dari barang yang tidak berharga menjadi suatu barang yang bernilai guna," ujarnya.

Ia menjelaskan, dampak ganda lainnya yang signifikan, mulai dari pengurangan ketergantungan impor, penurunan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun, penciptaan sekitar 5.900 lapangan kerja, hingga peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 30 persen.

Dari sisi operasional, GM Kilang Cilacap Wahyu Sulistyo Wibowo menegaskan bahwa proyek Biorefinery merupakan wujud nyata penerapan ekonomi sirkular. Limbah minyak jelantah diolah menjadi energi bernilai tinggi, sekaligus memperkuat peran Kilang Cilacap sebagai salah satu Green Refinery utama Pertamina.

Ia menegaskan bahwa pengembangan Biorefinery Cilacap bukan hanya mendukung transisi energi, tetapi juga memperkokoh ketahanan energi nasional, mendorong tumbuhnya industri hijau, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar energi berkelanjutan dunia.

“Melalui proyek ini, Kilang Cilacap menghadirkan solusi ekonomi sirkular, mengubah limbah menjadi energi bernilai tinggi. Kilang Cilacap berperan sebagai salah satu Green Refinery utama, dengan dukungan teknologi dan katalis hasil karya anak bangsa yang dikembangkan oleh Pertamina,” kata Wahyu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....