Sehari di Kota Hantu Cesky Krumlov Praha
- 27 Jul 2026 08:35 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Waktu menunjukkan pukul 21.30 ketika kereta dari Dresden melambatkan lajunya di Praha Hlavni Nadrazi atau Stasiun Utama Praha dalam bahasa setempat. Suhu udara dingin saya rasakan menusuk tulang. Dari stasiun menuju hotel tempat menginap sekitar 10 menit. Mungkin karena cuaca dingin, malam itu tak terlihat banyak orang di jalan-jalan berbatu yang saya lalui. Nyatanya, jalanan ini terletak tak jauh dari pusat keramaian.
Saya sampai di bangunan kayu bercat cokelat kemerahan bertuliskan BoHo dengan jendela besar yang menampakkan lobi dan bar berpencahayaan temaram. Dari luar bangunan ini tampak hangat mengundang. Saya pikir mungkin beginilah yang diceritakan Hans Christian Andersen tentang Gadis Penjual Korek Api, ketika ia melihat ke jendela-jendela rumah yang baliknya tampak keluarga mengitari meja makan dan bersantap sambil tertawa.
Saya memasuki ruangan yang hangat di lobi hotel ini dengan sapaan, walau tanpa senyuman. Belakangan saya tahu, orang Ceko memang tak banyak senyum, walaupun mereka ramah. Saya menginap di BoHo yang merupakan bagian dari Small Luxury Hotels of the World.
Bentuk bangunannya yang klasik, namun minimalis. Berbeda dengan hotel lainnya di sekitar kota tua. BoHo hanya lima menit dari dan ke kawasan kota tua. Di sekitar ini menawarkan akomodasi di bangunan tua dengan kamar bergaya klasik karena dihiasi barang antik.
Saya dipersilakan duduk di bar yang berada di sebelah konter check-in sembari disuguhi menikmati segelas prosecco dingin oleh seorang bartender ramah. Seperti biasa, pertanyaan diawali dengan menanyakan asal dan berapa lama akan berada di Praha.
Saya kedinginan, seharian tadi Dresden bersuhu empat derajat dan Praha malam itu nol derajat. Dengan menikmati kehangatan lobi BoHo hotel, saya pun diantar ke kamar. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk membenamkan diri di kasurnya yang empuk dan selimutnya yang hangat. Sementara di luar malam semakin larut dan suhu mulai bergeser ke angka minus.
| Baca juga: Tak Ada Kepastian Musim di Negeri Belanda |
Saya akan meneruskan perjalanan ke Cesky Krumlov yang berjarak sekitar 180 kilometer ke arah selatan Praha dan sudah dekat dengan perbatasan Austria. Meninggalkan BoHo pukul 9 pagi waktu setempat, setelah melaju sekitar setengah jam, mobil memasuki semacam rest area yang memiliki gerai McDonald’s, di sini sejenak untuk istirahat, untuk ke toilet. Bisa juga untuk sejenak minum kopi. Toilet di sini gratis.
Empat puluh menit terakhir, perjalanan mulai menanjak dan menuruni perbukitan dengan padang rumput dan sungai yang menghampar. Cesky Krumlov merupakan kota abad pertengahan yang terdiri dari rumah-rumah tua dengan genteng berwarna merah bata. Julangan benteng dan gereja, serta dipercantik dengan Sungai Vltana yang mengular dan membelah kota.
Saya lihat berbagai bangunan bergaya gotik, renaisans, dan barok di sini. Kebanyakan berasal dari abad XIV hingga XVII. Dan semua selamat dari bom selama Perang Dunia I dan II, sehingga kota ini dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Unesco pada 1992.
Setelah mobil berhenti di area parkir, saya harus berjalan masuk kota dengan melewati gerbang mungil, menuruni bukit, dan melewati lorong-lorong yang mengarah ke jembatan di atas sungai. Saya kemudian membeli tiket untuk masuk museum. Sambil terus berjalan ke arah kastil, saya berpapasan dengan tak sedikit turis Asia, baik rombongan maupun perorangan seperti saya. Mereka berbicara dengan bahasa Mandarin, Jepang dan Korea. Kabarnya, di musim panas jumlah turis, terutama Asia, bila berlipat kali banyaknya.
Saya amati, konstruksi kota dan kastil Cesky Krumlov dibangun sekitar 1240, sebagai salah satu pemberhentian dalam jalur perdagangan di Bohemia. Namanya sendiri dipercaya diambil dari kata dalam bahasa Jerman, krumme aue, yang berarti padang rumput yang tak beraturan. Hal ini mungkin mengacu pada letak tempat ini yang dikelilingi perbukitan, sehingga kontur tanahnya naik turun.

Pada 1302, ketika mayoritas penghuni kota adalah warga Jerman, Cesky Krumlov dikuasai oleh keluarga Rosenberg. Kaisar Rudolf II dari Austria kemudian membeli Cesky Krumlov pada 1602 untuk diberikan kepada putranya, yang kemudian oleh Kaisar Ferdinand II diberikan lagi kepada keluarga Eggenberg, yang juga menjadi nama bir produksi setempat karena memang keluarga inilah yang pertama kali membuka pabrik bir, brewery, di Cesky Krumlov. Barulah pada 1719 hingga 1945 kota ini dikuasai oleh keluarga Schwarzenberg.
Ceko memiliki tiga minuman nasional, yaitu bir, becherovka atau minuman herbal beralkohol, dan slivovice atau brandy dari buah plum. Dua yang terakhir tidak populer bagi turis. Mereka lebih senang mencicipi bir setempat, merek yang populer adalah Eggenberg. Mereka memilih bir yang diproses secara modern, jarang memilih yang diproses seperti di abad pertengahan karena bisa sakit perut.
Jantung kota tua Cesky Krumlov berada di jalan Latran atau daratan berbentuk tapal kuda yang dikelilingi sungai dengan kastil di seberangnya. Atau untuk lebih mudahnya, Latran terentang dari jembatan Lazebnicky hingga ke gerbang Budejovicka, satu-satunya gerbang yang pernah dibangun selama 1598 hingga 1602. Kastil di suni berukuran sangat besar bagi kota semungil Cesky Krumlov, yang merupakan kastil kedua terbesar setelah kastil Hradcany di Praha.
Kastil tersebut sekarang menjadi museum yang saya lihat menyimpan berbagai barang peninggalan tiga keluarga yang pernah berkuasa di Cesky Krumlov, yaitu Rosenberg, Eggenberg, dan Schwarzenberg. Sambil mengamati bendera lambang keluarga, baju zirah, perlengkapan perang, hingga aneka perabotan dan peralatan rumah tangga, saya pun membayangkan kehidupan di kastil berabad silam.
Belakangan saya dengar, kastil Cesky Krumlov konon berhantu. Hantu yang dijuluki The White Lady atau yang dipercaya sebagai Perchta von Rosenberg, anak Ulrich II von Rosenberg. Kabarnya, dulu kerap menampakkan diri di koridor atau ruangan di kastil menjelang berbagai acara besar. Bila ia tersenyum, maka diartikan acara akan berjalanan lancar. Sedangkan bila ia tampak memegang sarung tangan hitam, biasanya akan muncul bencana atau kematian.
The White Lady terkenal sering muncul untuk melindungi dan membantu mengasuh anak-anak keluarga Rosenberg. Namun ia menghilang, begitu yang saya dengar, setelah dimarahi oleh wanita yang mengasuh anak terakhir dari keluarga Rosenberg. Lalu ada juga kisah tentang keluarga penyihir yang dibakar hidup-hidup di alun-alun kota, atau sebuah rumah yang dihantui oleh seorang laki-laki kejam yang kerap menyiksa istri dan para pelayannya.
Selain mendengarkan cerita-cerita hantu yang menurut penduduk setempat sering menampakkan diri di berbagai jalan dan rumah di Cesky Krumlov, duduk-duduk di pub atau restoran tua yang mengingatkan akan tempat minum para hobbit di kisah The Lord of the Rings, saya rasa adalah salah satu cara untuk menikmati kekunoan kota ini.
Saya naik ke puncak menara untuk menyaksikan pemandangan kota menjelang matahari terbenam. Indah sekali di atas ini. Menara kastil tidak terlalu tinggi, sekitar 86 meter, walau tangganya lumayan curam. Namun, di sepanjang naik ke puncak menara, terdapat jendela untuk mengintip pemandangan di luar. Matahari sore semakin memerahkan atap-atap bangunan di Cesky Krumlov. Puncak menara yang dapat didatangi berada di bawah menara jam. Dengan balkon melingkar, saya dapat memulihkan napas yang terengah-engah akibat menaiki tangga sambil menikmati pemandangan Cesky Krumlov dari beragam sisi.
Saya rasakan, Cesky Krumlov adalah tempat di mana seseorang bisa saja mengubah rencana mereka. Perjalanan sehari ke sini memang kurang ideal. Saya masih penasaran bagaimana wajah kota ini selepas senja, ketika kegelapan mulai menyelimuti jalan-jalan berbatu, alun-alun, dan berbagai lorong tempat rumah yang katanya menyimpan beragam kisah yang melibatkan makhluk halus. Reputasinya sebagai kota hantu memang tak mengurungkan biat saya untuk suatu hari nanti akan kembali. Dan, menginap selama satu atau dua hari.
Kawasan kota tua Praha saya rasakan masih banyak menyisakan bangunan dari abad X, yang beberapa di antaranya berfungsi sebagai hotel, restoran, dan pertokoan. Pengunjung biasanya berkerumun di sekitar astronomical clock setiap jam dan berjalan di sepanjang jembatan Charles yang saya lihat dipenuhi musisi jalanan serta seniman setempat.
Dibangun pada 1357 dan selesai pada 1390, patung-patung yang berderet pada jembatan Charles baru ditambahkan pada abad XVII. Saat menginap di BoHo, saya peroleh penjelasan, setiap Rabu dan Sabtu hotel ini menawarkan tur berjalan kaki gratis selama dua jam ke kota tua pada pukul 9.30 pagi.
Rasanya, Praha adalah juga tempat untuk menikmati konser musik klasik di berbagai lokasi menawan. Tinggal pasang mata baik-baik untuk mendapati berbagai konser berisikan informasi tentang konser-konser yang akan berlangsung. Walau begitu, saya kira, jangan tergoda membeli tiket dari calo. Datanglah langsung ke loket di venue yang bersangkutan. Bohemian Symphony Orchestra Prague kerap tampil dengan personilnya menggelar konser mini berdurasi satu jam. Dan saya sempat menikmati konser ini.
Penulis: Syarifuddin DaEng Usman
Baca juga: Mengunjungi London, Kota Glamor di Dunia
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....