Lukisan Mustafa Pasha di Museum Wina yang Angker
- 01 Jun 2026 08:33 WIB
- Pontianak
RRI CO.ID, Pontianak - Wien Stadt Museum atau Museum Kota Wina adalah bangunan yang didirikan untuk mengabadikan sejarah Kota Wina. Suatu hari saat di Eropa belum lama ini, saya mengunjunginya. Di mata saya, museum ini kalah pamor jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di Wina. Sebutlah Museum Istana Hofburg, Museum Schoenbrunn, Museum Kembar Kunshistorische dan Naturhistorische.
Berbagai museum yang saya sebut dan kunjungi tadi, itu memajang ribuan koleksi benda-benda berharga. Lukisan hingga hewan yang diawetkan. Belum lagi Museum Sisi yang menggeber cerita sedih tentang Putri Elisabeth, cucu Ratu Maria Theresa dari Kerajaan Austria. Museum-museum ini lebih mengundang rasa penasaran. Dan tentu juga kekaguman.
Wien Stadt Museum atau Museum Wina sekilas tampak berbeda dengan arsitektur museum kebanyakan. Bangunannya terlalu modern. Tidak seperti bangunan museum lain pada umumnya bergaya klasik rococo. Tentu sekali gaya bangunan Eropa pada umum.
Lokasinya terletak tepat di belakang gereja St Charles yang memiliki atap berbentuk kubah raksasa dengan banyak ornamen emas.
Saya membayar 6 Euro untuk tiket masuk. Museum ini dibagi menjadi tiga lantai. Lantai pertama adalah Wina pada masa prasejarah dan awal sejarah, atau rentang tahun 5000 SM-800 M. Lantai kedua Wina antara rentang tahun 800-1900 M. Dan lantai ketiga Wina antara rentang tahun 1900 hingga kini.
Ruang museum lantai dua ternyata jauh lebih besar daripada lantai satu. Saya memperhatikan sekat-sekat tembok kayu yang memisahkan ruang-ruang di lantai itu. Sekat-sekat ini membentuk koridor jalan bagi pengunjung. Tak jarang sekat itu dibentuk oleh lemari-lemari kayu bercorak keningratan yang berusia ratusan tahun. Kilatan cahaya tak henti-hentinya muncul dari blitz kamera pengunjung yang mengabadikan gambar per gambar.
Museum Wina ini adalah salah satu museum yang tidak terlalu konservatif dibandingkan museum Eropa lainnya yang melarang lampu flash. Atau bahkan tak memperbolehkan sama sekali pengambilan foto. Namun, di Museum Wina ini, pengunjung diperbolehkan memotret menggunakan blitz.
Sinar blitz menjadi penolong penyempurna gambar di sebagian besar museum Eropa. Museum Eropa didesain berkesan angker dengan cahaya remang-remangnya. Dan saya kira, itulah yang terjadi di Museum Wina.
Cahaya redup remang-remang membuat ruang museum makin berkesan mistis. Apalagi jika sendirian, seperti yang saya alami, di ruang tersebut. Ruang seakan-akan bernuansa magis berkat kehadiran benda-benda keramat serupa patung manusia atau lukisan wajah yang berumur 300 hingga 500 tahun.
Ruang sebesar ini hanya dinaungi tiga atau empat lampu ayun yang berkelebat-kelebat karena gerakan udara. Kelebatan itu membuat wajah-wajah dalam lukisan atau patung-patung manusia berkesan hidup dan bergerak-gerak.
Saya rasa, di lantai dualah sejarah Wina yang sesungguhnya. Di sana potret Wina tua dan pengaruh monarki Habsburg dalam perkembangan kota direkam satu per satu. Ternyata, negara secuil bernama Austria ini dulu menyimpan sejarah yang begitu besar.

Menjadi pusat imperial Hofburg, atau Habsburg, di Eropa yang wilayahnya mencakup Hungaria, Germania, Rumania, Czekoslovakia, hingga beberapa negara Balkan.
Saya melihat lukisan Maria Theresa, Ratu Austria yang digeber menjadi lukisan paling berkuasa di lantai ini. Dia seakan sangat yakin, kerajaannya akan tumbuh luas dan besar, meaki dia sudah diluluhkan bumi. Itu semua porak-poranda.
Perang Dunia Pertama di Eropa yang berangkat dari konflik Kerajaan Austria akhirnya justru menciutkan wilayah negara ini hingga seluas sepertiga Pulau Jawa. Ditambah lagi dengan Perang Dunia Kedua, semakin menderitakan wilayah Austria. Sudah kecil, menjadi semakin kecil. Perang memang tidak pernah menjadi jawaban untuk meraih kekuasaan. Konon, yang ada hanya kehilangan.
Untuk beberapa saat saya terpaku. Terpana saya memandangi bentangan maket Kota Wina di dalam balok kayu. Maket itu memperlihatkan bangunan-bangunan Winq pada era 1700-an. Saya susah membayangkan letak bangunan-bangunan itu sekarang. Semua seakan tidak pernah ada di alam realitas. Saya tersadar, semua hanya tinggal kenangan. Bangunan-bangunan yang pasti indah itu telah dilalap api bom dan roket peperangan.
Sangat mengasyikkan mencermati satu demi satu obyek di lantai dua ini, meski tanpa ada seorang pemandu. Sejenak saya berusaha menenangkan hati. Saya sadar ada sebuah lukisan manusia dan patung baju zirah tanpa isi berdiri persis di hadapan saya.
Seketika pikiran dan fantasi aneh langsung menyerbu otak. Bagaimana jika patung zirah seukuran manusia itu tiba-tiba hidup? Atau orang-orang dalam lukisan itu tiba-tiba keluar dari bingkainya? Saya ingat seperti film Night at the Museum, yanh bercerita tentang mitos benda-benda museum yang sesungguhnya bernyawa setelah malam tiba. Saya berusaha membuang jauh pikiran mengerikan itu.
Saya teringat, di dekat pintu masuk lantai dua ada beberapa figur topeng kematian atau yang biasa dikenal sebagai death mask. Death mask adalah tradisi bangsa Eropa untuk membuat cetakan topeng wajah orang-orang besar yang meninggal.
Saya begitu paranoid membayangkan patung-patung wajah kaku itu seketika terbangun dan menangisi kematian mereka. Lalu mereka mencari manusia hidup seperti saya saat di sana untuk berkeluh-kesah, menceritakan apa yang dialami dan dilihatnya setelah mati. Saya ucapkan doa taawuz berkali-kali.
Saya melihat lukisan seorang pria tua berwajah Arab. Serban yang melingkar di kepalanya adalah tipikal serban Timur Tengah. Di tengah serbannya tersemat bulu angsa yang ditempel demikian cantik. Bajunya berjenis kaftan berwarna merah. Tampak sangat mewah.
Dia dilukis dengan cara yang berbeda dibandingkan lukisan yang lain. Lukisan raja, panglima perang, atau tokoh penting biasanya dilukis dengan penuh kegagahan. Menunjukkan kesaktian, kekuatan, dan intelektualitas dengan penanda tongkat, buku, atau mahkota sebagai simbolnya.
Tapi, pria ini dilukiskan seperti kakek-kakek. Tua dan lemah. Lama-lama terlihat seperti seorang penjahat. Atau seorang pecundang. Matanya nanar, mengiaskan kegagalan luar biasa dalam hidupnya.
Pria di lukisan ini adalah Kara Mustafa Pasha. Seorang panglima perang Dinasti Turki. Kara Mustafa Pasha, dia seorang Turki, dia bukan seorang Arab. Dia seorang panglima perang khalifah Usmaniyah atau Ottoman.
Saya bergumam dalam hati, orang ini pasti punya sejarah dengan Kota Wina, sampai-sampai museum ini memajang lukisannya. Tak ada orang lain di luar tokoh Kerajaan Austria yang lukisannya dipajang di lantai ini, selain laki-laki tua berjenggot lebat ini.
Belakangan saya tahu, di mata orang Eropa, Kara Mustafa Pasha adalah seorang penakluk. Tiga ratusan tahun lalu, pasukan Islam Ottoman Turki yang menyerbu Wina dan ternyata diserbu balik dari Kahlenberg itu dipimpin oleh Kara Mustafa Pasha.
Di permukaan kanan atas lukisan itu ada tulisan dan angka 1683, tulisan tersebut adalah bahasa Jerman kuno. Ada kata grand vizier, residenz stadt Wien, Belagert, Verlusst, Morden. Panglima perang, masyarakat Kota Wina, mengepung, kehancuran, pembantaian. Dengan sedikit mengutak-atik semua itu, saya langsung tahu apa maknanya. Pelukis ingin mengatakan bahwa orang yang dia lukis ini adalah seorang panglima perang yang menggempur Wina dan mengakibatkan banyak kehancuran dan korban kematian.
Saya bergumam dalam benak, Mustafa telah menetapkan hati. Dia maju perang dengan pedang dan meriam untuk membuat Eropa berlutut di hadapannya. Namun, dia gugur di medan perang. (***)
Baca juga: Syafaruddin DaEng Usman
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....