Hungaria dan Budapest, Bertahan dengan Menjawab Tanda Tanya
- 06 Mei 2026 12:54 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Dalam sebuah kesempatan yang tentunya akan menjadi kenangan indah dalam hidup, bersama Isna istri saya, kami pada April lalu berkesempatan mengunjungi negara-negara di Eropa.
Dari beberapa negara itu, sedari Netherlands (Belanda) ke Switzerland (Swiss) sampai juga Luxembourg hingga Roma (Italia), dan tentu ada kenangan dengan Hungaria di belahan lain Eropa.
Saya membaca tentang Hungaria melalui sejumlah cerita pendek dari sastrawan terkemukanya lebih dari tiga puluh tahun lalu. Dan belakangan saya menyambangi negeri yang memiliki sastrawan serupa Dezso Kosztolanyi, Pal Szabo, Imre Dobozy dan sejumlah lainnya yang cukup familiar karya sastranya bagi saya.
Saya ingin utarakan secuplik riwayat Hungaria, sekadar untuk memberikan gambaran tentang kekhasan perjalanan masyarakat dan manusia Hungaria sekita satu milenium eksistensinya.
Manusia dan masyarakat Hungaria adalah "peninggalan" dari arus migrasi besar-besaran dari dunia Timur ke dunia Barat lebih dari sepuluh abad silam. Maka ada alasan untuk menyatakan bahwa Hungaria adalah sepotong Asia yang lebih dari seribu tahun berselang pernah tercampak di Eropa.
Peristiwa sejarah itu telah menjadikan Hungaria sebagai Timur bukan, Barat pun bukan. Seribu tahun nenek moyang mereka bermukim di daerah persilangan lalu lintas manusia aneka ragam budaya.
Berabad-abad terlibat dalam pasang surut antara pengalaman kekalahan dan kemenangan dalam perjuangan untuk bertahan hidup sebagai masyarakat dengan jatidirinya sendiri.
Pernah pula mengalami kejayaan sebagai kerajaan yang bangga akan kebesarannya, tapi pernah juga lama hidup dalam bayangan kekuatan besar yang menyeramkan dan membatasi ruang hidupnya sebagai bangsa dengan budayanya yang khas.
Juga, Hungaria seribu tahun dengan kesejarahan itu melatari pembentukan watak manusia dan masyarakat sebagaimana perwujudannya sekarang ini. Namun justru oleh silih bergantinya pengalaman hidup itulah Hungaria tampil dengan ciri khas dan daya tariknya sendiri.
Hungaria pernah meliputi wilayah yang jauh lebih luas dari sekarang. Kini Hungaria menyusut hingga seluruh wilayahnya kurang dari 100.000 kilometer saja.
Hungaria sekarang merupakan daratan yang dikelilingi oleh sejumlah negara tetangga di segala penjurunya.
Bagian timurnya berbatasan dengan Romawi dan Ukraina, bagian baratnya dengan Austria dan Slovenia, bagian selatannya dengan Kroasia dan Yugoslavia, bagian utaranya dengan Slovakia.
Sastrawan terkemuka Hungaria, Arpad Goncz, yang pada tahun 1990 terpilih sebagai Presiden pertama Hungaria periode pasca-komunisme, menggambarkan susutnya wilayah Hungaria sebagai berikut, "Ibu saya orang Hungaria, tempat kelahirannya kini merupakan bagian dari Romania. Ayah saya orang Hungaria, tempat kelahirannya kini merupakan bagian dari Yogoslavia. Ayah istri saya orang Hungaria, tempat kelahirannya kini merupakan bagian dari Chekoslawakia".
Saya lihat dalam banyak hal Hungaria memiliki daya tarik yang khas. Selain keindahan alamnya, peri kehidupan tradisional pun masih kuat bertahan terutama di daerah pedesaan.
Hungaria juga tidak ketinggalan dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Hungaria telah menghasilkan beberapa pemenang hadiah Nobel. Film produksi Hungaria pun telah mendapat apresiasi tinggi.
Saya telusuri, ada tercatat sejumlah komponis mereka telah menghasilkan karya yang layak diabadikan sebagai musik klasik. Sastrawan Hungaria pun terkenal di Eropa sebagai penulis-penulis yang matang dalam segala seginya.
Ibukotanya, Budapest, pun punya ciri khas, karena pada awalnya terdiri dari dua wilayah hunian. Masing-masing Buda dan Pest. Buda berada di daerah bebukitan, sedang Pest merupakan daerah daratan.
Kedua wilayah ini dipisahkan oleh Sungai Donau, sebuah sungai yang mengilhami komponis Johann Straus (1825-1899) hingga terciptalah karyanya yang hingga kini tersohor "An der Schonen Blaue Donau".
Saat di Budapest, saya bertanya kepada sahabat kami Frank, seorang antropolog yang sekarang bermukim di Utrech Belanda, di mana letak rahasia Hungaria? Sebuah pertanyaan yang sukar menjawabnya.
Keharusan untuk bertahan hidup, kata Frank, orang-orang Hungaria kerap mengatakannya, "Dengan senyum mengandung arti tersembunyi Anda, orang-orang lain, tidak mengetahui seperti apa rasanya menjadi orang Hungaria ...". (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman
Baca juga: Menikmati Kebab Turki di Swiss
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....