Istana Kadriah — Pantak Dayak & Tangga Tujuh
- 01 Okt 2026 15:35 WIB
- Pontianak
Istana Kadriah — Pantak Dayak & Tangga Tujuh: Simbol Fondasi Persatuan Melayu–Dayak
Disusun Oleh: Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur, S.H., M.Hum.
Tanggal: 1 Oktober 2026
ABSTRAK
Istana Kadriah bukan sekadar kediaman Kesultanan Pontianak, melainkan monumen hidup persaudaraan Melayu–Dayak yang terwujud dalam arsitektur, ruang, dan tradisi. Cerita unik "Keramat Tujuh" — tangga tujuh yang mengarah ke Balai Rung — serta keberadaan Pantak Dayak, pilar kayu belian besar berukir gaya rumah betang yang menjadi penopang utama bangunan, membuktikan bahwa sejak tahun 1771, fondasi Kesultanan Pontianak dibangun di atas kearifan dan persaudaraan dengan masyarakat adat Dayak. Foto tahun 1932 memperkuat bukti fisik bahwa arsitektur istana menggabungkan dua tradisi besar secara setara, bukan kebetulan melainkan pilihan sadar para pendiri — selaras dengan pesan Sultan Hamid II dan semangat persatuan yang tetap hidup hingga hari ini.
I. CERITA UNIK: KERAMAT TUJUH — TANGGA TUJUH KE BALAI RUNG
Ada sebuah cerita unik yang turun-temurun di kalangan keluarga istana dan masyarakat sekitar. Ketika seorang saudara kami dari etnis Dayak berkunjung ke Istana Kadriah, beliau berkata: "Pak Tengku, saya mau lihat Keramat Tujuh." Saya pun bingung, apa yang dimaksud dengan Keramat Tujuh. Setelah dibuka dan ditanyakan kepada para tetua, ternyata yang dimaksud adalah tangga tujuh yang arah naik ke Balai Rung.
Dahulu, kata orang tua-tua kami, di tempat itu terdapat Pantak Dayak — tempat kami menempatkan Sanji. Di tahun 1932, pada bangunan istana lama, terdapat kayu belian besar — Pantak Dayak — yang menjadi bagian struktur bangunan istana. Tangga tujuh itu bukan sekadar sarana naik-turun, melainkan tanda penghormatan, tanda bahwa fondasi rumah ini berasal dari tanah leluhur, dari kearifan orang-orang yang lebih dulu berada di sini. Tujuh anak tangga itu pun memiliki makna sakral — tujuh tingkatan, tujuh penghormatan, tujuh doa yang dipanjatkan kepada Jubata, kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebelum memasuki ruang pertemuan tertinggi istana.
II. FOTO TAHUN 1932 — BUKTI FISIK PANTAK DAYAK DI ISTANA KADRIAH
Jika kita perhatikan foto hitam-putih tahun 1932 yang menampilkan Gerbang Utama dan Bagian Depan Istana Kadriah, kediaman resmi Kesultanan Pontianak, terlihat jelas ciri-ciri yang menyatukan dua dunia budaya dalam satu bangunan.
- Bangunan bertingkat berlapis dengan atap tumpang khas Nusantara, perpaduan arsitektur Melayu-Islam dan tradisi arsitektur Kalimantan.
- Ukiran ornamen khas Melayu di bagian atap depan, dengan tiang-tiang kayu besar penopang struktur.
- Tiang kayu besar berukuran raksasa berdiri tegak di sisi kanan depan — berpenampilan kokoh, utuh, dipahat dengan gaya yang menampakkan keterkaitan dengan tradisi budaya Dayak.
- Pantak / Pilar Ukir Dayak — tiang besar tersebut memiliki ciri khas bentuk dan ukiran yang merupakan tradisi seni tiang rumah betang atau rumah adat Dayak, yang diintegrasikan ke dalam bangunan Istana Kesultanan Pontianak.
- Bendera-bendera berkibar di sekeliling gerbang, menunjukkan suasana resmi atau perayaan.
- Orang-orang berpakaian zaman berdiri di depan gerbang, memberikan gambaran skala ukuran bangunan dan tiang kayu tersebut.
III. MAKNA BUDAYA & SEJARAH: PANTAK DAYAK & TANGGA TUJUH SEBAGAI FONDASI PERSATUAN
1. Tiang Besar Pantak Dayak — Penopang Kekuatan Bersama
Tiang kayu besar dengan pantak atau ukiran gaya Dayak yang berdiri tegak di depan Istana Kadriah bukan sekadar hiasan. Ia adalah simbol nyata persatuan dan kemitraan antara Kesultanan Pontianak dan masyarakat adat Dayak sejak berdirinya kota Pontianak.
- Secara budaya: Pantak atau tiang ukir adalah elemen sakral dalam tradisi Dayak — tiang penyangga rumah betang, tiang yang menghubungkan dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas. Mengintegrasikannya ke dalam istana kesultanan berarti menempatkan kearifan dan kekuatan adat Dayak sebagai fondasi berdirinya Kesultanan Pontianak. Bukan dipindahkan, bukan diubah — tetap berdiri, tetap menjadi penopang, di dalam rumah yang sama.
- Secara sejarah: Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, membangun kerjasama dan persaudaraan erat dengan masyarakat Dayak sejak awal berdirinya Pontianak. Istana ini — dengan tiang Dayak di depannya — adalah bukti arsitektural persaudaraan yang tak terpisahkan antara Melayu dan Dayak di tanah Kalimantan Barat. Tidak ada penaklukan, tidak ada penggantian — dua tradisi, satu rumah.
- Secara spiritual: Kayu belian besar yang berdiri tegak = penghormatan kepada leluhur tanah, kepada Jubata atau Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana pesan leluhur: Katalino bacuramin ka saruga, basangat ka Jubata — semua kembali ke langit, berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tiang itu menembus langit, menghubungkan bumi dan langit, penghubung antara dua bangsa yang bersatu dalam satu iman, satu harapan, satu Tuhan.
2. Tangga Tujuh — Jalan Persaudaraan Menuju Balai Rung
Tangga tujuh yang disebut "Keramat Tujuh" oleh saudara Dayak itu bukan sekadar anak tangga. Ia adalah jalan penghormatan, jalan persaudaraan yang harus dinaiki dengan hati yang tulus, sebelum memasuki Balai Rung — ruang pertemuan, ruang musyawarah, ruang di mana keputusan diambil untuk rakyat bersama.
- Tujuh anak tangga itu melambangkan tujuh penghormatan kepada leluhur tanah, tujuh doa untuk kesejahteraan Kalimantan Barat, tujuh langkah menuju kebersamaan yang utuh.
- Ketika saudara Dayak menyebutnya "Keramat Tujuh", itu menunjukkan bahwa ruang istana ini — dari fondasi hingga tangga, dari tiang hingga atap — dianggap keramat, dianggap milik bersama, dianggap rumah oleh kedua belah pihak. Bukan istana Melayu saja, bukan istana Dayak saja — melainkan Istana Pontianak, rumah semua anak Borneo.
- Sanji yang dahulu ditempatkan di dekat Pantak Dayak — menunjukkan bahwa sebelum ada kesultanan, sudah ada penghormatan kepada leluhur, sudah ada tempat memohon berkah. Kesultanan datang bukan untuk mengganti, melainkan untuk melengkapi, untuk bersanding, untuk membangun bersama di atas fondasi yang sudah ada.
3. Arsitektur Sebagai Bahasa Persatuan — Tidak Ada yang Dihilangkan, Tidak Ada yang Diunggulkan
Istana Kadriah menggabungkan dua tradisi besar dalam satu bangunan: ornamen Islam-Melayu di atap dan gerbang, dengan tiang atau pilar gaya Dayak sebagai penopang utama. Ini bukan kebetulan, melainkan pilihan sadar para pendiri Kesultanan.
- Tidak ada yang dihilangkan, tidak ada yang diunggulkan — keduanya berdiri tegak, saling melengkapi, satu fondasi. Atapnya Melayu, tiangnya Dayak — rumahnya Pontianak, milik semua.
- Sama seperti pesan Sultan Hamid II: "Dayak dan Melayu sama-sama dihormati, adat dan negara bersatu dalam keadilan." Istana ini adalah wujud nyata kalimat itu — bukan janji, bukan harapan, melainkan kenyataan yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu.
- Foto tahun 1932 ini menjadi bukti sejarah tervalidasi bahwa persatuan Melayu–Dayak bukan gagasan baru, melainkan sudah hidup dan dihayati sejak berdirinya Pontianak. Jika dahulu para pendiri bisa menyatukan dua tradisi dalam satu istana, mengapa kita hari ini tidak bisa menyatukan dua hati dalam satu tanah air?
4. Relevansi untuk Masa Kini — Tiang Masih Berdiri, Persaudaraan Masih Hidup
Tiang besar itu masih berdiri — dan begitu pula persaudaraan kita. Foto ini dan cerita tentang tangga tujuh mengingatkan kita pada hal-hal yang tak boleh dilupakan.
- Marwah Tanah Borneo tidak bisa dijaga oleh satu golongan saja. Tiang yang besar berdiri karena kayu yang kuat, dan kayu itu kuat karena akarnya — akar Melayu dan akar Dayak, sama-sama di tanah yang sama. Cabang yang berbeda, akar yang satu.
- Pantak Dayak di istana Melayu = simbol bahwa adat tidak terpisah, tidak saling meniadakan. Keduanya menjadi kekuatan bersama. Adat Dayak tidak hilang ketika Kesultanan berdiri, dan Kesultanan tidak berdiri tanpa penghormatan kepada adat Dayak. Keduanya saling memperkuat, saling melindungi.
- Pesan untuk generasi sekarang: kembalilah ke fondasi leluhur — bersinergi, gotong royong, saling menghormati, sebagaimana tiang itu berdiri tegak menopang bangunan bersama. Jangan meruntuhkan satu tiang untuk meninggikan yang lain, karena rumah ini akan roboh jika salah satu tiangnya jatuh.
- Tangga tujuh mengajarkan kita: untuk sampai ke ruang musyawarah, kita harus naik bersama-sama, langkah yang sama, penghormatan yang sama. Tidak boleh ada yang naik sendirian, tidak boleh ada yang tertinggal di bawah. Semua naik, semua duduk, semua bermusyawarah untuk kebaikan bersama.
IV. SUMBER LITERASI TERVERIFIKASI
- Arsip Kesultanan Pontianak — Koleksi Istana Kadriah, Pontianak. Foto Istana Kadriah tahun 1932, dokumentasi bangunan asli dengan tiang pantak Dayak di bagian depan.
- Catatan lisan keluarga besar Istana Kadriah — Cerita "Keramat Tujuh" dan keberadaan Pantak Dayak serta Sanji di bangunan istana lama, dituturkan secara turun-temurun.
- Inventarisir Benda Cagar Budaya Istana Kadriah — Dokumentasi arsitektur bangunan istana, tiang kayu belian berukir tradisi Dayak, tangga utama ke Balai Rung.
- H. von de Wall, Geschiedenis van Pontianak, 1869, diterjemahkan Dinas Kebudayaan Kalbar. Syarif Abdurrahman Alkadrie menjalin hubungan persaudaraan dengan para pemimpin adat Dayak sejak kedatangan di wilayah Pontianak.
- J.L. van Hasselt, Bijdragen tot de kennis van de Banjarsche Landen, 1884. Masyarakat Dayak telah mendiami wilayah Kalimantan Barat jauh sebelum berdirinya kesultanan, dan perjanjian persaudaraan menjadi dasar berdirinya Pontianak.
- Sultan Hamid II. (Januari 1950). Pidato di Pontianak. "Dayak dan Melayu sama-sama dihormati, adat dan negara bersatu dalam keadilan."
- Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Pasal 18. Bangunan cagar budaya termasuk Istana Kadriah dan nilai-nilai tradisional yang terkait di dalamnya dilindungi negara.
- Pasal 32 Undang-Undang Dasar 1945. Negara menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap nilai-nilai adat dan budaya masyarakat.
V. KESIMPULAN — RUMAH INI MILIK KITA SEMUA
Istana Kadriah bukan hanya milik keluarga Kesultanan, bukan hanya milik warga Melayu. Ia juga milik saudara-saudara Dayak — karena tiangnya adalah Pantak Dayak, karena fondasinya adalah penghormatan kepada leluhur tanah, karena tangganya disebut "Keramat Tujuh" oleh saudara Dayak yang merasa pulang ke rumah sendiri.
Katalino bacuramin ka saruga, basangat ka Jubata. Semua kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa — dan di hadapan-Nya, kita semua sama: anak Borneo, bersaudara, satu rumah. Rumah ini punya tiang Dayak, punya atap Melayu, punya tangga yang dihormati semua. Marwah Tanah Borneo ada di rumah ini — dan rumah ini hanya akan berdiri tegak jika kita menjaganya bersama-sama.
"Tiang tidak berdiri untuk dirinya sendiri, atap tidak berteduh untuk dirinya sendiri. Tiang menopang atap, atap melindungi tiang — dan keduanya melindungi rumah. Demikian pula Melayu dan Dayak — satu tiang, satu atap, satu rumah, satu Borneo."
DAFTAR PUSTAKA
- Arsip Kesultanan Pontianak — Koleksi Istana Kadriah, Pontianak. Foto Istana Kadriah tahun 1932.
- Catatan lisan keluarga besar Istana Kadriah — Cerita "Keramat Tujuh" dan Pantak Dayak.
- Inventarisir Benda Cagar Budaya Istana Kadriah.
- Alkadrie, S. A. (berdiri 1771). Piagam Pendirian Kesultanan Pontianak. Arsip Istana Kadriah.
- van de Wall, H. (1869). Geschiedenis van Pontianak. Diterjemahkan Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat.
- van Hasselt, J.L. (1884). Bijdragen tot de kennis van de Banjarsche Landen.
- Sultan Hamid II. (Januari 1950). Pidato di Pontianak.
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 32.
- Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Disusun dengan penuh penghormatan kepada leluhur Melayu dan Dayak — yang membangun Istana Kadriah dengan dua tangan, dua budaya, satu hati — serta kepada para tetua yang menjaga cerita ini tetap hidup hingga hari ini.
Baca juga: Lambang Pertama Kesultanan Pontianak — Simbol Persatuan Melayu–Dayak
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....