Sureq I La Galigo Maqnum Opus Sastra Bugis yang Mendunia

  • 25 Agt 2026 15:33 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di kalangan orang Bugis dikenallah Galigo yang telah diturunkan dalam tiga wujud tradisi. Pertama sebagai karya tulis ceritera berangkai [cyclus] , kedua sebagai pangkal silsilah raja-raja dalam berbagai kronik, ketiga sebagai ceritera lisan yang dikaitkan dengan benda alam atau benda peninggalan zaman.

Berdasarkan alur pokok, ceriteranya berasal pada waktu para penguasa di Langi [dunia atas] dan PerEtiwi [dunia bawah] sepakat untuk mengisi Kawa [dunia tengah] yang masih kosong dengan mengirim anak mereka untuk menjadi penghuni dan penguasa di sana.

Dari Langi diturunkan Bataraguru, anak sulung lelaki PatotoE bersama Datu PalingE. lalah yang membentuk gunung, hutan dan sungai, kemudian disusul dengan penjelmaan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, termasuk padi. Dari PerEtiwi dimunculkan wEe Nyiliqtimo, anak sulung GururisEllEq bersama Sinauqtoja. Bataraguru diturunkan di atas gelegar bambu sedangkan wEe Nyiliqtimo dimunculkan bersama usungan kencana di tengah buih, masing-masing dengan pengiringnya.

Kisah berikutnya Batarallattuq, bermula pada saat ia dilahirkan. Dengan melalui berbagai upacara ia dibesarkan, hingga kawin dan beranak. Istrinya bernama wE Datu SenngEng, berasal dari Tompoqtikka. Mereka kemudian beroleh anak kembar emas, seorang lelaki bernama SawErigading dan seorang perempuan bernama wE TenriabEng.

Ceritera berikutnya SawErigading menyangkut saat-saat ia dibesarkan hingga dewasa dan mengembara ke seluruh pelosok kerajaan Luwuq serta berbagai negeri asing, termasuk Langi, PerEtiwi dan negeri roh. Kemudian ia mencintai dan ingin mengawini saudara kembarnya, tetapi ia tidak diperkenankan oleh orang tuanya. Atas bujukan dan petunjuk wE TenriabEng, ia lalu berlayar ke Negeri Cina untuk mengawini I wE Cudaiq.

Pada akhirnya ia pulang ke Luwuq menghadiri pertemuan keluarga, yang berkesudahan dengan meluncurnya ke PerEtiwi bersama perahu dan segala isinya. la pun menetap di sana menggantikan neneknya. Adapun I La Galigo, anak SawErigading bersama tokoh lainnya, kesemuanya hanya berfungsi sebagai tokoh bawahan.

Tradisi kedua berupa ceritera awal berbagai kronik dan silsilah. Ada yang hanya menyebutkan secara singkat, bahwa sesudah keturunan yang tersebut dalam Galigo habis kembali ke Langi, maka terjadilah kekacauan, bagaikan ikan, yang kuat memakan yang lemah, seperti yang terdapat pada awal kronik SoppEng dan BonE.

Pada silsilah raja-raja Luwuq [Luwuk] tidak ada disebut tokoh Galigo kecuali jika Simpurusiang sebagai manurung dianggap anak wE TenriabEng bersama REmmanrilangi. Sedangkan dalam Silsilah Melayu dan Bugis yang diterbitkan oleh Raja Ali Haji, jelas tercantum beberapa tokoh Galigo mulai dari Datu PalEingE, hingga La Tatta [La Tenritatta] anak I La Galigo. Sejarah Goa juga menyebutkan Bataguru sebagai raja pertama pada periode awal kerajaan tersebut.

Di Sulawesi Tengah terdapat pula ceritera yang menyatakan bahwa nenek moyang Raja Sigi, Pangi, Wotu dan Toyo bersaudara dengan SawErigading. Di Gorontalo terdapat juga ceritera yang menyatakan hubungan raja di sana dengan SawErigading melalui perkawinan wE TenriawE [sepupu SawErigading] dengan anak raja setempat. Demikian pula halnya dengan raja-raja di Sulawesi Tengara.

Tradisi ketiga berupa legenda etiologis yang menghubungkan tokoh Galigo, terutama SawErigading, dengan benda-benda alam atau peninggalan sejarah, terdapat pada beberapa tempat, baik yang berbahasa Bugis maupun yang berbahasa daerah lain. Gunung belah [Bulupolo] yang terdapat dekat Malili dikatakan bekas tertimpa pohon WElEngrEng yang rebah karena ditebang untuk dijadikan perahu oleh SawErigading. Batu cadas yang terdapat di daerah CerEkang dan banyak diambil untuk dijadikan batu asah, disebut sebagai kulit bekas tarahan pohon WElEnrEng itu.

Di Gunung Kandora, daerah MangkEndEk, Tana Toraja, terdapat sebuah batu yang dianggap penjelmaan WE Pinrakati [Pindakalati], istri SawErigading yang meninggal dalam keadaan hamil, yang dijemput oleh SawErigading dari dunia roh [Puya]. Setiba kembali di bumi ia melahirkan seorang anak perempuan yang bernama Jamallomo. Anak tersebut kemudian menjelma menjadi batu.

Gunung Batu di daerah Bambapuang [EnrEkang] yang dari jauh tampak sebagai anjungan perahu, dianggap perahu SawErigading yang karam dan telah menjadi batu. Nekara besar yang terdapat di Bontobangung [Selayar] ada pula yang menganggapnya gong SawErigading yang selalu dibawanya berlayar dan dibunyikan setiap ia hendak memasuki suatu pelabuhan.

Demikian pula dengan kepingan perahu yang terdapat di BontotEqnE, juga dianggap perahu SawErigading. Sejalan dengan itu terdapat pula ceritera di kalangan Orang Ara [Bulukumba], yang menganggap bahwa keahlian mereka membuat perahu diperoleh nenek moyang mereka dari hasil merekonstruksi kepingan perahu SawErigading yang pernah terdampar di daerah tersebut.

Pada suatu tempat di tepi pantai Ujung Rangas sebelah utara Kota MajEnE terdapat sebuah batu dengan tanda yang menyerupai bekas kaki kiri. Ceritera rakyat setempat menyatakannya sebagai bekas SawErigading bersetumpu ketika ia hendak ke Langi menemui neneknya, yaitu PatotoE.

Di kalangan masyarakat Palu terdapat pula ceritera yang menganggap gunung KavolE di daerah Balaroa adalah perahu SawErigading yang tertelungkup dan telah menjadi tanah. Di daerah Parigi ada pula sebuah tempat yang disebut Tana Bangkalaq, kuning warnanya, bersih tidak ditumbuhi sesuatu apa pun. Di dekatnya tumbuh sebatang pohon asam. Menurut ceritera masyarakat, di tempat itu SawErigading pernah mengadakan sabung ayam.

Uraian di atas meskipun belum menyebutkan semua ceritera yang bersangkutan dengan Galigo dalam tiga wujud tradisinya, namun telah diusahakan menampilkan yang penting-penting, mewakili berbagai daerah dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda pula, mencakup hampir seluruh SulawEsi, Gorontalo di sebelah utara dan Selayar di sebelah selatan, Buton di sebelah timur dan Mandar di sebelah barat, bahkan juga kaitannya dengan beberapa daerah Melayu.

Yang menarik perhatian, ialah ceritera itu tidak hanya terdapat dalam wilayah kekuasaan Luwuq atau daerah yang berbahasa Bugis saja. Hal demikian dapat diartikan, bahwa Luwuq adalah suatu kerajaan besar, makmur, disegani atau menduduki tempat yang tinggi dalam pandangan mereka, bahkan mungkin juga diakui kekuasaannya oleh beberapa daerah bersangkutan. Ceritera Galigo rupanya tidak mungkin tersebar luas, seandainya Luwuq merupakan kerajaan kecil yang miskin, lemah dan tidak disegani.

Ceritera Galigo, atau lengkapnya SurEq I La Galigo, adalah salah satu karya terbesar dalam khazanah kesusasteraan Indonesia tradisional. Karya itu berupa ceritera berangkai [cyclus], yang sekaligus termasuk sastra suci [arwah para tokohnya dianggap bersemayam di dalamnya dan dalam hal tertentu dapat dimintai bantuannya], sastra normatf [menentukan pokok adat istiadat] dan sastra indah [yang memikat] dan mengharukan.

Karya tersebut mengisahkan asal usul Tanah Bugis dengan kemunculan Bataraguru, yang turun dari Langi [dunia atas] ke Kawa [dunia tengah] untuk menghuni dan menguasainya. Dia membentuk gunung, hutan dan sungai dan menciptakan berbagai jenis tumbuhan, termasuk padi. Dari PerEtiwi [dunia bawah], datang pula WE Nyiliqtimo, yang timbul di tengah buih. Dari perkawinan mereka lahirlah Bataralattuq, yang kemudian mempunyai dua anak kembar, seorang laki-Iaki bernama SawErigading dan seorang perempuan bernama WE TenriabEng.

Karya Bugis yang sangat panjang ini tidak pernah diceriterakan dari awal sampai akhir, melainkan terbagi atas sejumlah episode yang dibacakan sambil dilagukan pada kesempatan upacara tertentu. Dalam kerangka kesusasteraan Bugis, ceritera Galigo termasuk kategori surEq, yaitu puisi bermantra, di samping karya-karya bernama toloq, yaitu cerita epik tentang berbagai tokoh dan peristiwa sejarah.

Kategori lain adalah kategori lontaraq, yakni karya-karya yang tidak berisi catatan harian atau silsilah. Kalau naskah-naskah lontaraq telah lama menarik perhatian para sejarawan, maka surEq sebaliknya, termasuk Galigo, sampai sekarang ini baru diteliti secara dangkal saja. Ceritera Galigo yang sangat penting itu ternyata belum pemah disunting atau diterjemahkan secara lengkap.

(Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, peminat kajian sejarah dan budaya Nusantara)

Baca juga: Putera Ngabang Warnai Permulaan Jagat Sastra Indonesia Modern⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....