Tengkawang, Mentega Hutan hingga Ekonomi Warga

  • 23 Jul 2026 20:53 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah lebatnya hutan hujan tropis Kalimantan, tersimpan kekayaan hayati yang kerap dijuluki sebagai "emas hijau" bumi Borneo. Pohon tengkawang (Shorea spp.), tanaman endemik dari suku Dipterocarpaceae, menghasilkan buah unik bersayap yang menyimpan potensi ekonomi dan ekologis luar biasa.

Buah tengkawang berbentuk bulat oval dan dikelilingi sayap-sayap kayu yang membantunya terbang saat gugur dari pohon induk. Biji buah ini kaya akan kandungan minyak nabati murni. Ketika diolah melalui proses penumbukan dan pengukusan tradisional maupun modern, biji tengkawang menghasilkan lemak padat yang sering disebut sebagai illipe butter atau mentega tengkawang.

Minyak dan mentega tengkawang memiliki titik leleh yang mirip dengan mentega kakao, menjadikannya komoditas bernilai tinggi di pasar internasional. Bagi masyarakat lokal, khususnya suku Dayak di Kalimantan Barat, olahan tengkawang menjadi sumber pendapatan alternatif yang menjanjikan:

  • Industri Kosmetik & Farmasi: Lemak tengkawang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pelembab bibir, sabun organik, dan pelembab kulit skala global.
  • Pengganti Mentega Kakao: Digunakan oleh industri cokelat dunia sebagai bahan baku berkualitas tinggi yang lebih ramah lingkungan.
  • Pangan Tradisional: Masyarakat memanfaatkan minyak nabati tengkawang sebagai bumbu penyedap masakan dan bahan pengawet alami.

Pengolahan biji tengkawang memberikan nilai tambah ekonomi langsung kepada warga tanpa perlu merusak hutan, karena pemanenan dilakukan dengan memungut buah yang gugur (panen lestari).

Sayangnya, keberadaan pohon tengkawang kini menghadapi ancaman serius. Berdasarkan sumber: Bentang Kalimantan Tangguh Pohon tengkawang memiliki masa berbuah yang tergolong langka, yaitu secara raya setiap 3 hingga 7 tahun sekali. Masa tunggu yang lama ini, ditambah maraknya alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan pemukiman, membuat populasi pohon tengkawang terus menyusut.

Meski demikian, asa untuk melestarikan tengkawang terus tumbuh. Berbagai kelompok swadaya masyarakat, lembaga konservasi, dan pemerintah daerah kini gencar mengampanyekan pembibitan serta reboisasi pohon tengkawang. Melalui pemberdayaan ekonomi berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK), masyarakat diajak untuk menjaga pohon-pohon tua tengkawang yang tersisa agar manfaat ekonominya tetap mengalir tanpa merusak bentang alam Kalimantan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....