"Si Jago Merah” Kalimantan Ancam Perdagangan Dunia
- 16 Sep 2026 10:11 WIB
- Pontianak
Oleh Risdiyanto Fungsional PBC Pertama
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi berulang di Kalimantan khususnya Kalimantan Barat pada musim kemarau bukan lagi sekadar isu lingkungan nasional tetapi sudah mendunia, dimana asap yang menembus batas negara menjadi isu negative bagi negara Indonesia, wilayah yang strategis dan berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura menjadikan Kalimantan Barat menjadi salah satu urat nadi ekspor nasional.
Dari sisi transportasi dan logistik, kabut asap pekat yang ditimbulkan oleh karhutla menjadi hambatan utama dalam rantai pasok global. Transportasi laut, dan udara, yang merupakan tulang punggung distribusi komoditas unggulan Kalimantan Barat seperti kelapa sawit, Lada, karet, alumina serta produk lainnya mengalami penurunan. Jarak pandang yang terbatas di sepanjang Sungai Kapuas dan perairan pesisir menghentikan aktivitas kapal tongkang penentu ekspor. Ketika pelabuhan Dwikora dan bandara udara Internasional Supadio terpaksa menunda operasional pesawat akibat pekatnya udara, jadwal rute darat dan pengapalan internasional ikut berantakan. Keterlambatan ini memicu pembengkakan biaya Demurrage (biaya container tertahan di pelabuhan) yang merugikan para eksportir atau Importir.
Selain itu karhutla juga menjadi faktor menurunnya kepercayaan pasar global terhadap keberlangsungan produk asal Kalimantan Barat. Asap kebakaran yang berasal dari area Kalimantan Barat area kebakaran juga akan menurunkan citra komoditas barang ekspor Indonesia sebagai produk berkualitas. Ketika Indonesia khususnya daerah Kalimantan Barat dianggap tidak mampu menjaga stabilitas ekologinya, pembeli internasional cenderung mengalihkan kontrak dagang mereka ke negara produsen alternative. Asap karhutla dari Kalimantan Barat yang sering terbawa angin menuju wilayah Sarawak, Kuching Malaysia, kadang memicu protes regional atas penurunan kualitas udara dan gangguan aktivitas ekonomi domestik mereka. Ketegangan geopolitik ini secara tidak langsung menciptakan hambatan hubungan perdagangan Internasinal
Karhutla dapat merusak potensi Kalimantan Barat di sektor pasar internasional di masa depan, bursa perdagangan karbon global. Pemerintah tengah berupaya mengintegrasikan pasar sekunder melalui Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) untuk meraih insentif ekonomi dari penurunan emisi. Namun, jutaan ton karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer akibat lahan gambut yang terbakar melenyapkan nilai kredit karbon regional. Hilangnya aset hijau potensial ini berdampak peluang Kalimantan Barat untuk menarik devisa dari perdagangan karbon global, karena investor enggan menanamkan modal pada area dengan risiko kebakaran tinggi.
Karhutla di Kalimantan Barat harus disikapi serius sebagai ancaman nyata bagi kedaulatan ekonomi internasional Indonesia. Penyelesaian jangka pendek berupa pemadaman api secara masif reaktif serta memakan waktu yang cukup lama dikarenakan keterbatasan Manusia dan peralatan yang tidak lagi memadai menjadikan kepercayaan pasar Internasional lebih apatis. Antisipasi karhutla di wilayah Kalimantan Barat ini selain pemadaman yang lebih terorganisir, pengadaan Sumber Daya Manusia dan peralatan pemadan lebih diperbanyak dan perlu pengadaan pesawat khusus pemadam kebakaran serta pemerintah bersama penegak hukum wajib menindak tegas pihak-pihak yang telah mengakibatkan karhutla diwilayah Kalimantan Barat kebakaran.
Baca juga: Pengamat Desak Karhutla dan Kekeringan Kalbar Berstatus Bencana Nasional
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....