Pengalaman Minum Kopi di Beberapa Negara di Eropa

  • 12 Jul 2026 14:33 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Salah satu cara terbaik untuk mengawali hari, terutama sebelum mengeksplorasi sejumlah atraksi wisata di kota tujuan, adalah dengan minum kopi. Mengonsumsi kafein tak hanya memberikan energi pada tubuh.

Namun, juga merupakan cara yang efektif untuk mengenal budaya setempat dan mengalami sendiri keseharian penduduknya.

Di Turki saya lihat kopi bukan hanya untuk bersosialisasi, namun memainkan peranan penting dalam upacara pernikahan. Sebelum pesta, keluarga laki-laki mengunjungi keluarga calon mempelai perempuan. Nantinya sang calon pengantin perempuan menyajikan kopi Turki untuk tamunya.

Bagi calon suaminya, kopinya akan dicampur dengan sesendok garam untuk menguji karakternya. Bila diminum tanpa meringis, itu adalah bukti kejantanan, kesabaran, dan kesiapannya sebagai calon suami.

Tak hanya itu, kopi juga bisa digunakan untuk meramal di Turki. Seusai minum kopi, cangkir kopi dibalik dan ampas kopi yang tercipta itulah yang nanti digunakan untuk meramal.

Saking cintanya pada kopi, warga Turki memiliki peribahasa populer yang menyatakan bahwa kopi haruslah sangat hitam, sekuat maut dan semanis cinta.

Tak heran bila kopi Turki sendiri memang seperti peribahasa tersebut, yakni hitam pekat dengan rasa yang sangat kuat dan jejak rasa manis. Secara tradisional, kopi Turki dibuat dengan menggiling biji kopinya terlebih dahulu hingga sangat halus.

Lalu menuangkannya ke dalam cezve atau teko tembaga bertangkai panjang bersama air dan terkadang gula dan perasan jeruk, tergantung preferensi. Lalu merebusnya di atas kompor atau menguburnya di pasir panas pada suhu sekitar 300 derajat Celsius.

Lain halnya saat saya di Roma, Italia. Negara yang menjadi tempat lahirnya espresso ini sangat serius dalam hal menyajikan kopi kualitas terbaik. Terutama di ibukotanya, Roma.

Itulah sebabnya sebagian besar istilah kopi, serupa latte, macchiato, cappuccino, berasal dari Italia. Namun, meski nama-nama minuman ini sudah tak asing lagi di telinga, pelancong yang baru pertama kali mengunjungi mengunjungi negara tersebut belum tentu tahu cara minum kopi di Italia yang unik.

Begitupun dengan saya. Misalnya, ketika mengunjungi Roma, jangan pernah memesan kopi untuk take away, karena jarang ada kafe yang menawarkan layanan tersebut.

Cappuccino hanya diminum untuk sarapan atau tidak lebih dari pukul 11 siang. Setelah itu, terutama setelah makan, jenis kopi yang sebaiknya dipesan adalah caffe macchiato, yaitu satu shot espresso dengan sedikit buih susu. Atau caffe, yaitu satu shot espresso.

Jika cuaca terik, disarankan pesanlah caffe freddo, yaitu espresso dingin dengan tambahan gula, atau crema di caffe, yaitu espresso yang ditambah susu dan diblender. Jika hanya menyebut latte, hanya mendapatkan secangkir susu. Sementara bila meminta caffe, pelayan bakal sertamerta menyajikan espresso.

Dan jangan harap bisa duduk sambil minum kopi. Karena cara paling populer untuk mengonsumsinya adalah sambil berdiri di bar.

Lain lagi saat saya di Reykjavik, Islandia, pengalaman minum kopi pun berbeda. Orang Islandia konon adalah konsumen kopi ketiga tertinggi di dunia per kapita. Mereka nampaknya begitu mencintai kopi. Dan rata-rata orang di sini mengonsumsi setidaknya delapan kilogram biji kopi pertahunnya.

Ibukotanya sendiri, meski mungil, terbilang memiliki banyak kedai kopi. Uniknya lagi, tak akan mudah menemukan jaringan kedai kopi global di sana, semacam Starbuck atau Costa Coffee, melainkan gerai-gerai yang dimiliki sendiri dan dikelola secara independen oleh keluarga.

Mereka juga memiliki kata-kata khusus yang ditujukan untuk kopi yang dikonsumsi di waktu yang berbeda dalam sehari. Seperti morgunkaffi yang memiliki arti kopi yang dinikmati di pagi hari, atau kvoldkaffi untuk sajian kopi di kalam hari.

Berkat komunitas kecil barista di Reykjavik yang saling bersaing dalam hal kualitas kopi mereka, pengunjung dapat mengharapkan standar tinggi di setiap kafe. Banyak dari mereka juga menawarkan isi ulang kopi secara gratis.

Akan halnya saat saya berada di Wina, Austria. Wina saya baca bukanlah polopor kedai kopi. Kedai kopi pertama muncul di Mekkah pada abad XV. Lalu menyebar ke Istanbul pada abad berikutnya, dan kemudian muncul di Eropa, tepatnya di Venesia dan London, sekitar seabad selepasnya.

Namun, Winalah yang menyempurnakan kedai kopi dan membuatnya terkenal. Kedai kopi di Wina bagai pub di London, sesuatu yang memainkan peranan penting dalam membentuk budaya. Saking pentingnya, budaya kedai kopi ini mendapat pengakuan dari dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Internasional.

Budaya kedai kopi di Wina berawal pada 1683, setelah pertempuran Wina berakhir dan warga setempat menemukan banyak karung kopi di perkemahan pasukan Ottoman yang ditinggalkan.

Menggunakan biji kopi ini, Jerzy Franciszek Kulczycki, seorang perwira militer yang telah menghabiskan waktu sebagai tahanan

di Turki, mendirikan kedai kopi pertama di Wina dengan karakteristik khas kedai kopi gaya Wina sekarang ini.

Seorang pelayan menyajikan segelas air, secangkir kopi, dan sepiring kue-kue lezat, lengkap dengan koran dan bahkan permainan kartu. Pengunjung diperbolehkan berada di kedai kopi tersebut selama berjam-jam. Entah untuk mengobrol, menulis, membaca, atau memainkan kartu. Sementara pelayan terus menuangkan air tanpa diminta untuk melayani tamunya.

Seiring menjamurnya kedai-kedai kopi di Wina, para penulis terkenal saat itu, seperti Alfred Polgar dan Peter Altenberg, menjadi semakin terikat dengan suasana kafe yang nyaman tersebut dan sering menggunakannya untuk bertemu dan bertukar ilmu dengan sesama penulis.

Konon, Mozart dan Bewthoven bahkan pernah menggelar pertunjukan untuk publik pada 1788 di salah satu kafe tertua di Wina, Cafe Frauenhuber, yang masih beroperasi hingga hari ini.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Sejarawan Kalbar)

Baca juga: Boheman Rhapsody di Cagar Budaya Dunia

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....