102 Tahun WKRI, Dari Ruang Belajar hingga Dampingi Korban
- 07 Jul 2026 19:56 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di sebuah desa, seorang anak kelas tiga sekolah dasar belum mampu menulis namanya sendiri. Temuan sederhana itu menjadi titik balik lahirnya gerakan kecil yang kini terus berkembang di Kalimantan Barat.
Bagi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), persoalan pendidikan tidak cukup hanya dibicarakan. Mereka memilih turun langsung dengan membuka rumah belajar gratis bagi anak-anak, tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.
Ketua Presidium WKRI DPD Kalimantan Barat, Agnes Wahyurini, mengatakan rumah belajar tersebut menjadi salah satu karya nyata organisasi yang kini telah berusia 102 tahun.
"Rumah belajar ini kami buka untuk anak-anak mulai usia pra sekolah hingga kelas enam SD. Semuanya gratis dan terbuka untuk semua suku, agama, serta budaya. Kami tergerak karena pernah menemukan anak kelas tiga SD yang belum bisa menulis namanya sendiri," ujarnya di Pontianak, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut Agnes, perkembangan teknologi, khususnya penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak, juga menjadi perhatian organisasi. Karena itu, rumah belajar tidak hanya membantu anak memahami pelajaran, tetapi juga menjadi ruang pendampingan agar mereka tidak kehilangan minat belajar.
Meski pertemuan hanya dilakukan dua kali dalam sepekan, program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dan pemerintah desa di sejumlah wilayah. Tak berhenti pada bidang pendidikan, WKRI juga memperluas gerakannya ke isu lingkungan hidup. Kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dalam setiap kegiatan kini menjadi budaya yang diwajibkan bagi seluruh anggota sebagai upaya mengurangi sampah plastik. Gerakan itu kemudian berkembang menjadi kegiatan menanam tanaman obat keluarga hingga sayuran di berbagai daerah.
"Dari gerakan kecil itu akhirnya muncul kelompok tani di beberapa cabang. Bahkan sekarang berkembang menjadi kelompok tani hidroponik dan mendapat apresiasi dari pemerintah desa hingga Bupati Kubu Raya," kata Agnes.
Baginya, menjaga lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kelestarian alam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Di usia yang telah melampaui satu abad, WKRI juga menaruh perhatian besar terhadap perlindungan perempuan dan anak. Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-102, organisasi tersebut meluncurkan Laskartana, satuan tugas yang akan mendampingi korban kekerasan terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan.
Program itu dijalankan melalui kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), dengan harapan pendampingan dapat menjangkau hingga ke daerah-daerah.
"Laskartana akan mendampingi, memberikan pembinaan, serta menyemangati korban kekerasan. Kami ingin hadir sebagai bagian dari solusi, agar perempuan dan anak merasa terlindungi dan memiliki harapan untuk bangkit kembali," ungkapnya.
Agnes menambahkan, masih banyak perempuan, termasuk para ibu tunggal, yang membutuhkan dukungan agar mampu mandiri secara sosial maupun ekonomi. Karena itu, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu fokus gerakan organisasi ke depan.
Mengusung semangat "Lahir Kembali, Semakin Berarti", WKRI berharap kiprahnya tidak hanya dirasakan oleh para anggotanya, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
"Di usia 102 tahun ini kami tidak ingin hanya merayakan usia organisasi. Kami ingin terus bergerak bersama mengangkat harkat dan martabat perempuan serta anak, agar mereka semakin dihargai di keluarga, masyarakat, hingga kehidupan yang lebih luas," tutup Agnes.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....