Mengenang 85 Tahun Silam, Pontianak Diduduki Militer Jepang
- 30 Jun 2026 17:12 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Mayor Jenderal Kiyotake Kawaguchi dengan Brigade Kawaguchi-nya, setingkat brigade atau resimen tim pertempuran, merupakan ujung tombak pasukan Jepang di poros barat, memiliki tugas untuk merebut Borneo Utara dan Barat.
Pasukan Kawaguchi terdiri dari satuan-satuan Markas Komando Brigade XXXV, Resimen Infanteri CXXIV, peleton Zeni dari Resimen Zeni XII, Satuan Unit Perhubungan dari Divisi PHB 18, satu unit kesehatan dari Divisi Kesehatan XVIII, Rumah Sakit Lapangan IV dari Divisi XVIII, dan satu unit Penjernih Air dari Unit XI.
Brigade Kawaguchi juga diperkuat dengan satuan anti-udara dan empat kompi zeni lapangan khusus pengeboran minyak dan satuan pengamanan lapangan. Satuan Kawaguchi setelah merebut Borneo Utara protektorat Inggris, kemudian mengejar pasukan yang masuk ke wilayah Hindia Belanda dan merebut bagian barat Pulau Borneo.
Brigade Kawaguchi berangkat dari Cam Ranh dikawal oleh satuan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di bawah pimpinan Laksamana Madya Takeo Kurita dengan kapal penjelajah Kumano dan Suzuya.
Pangawalan jarak jauh dilakukan oleh Laksamana Madya Nobutake Kondo dengan penjelajah berat Atago dan Takao serta kapal perang, battleship, Haruno dan Konggo, serta destroyer lainnya. Bersama Brigade Kawaguchi juga berangkat Pasukan Pendarat Khusus Angkatan Laut II (2nd Yokosuka Naval Landing Force).
Setelah menaklukkan Miri dan Serian, dua batalion kemudian merebut Kuching, 22 Desember 1941, tanpa perlawanan.
Sebagian dari pasukan Inggris yang mempertahankan Kuching setelah menderita kerugian, melarikan diri ke wilayah Hindia Belanda dan mencapai Lapangan Terbang Singkawang II pada 29 Desember 1941.
Pasukan itu bergabung dengan 750 tentara KNIL Belanda untuk mempertahankan lapangan terbang. Belanda menempatkan satuan udara Angkatan Laut dengan tiga Dornier DO 24K yang tergabung dalam Naval Air Group GVT-1.
Komandan KNIL Garnisun Pontianak, Letnan Kolonel DPF Mars, memiliki kekuatan sekitar 500 pasukan. Letkol Mars merupakan Komandan Pasukan Teritorial Belanda di Borneo Barat, Territoriaal Commando Westerafdeling van Borneo.
Seluruh kekuatan Belanda di Borneo Barat meliputi KNIL Garnisun Borneo Barat, Kompi Infanteri Stadwacht di Pontianak dengan kekuatan sekitar 125 orang, Baterai Artileri Udara (2x meriam 40 mm) dan beberapa senjata antiudara lainnya, Peleton Mobil bantuan pertolongan pertama pada kecelakaan, Brigade Stadwacht di Singkawang dengan kekuatan 50 orang, dan Brigade Stadwacht di Sintang.
Jepang menggerakkan kekuatan angkatan bersenjatanya yang besar untuk menguasai seluruh Hindia Belanda. Selanjutnya, Pulau Kalimantan dan Sumatera harus diduduki sebagai syarat untuk mengepung Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda.
Kalimantan memiliki arti penting karena letaknya di tengah lalu lintas Asia Tenggara di Laut Cina Selatan menuju Sumatera, Jawa, ataupun Indonesia Timur, serta mempunyai kekayaan alam yang besar.
Kalimantan Barat merupakan tujuan pertama dalam jaringan pendudukan Jepang terhadap wilayah Indonesia. Jepang, memberi jalan semakin lebar bagi balatentara Jepang untuk merengsek Asia Tenggara. Satu persatu, seperti menunggu nasib, daerah yang mengelilingi Hindia Belanda rontok.
Keberanian penerbang A6M2 Zero, A3M2 Nell, dan jenis lainnya, di mana ribuan jumlahnya, dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang, sekonyong-konyong mengagetkan pertahanan ABDA (American, British, Dutch, Australian). Kekuatan tentara Belanda di Kalimantan Barat lebih kurang satu batalyon di bawah pimpinan Overste Mars dibagi empat kompi.
Pada 19 Desember 1941, Jumat, pukul 11 tengah hari, sembilan pesawat udara Jepang telah membom Kota Pontianak dengan sasaran Kampung Bali, Parit Besar, dan Kampung Melayu.
Sasaran utamanya ialah Tangsi Militer Belanda, Fort du Bus. Rakyat dibuat panik dan banyak yang mengungsi ke luar kota akibat serangan ini. Pesawat pemburu Belanda yang bertolak dari Sanggau Ledo mengadakan serangan pembalasan dan terjadi pertempuran udara yang sengit di wilayah Mempawah.
Selanjutnya berturut-turut pada 19, 22, dan 27 Desember 1941, Kota Pontianak terus menerus dihujani bom sehingga menghanguskan Kampung Bali dan Parit Besar serta wilayah kota lainnya.
Kapal Lien dan Irma milik Pontianak River Transport Diens yang merupakan angkutan andalan sungai pada masa itu dibom tenggelam di Sukalanting, sekitar 30 Km dari Kota Pontianak. Kapal Sri Kapuas dan West Borneo tidak diketahui nasibnya. Demikian pula kapal swasta Kong Neng, Kong Fa, dan lainnya yang berlayar hingga Putussibau.

Pada 23 Desember 1941, dua puluh empat pesawat Jepang melakukan pemboman terhadap Lapangan Terbang Singkawang II di Sanggau Ledo dan merusak landasan pacunya. Pesawat terbang Belanda yang diperintahkan untuk melakukan penyerangan terhadap konvoi Jepang tidak dapat take-off dengan muatan bom.
Dalam keadaan seperti itu pasukan udara Belanda diperintahkan untuk meninggalkan Singkawang II menuju Sumatera. Pada 24 Desember, sesuai perintah, mereka terbang menuju Palembang sebagai pangkalan udara Belanda selanjutnya.
Armada Angkatan Laut Dai Nippon, Kaigun, mendarat di perairan utara Kalimantan Barat di Pemangkat lewat Tanjung Kodok pada 22 Januari 1942. Sedikitnya berjumlah 3.000 orang mereka berasal dari Sarawak yang merupakan kesatuan tempur Pasukan XXIX.
Pendaratan itu tidak mendapat hadangan dari tentara Belanda yang sudah kocar-kacir. Meski sempat bertahan di kawasan Gunung Pendering 45 Km arah timur Singkawang. Hampir pada waktu bersamaan di tempat terpisah, pendaratan itu terjadi pula di Ketapang.
Belanda memiliki perhitungan lain, membumihanguskan beberapa kota sebelum ditinggalkan, seperti Sambas, Mempawah, dan Landak Ngabang. Dalam perkembangan yang begitu cepat, setelah Pemangkat dan Singkawang direbut dan dikuasai, dari sini balatentara Jepang membagi dua kekuatan pasukan militernya.
Sebagian bergerak ke arah selatan bergabung dengan pasukan yang telah mendarat lebih dahulu di muara Sungai Kapuas, bagian ini kemudian merebut dan menguasai Kota Pontianak sepenuhnya sejak 2 Februari 1942.
Pada bagian keduanya, bergerak ke arah timur untuk merebut pangkalan udara Sanggau Ledo Singkawang II. Setelah pangkalan udara ini direbut, lumpuhlah kekuatan udara Belanda. Bahkan seluruh kekuatan militer dan kekuasaannya di Kalimantan Barat pun berakhir.
Awal Februari 1942, Pontianak sepenuhnya diduduki Jepang tanpa perlawanan. Tentara KNIL pimpinan Overste Mars sebelumnya mengundurkan pasukannya ke Nanga Sokan Afdeling Sintang untuk bergabung dengan KNIL di Banjarmasin.
Di sana merencanakan bertahan di Gunung Kerihun hulu Kapuas di bawah pimpinan Gubernur Borneo Dr BJ Haga yang telah menyingkir ke pedalaman. Pada 15 Februari 1942, Jepang menguasai Banjarmasin, sehingga rencana pemusatan kekuatan di Gunung Kerihun yang strategis di jantung Pulau Borneo tak direalisasikan.
Bahkan seluruh KNIL ditawan serdadu Jepang dan dikirim ke rumah penjara Kuching Kamp di Sarawak.
Militer Belanda diperkuat sedikit pasukan KNIL di Pontianak, sebagian melarikan diri ke Ngabang Landak arah timur kota ini. Ketika itu Ngabang telah diduduki Jepang, meskipun pasukan Jepang yang ada belum memadai jumlahnya.
Menghindari pertempuran dengan Jepang, pasukan Belanda meneruskan pelarian ke Sanggau Kapuas, seterusnya ke Melawi dan Kotabaru Sintang. Akan tetapi, sebelum melarikan diri, mereka lebih dahulu menghancurkan jembatan Landak Ngabang yang terkenal besar dan megah di atas Sungai Landak dengan dinamit.
Jembatan ini saat diledakkan belum setahun peresmiannya oleh Gezagghebber van Landak, AB Fabber, Juli 1941.
Gerak cepat menuju Pontianak, pasukan XXIX balatetara Jepang Dai Nippon dari Sarawak menangkap lima orang pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda di Mempawah. Seorang di antaranya, Controleur van Mempawah Jan van Appel langsung dipenggal kepalanya.
Adapun empat orang lainnya ditawan di Pontianak, dua orang tawanan merupakan pegawai Javasche Bank, sebuah bank pemerintah Hindia Belanda mengalami nasib yang serupa van Appel.
Disaksikan massa rakyat di Pelabuhan Then Seng Hie tepi Sungai Kapuas Pontianak yang tidak jauh dari Gedung Jacobson van den Berg, keduanya tewas. Adapun Dr AJ Knibbe, Controleur van Pontianak, ditawan di kamp militer bekas KMK Belanda dan mendapat penyiksaan berat.
Ketika Kalimantan Barat mulai diduduki Jepang, kekuatan militer Belanda sudah tidak seberapa besar untuk ukuran pertahanan daerah. Seluruh kekuatan militer Belanda pada saat itu, 700 personil.
Awal Desember 1941, memperkuat posisi ini sekaligus untuk mempertahankan Kalimantan Barat, dari Jawa dikirim delapan brigade di bawah komando Overste Gortmans, menggantikan Overste Marks yang sebelumnya selaku komandan teritorial. Gortmans mengarahkan pertahanan pasukan ke daerah Sanggau Ledo dan Seluas.
Hingga akhir kekuasaan pemeritahan Hindia Belanda, 1941, kekuatan militer Belanda di sini sekitar satu batalion di bawah pimpinan Overste Marks. Masing-masing dengan kekuatan Kompi I dipimpin Kapten Martin di Pontianak, Kompi II dipimpin Kapten van Sprio di Sintang, Kompi III dipimpin Kapten de Houde di Singkawang, dan Kompi IV dipimpin Kapten Touwen di Ketapang.
Menjelang pecah Perang Dunia II, kekuatan itu ditambah pasukan artileri, kaveleri dan korps kesehatan yang khusus didatangkan dari Jawa.
Adapun yang didatangkan dari Sumatera terdiri dari pasukan gerilya istimewa satu peleton serta tambahan tenaga lainnya dipimpin Overste Gortman. Dislokasi pasukan diperluas meliputi Ketapang, Sukadana, Ngabang, Nanga Tayap, Sintang, Bengkayang, Pemangkat, Sambas, Sanggau Ledo, dan Pontianak.
Kekuatan senjata militer Belanda masing-masing satu Peleton Penangkis Serangan Udara terdiri tiga unit 12,7 dan dua unit meriam kecil lapangan, satu Kompi Bantuan Anti Tank dan senapan mesin berat serta satu kelompok kendaraan lapis baja.
Pergerakan pasukan di wilayah itu memakai perahu sepanjang Sungai Sambas. Untuk ke tempat lain dari perahu dipindahkan ke kapal yang lebih besar.
Kota Pontianak berhasil direbut pasukan Jepang pada 29 Januari 1942, setelah dua hari sebelumnya merebut Singkawang. Pada hari yang sama Jepang mendarat di Tanjung Kodok, Pemangkat, merebut Sambas dan Ledo pada 27 Januari 1942. Seperti juga banyak terdapat di wilayah lain, di dekat Ledo dibangun lapangan terbang rahasia Singkawang II.
Lapangan terbang itu dipertahankan oleh unit pasukan udara, tetapi segera setelah Jepang menyerang pesawat dan pasukannya dipindahkan ke Palembang, Sumatera Selatan.
Kekuatan udara Belanda di Singkawang II ialah Skuadron 2 (2-VI.G.I) dengan 11 WH-3A dengan komandan skuadron Kapten R de Seneport Domis. Di samping itu juga terdapat skuadron pemburu satu minus (1-VI.G.V) dengan lima pesawat B-339 di bawah pimpinan Letnan Satu AAM van Rest.
Lapangan Terbang Singkawang II juga dapat direbut oleh Jepang pada 27 Januari 1942. Setelah merebut lapangan terbang, pasukan Jepang meneruskan serangan ke Kota Ngabang dan berhasil merebutnya pada 31 Januari 1942.
Pada 25 Desember 1941, pasukan Inggris mengundurkan diri ke wilayah Hindia Belanda melalui Kuching. Sebagian pasukan dari Batalion 2 Resimen 15 Punjabi Inggris telah dihancurkan oleh pasukan dari Brigade Kawaguchi di selatan Kuching.
Empat perwira Inggris dan 230 pasukan India tertangkap atau dibunuh, sisa batalion melarikan diri ke selatan wilayah Hindia Belanda. Mereka mengalami kesulitan menyeberang sungai.
Tetapi akhirnya setelah menempuh perjalanan yang sulit sejauh 60 mil melalui hutan lebat, mereka sampai di Singkawang II, 31 Desember 1941. Pesawat Belanda di Singkawang II pada saat itu telah dipindahkan ke Sumatera.
Pasukan Inggris yang masuk ke wilayah Hindia Belanda bergabung dan di bawah perintah dari komando pasukan Belanda. Tentara Jepang mencoba untuk merebut Lapangan Terbang Singkawang II dari utara dan juga dari pasukan pendarat dari arah laut sebelah barat. Usaha tersebut terhambat dengan cuaca yang buruk selama hampir seminggu.
Pada 24 Januari 1942, lima kompi Jepang berjalan melalui perbatasan Hindia Belanda dan mencapai utara lapangan terbang pada 25 Januari. Tentara Sekutu yang bertahan di Singkawang II melalukan penghancuran barak dan gudang serta mencoba melakukan serangan balasan, akan tetapi gagal.
Pada 27 Januari 1942, pasukan Belanda dan Inggris diperintahkan untuk mengundurkan diri dari lapangan terbang. Saat pengunduran dua peleton pasukan Inggris dari Punjabi dikepung, tetapi tidak mau menyerah.
Mereka bertempur di bawah pimpinan perwira India sampai malam hari. Namun karena mereka kehabisan peluru dan bertempur melawan musuh yang jauh lebih kuat, akhirnya mereka menyerah.
Pihak Jepang mengalami kerugian sekitar 400 sampai 500 orang tewas dan luka-luka. Dari 70 orang Punjabi yang bertempur, hanya tiga orang yang selamat dan melarikan diri. Sisanya tidak pernah terlihat lagi dan terdapat indikasi bahwa mereka dibunuh secara brutal oleh tentara Jepang.
Pada 27 Januari, pasukan Punjabi menyeberangi Sungai Sambas dan mengambil posisi pertahanan di ketinggian Ledo, 15 mil sebelah barat daya lapangan terbang.
Pada saat yang sama tiga kompi pasukan Jepang telah meninggalkan Kuching dengan kapal kecil pada malam 25 Januari dan mendarat 27 Januari di Pemangkat, sebelah barat Lapangan Terbang Singkawang II.
Tanpa perlawanan yang berarti mereka menyeberang dan merebut desa nelayan serta melanjutkan ke Bengkayang sehingga mengepung pasukan Sekutu yang sebelumnya berada di Ledo.
Setelah pertempuran di Singkawang II pasukan Inggris dan Belanda mundur menuju Sanggau. Dari Sanggau pasukan kedua negara berpisah. Pasukan Belanda menuju Sintang, sedangkan Inggris menuju Nanga Pinoh.
Pada 29 Januari setelah pengunduran, tentara Punjabi mundur ke Ngabang Landak dan dua hari kemudian ke Nanga Pinoh. Karena situasi yang terdesak, pada 4 Februari atas persetujuan pihak Belanda, tentara Punjabi menuju Sampit dan Pangkalanbun di pantai selatan Pulau Borneo.
Pasukan Inggris yang bergerak menuju pantai terbagi dalam tiga bagian, yaitu Kompi A (Sikh), Kompi B (PM) dan sebagian dari Kompi Markas (Hindu) di bawah komando Mayor Milligan berada di bagian barat menempuh rute terdekat.
Adapun Kompi C (Khattach), Kompi D (Jat) dan sebagian dari Kompi Markas (Hindu) di bawah Letkol Ross Thompson, berada di bagian timur. Satu bagian lagi terdiri dari dua orang perwira dan empat anggota yang disebut the blitzparty yang bertugas secepatnya menuju Sampit untuk mencari kontak dengan Pulau Jawa.
Sebelum perebutan Samarinda II, lapangan terbang serupa yang dibangun Belanda ialah Singkawang II dekat Ledo. Singkawang II dipertahankan oleh Kapten KNIL C Terluin dengan skuadron pemburu ke 2 dengan 11 pesawat WH-3A Kapten R de Seneport Domis dan Skuadron 1 dengan 5B-339D Letnan Satu AAM van Rest.
Singkawang segera ditinggalkan Belanda begitu Jepang menyerang melakukan serangan udara Jepang menguasai Singkawang II pada 29 Januari 1942.
Pendaratan pertama pasukan Angkatan Laut Jepang di wilayah Borneo yang terjadi pada awal Perang Dunia II, 26 Januari 1942, mendadak dikejutkan bunyi alarm tanda bahaya.
Ternyata Kota Pontianak dibom oleh beberapa pesawat tempur Jepang, sebelumnya 19 Desember 1941 Kota Pontianak telah dihujani bom oleh sembilan pesawat Jepang, yang menelan korban ribuan warga sipil. Serentak warga kota segera memasuki tempat perlindungan udara yang telah dipersiapkan di seputar kota.
Beberapa saat berlalu, tetapi tidak banyak kerugian yang ditimbulkan dan tidak ada korban jiwa pada serangan kali ini. Sore harinya sekitar pukul 18, terlihat jelas dua pesawat terbang amfibi mendarat di permukaan Sungai Kapuas yang tenang.
Ketika mereka melihat ada petugas yang menggotong keluar jenazah seorang pilot dan seorang lainnya yang terluka dengan tergesa-gesa, akibat tertembak tentara Jepang sewaktu mereka menyerang kapal perang penjelajah Jepang sampai tenggelam di perairan sebelah utara Pemangkat.
Hal ini menandakan bahwa pasukan Jepang sebenarnya sudah dekat. Malam pukul 21, di Bruderan disinyalir bahwa armada kapal perang Angkatan Laut Jepang telah berada di perairan sebelah barat West Borneo (Kalimantan Barat).
Pada dinihari, subuh 27 Januari 1942, diterima berita bahwa tentara Jepang telah mendarat di Kota Pemangkat dan mulai malam itu juga hubungan komunikasi telepon dengan Kota Singkawang terputus.
Tidak lama kemudian pada 28 Januari 1942, menyusul Kota Mempawah, yang berjarak 60 Km sebelah utara Pontianak, hubungan komunikasi juga tidak berfungsi lagi.
Penguasa Kota Pontianak akhirnya mulai mengambil langkah pengungsian serta membumi-hanguskan pelabuhan, steiger, pabrik, gudang karet, gudang kopra, minyak, dan lain-lain serta semuanya dibakar.
Selain itu rumah-rumah dinas juga ikut dibakar. Drum-drum minyak meledak, asap hitam segera membubung tinggi ke udara, dan bau asap menyebar di mana-mana menyesakkan napas.
Gudang-gudang yang penuh berisi keperluan bahan sehari-hari, ratusan ton, dibuka. Setiap orang diperbolehkan mengambil atau mengangkut semampunya. Kelihatannya tidak ada orang berpikir bahaya yang menghadang mereka.
Sementara itu bom-bom masih dijatuhkan di seputar Kota Pontianak, di antaranya dijatuhkan sangat dekat dengan kapal laut KPM yang sedang menaikkan anak-anak dan perempuan, rombongan terakhir yang mengungsi. Penjaga keamanan kota dan militer sudah meninggalkan tugasnya, yang tersisa hanya polisi bumiputra dan pejabat sipil.
Pada keesokan harinya massa mulai menjarah toko-toko, dan gudang partikelir. Sepanjang malam itu dilalui dengan perasaan tegang dan mencekam serta dipenuhi perasaan khawatir tentang apa yang akan terjadi esok harinya.
Langit di atas Kota Pontianak tampak merah membara dengan gumpalan asap hitam membubung tinggi melayang-layang di udara, dan sesekali terdengar suara ledakan. Sentral listrik, Aniem, telah lumpuh dan hancur, sesekali masih terdengar ledakan dahsyat sehingga sangat terasa guncangan di perumahan.
Akhirnya, pada Kamis 29 Januari 1942, balatentara militer Dai Nippon Jepang mulai memasuki Kota Pontianak yang boleh dikata tanpa ada perlawanan yang berarti. Meskipun demikian, tentara Dai Nippon ini terlihat ekstra berhati-hati dan selalu bersiaga penuh.
Sepanjang hari masih sempat terdengar beberapa kali alarm tanda bahaya dibunyikan. Pada Kamis, sore hari pukul 15, untuk pertama kalinya mulai terlihat sosok-sosok balatentara Jepang berkeliaran dalam kota.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Sejarawan Kalbar)
Baca juga: Pembantaian Jepang di Mandor, Kalbar Kehilangan Satu Generasi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....