Masa Pendudukan Jepang Kalbar Kehilangan Generasi Terbaik
- 25 Jun 2026 12:15 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pusat tumpuan dari sejarah pendudukan militer Dai Nippon Jepang di daerah Kalimantan Barat adalah peristiwa pembunuhan besar-besaran pada pertengahan 1944.
Sebagian besar kegiatan fisik dan non-fisik yang mengisi periode pendudukan Jepang itu bertumpu kepada, dan bersangkut-paut dengan, peristiwa pembunuhan massal itu. Baik proloog maupun epiloognya. Baik langsung maupun tak langsung.
Oleh karena itu, dalam pengungkapan sejarah periode ini, peristiwa pembunuhan yang barangkali tiada duanya terjadi di tanah air itu, perlu diungkapkan dalam bentuknya yang utuh, lengkap dan benar.
Fakta adanya pembunuhan massal itu sendiri tidaklah perlu kepada data pembuktian lagi. Peristiwa itu memang benar-benar terjadi. Dia bisa dibaca dalam surat kabar lokal Borneo Simbun yang terbit di Pontianak 1 Juli 1944, dia bisa ditanya kepada keluarga para korban dan masyarakat umum yang masih hidup, dan dia bisa dilihat dan diraba di pekuburan massal di Kopyang Mandor Landak.
Akan tetapi data dan pembuktian tentang sebab musababnya, hampir tiada. Tersebab pula dia berkubur bersama beribu-ribu korban perang yang sudah lebih dulu meninggalkan, dan hilang bersama lenyapnya orang-orang Jepang yang melakukannya.
Satu hal yang jelas dalam masalah ini, ialah tidak mungkin dan tidak masuk akal, bahwa Jepang melakukan pembunuhan massal itu tanpa alasan dan tanpa motif sama sekali, seolah-olah mereka membunuh asal membunuh saja, apalagi bila yang dibunuh bukan sepuluh dua puluh orang, melainkan ribuan orang.
Apabila ada pendapat yang meyakini, bahwa tidak ada komplotan untuk memberontak, seakan-akan komplotan pemberontak, seperti yang diungkapkan dalam surat kabar Borneo Simbun edisi 1 Juli 1944 itu, hanya isapan jempol Jepang belaka, maka pendapat ini pasti tidak dapat menunjukkan bukti apapun tentang kebenarannya
Sebab pada satu pihak tidak ada pengakuan Jepang sendiri yang menyatakan tidak adanya komplotan untuk memberontak, ataupun pengakuan Jepang tentang motif tindakan mereka yang mereka sembunyikan. Sedangkan di pihak lain tidak ada pula seorang pun dari calon korban yang dibunuh oleh Jepang itu yang lolos dari hukuman dan memberikan keterangan tentang tidak adanya komplotan untuk memberontak.
Karena itu dapat dikatakan, bahwa pendapat ini hanya berdasarkan kepada sangka-sangkaan saja, lebih dari itu tidak.
Adalah yang menyebabkan militer Jepang melakukan tindakan pembunuhan massal di daerah Kalimantan Barat pada pertengahan 1944 itu, lantaran adanya gerakan ataupun "komplotan" untuk memberontak melawan Jepang. Namun rencananya keburu diketahui dan segera ditumpas oleh penguasa perang Jepang.
Komplotan pemberontak ini, sebutlah demikian, terdiri dari para pemimpin pergerakan dari golongan nasionalis dan pemuka Islam, antara lain Parindra dan Muhammadiyah, serta pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka masyarakat lainnya secara perorangan [non-organisasi]. Kesemuanya dari kalangan yang bercita-cita kemerdekaan.
Menjadi penyebab dari gerakan atau komplotan pemberontak itu, ialah penindasan yang melewati batas dengan segala akibatnya dari penguasa perang militer Jepang di daerah Kalimantan Barat, yang mendorong dan memaksa pemimpin-pemimpin pergerakan kemerdekaan untuk melawan.
Diinsyafi, penindasan mana tidak terjadi di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia seberat yang terjadi di daerah Kalimantan Barat, sehingga di daerah-daerah lain tidak terjadi pembunuhan massal seperti halnya terjadi di daerah Kalimantan Barat. Tentu bukannya lantaran kaum pergerakan kemerdekaan di Kalimantan Barat lebih unggul jiwa nasionalismenya daripada di daerah-daerah lain.
Adapun landasan yang menjiwai serta motif daripada gerakan atau komplotan pemberontakan di pihak kaum pergerakan kemerdekaan yang ditumpas oleh Jepang itu, tidaklah lain daripada cita-cita kemerdekaan bangsa.
Dan inilah titik sentral dari seluruh peristiwa sejarah pembunuhan massal di daerah Kopyang Mandor Landak serta beberapa tempat lainnya Kalimantan Barat itu. Dalam pembunuhan massal itu dibunuh juga para sultan dan raja dari duabelas kerajaan di Kalimantan Barat, yang merupakan golongan tersendiri, yang lebih dekat dan dapat diafiliasikan kepada golongan nasionalis dan Islam yang pro-kemerdekaan.
Dalam pembunuhan massal itu turut pula terbunuh dalam penumpasan sekali sapu para pemuka dari golongan lain, yang tidak termasuk dalam golongan yang pro-kemerdekaan, tapi merupakan musuh juga bagi Jepang.
Dalam pembunuhan massal itu dibunuh pula mereka dari golongan menengah, yang dianggap oleh Jepang sebagai satu lapisan masyarakat yang menjadi pengikut dan pendukung dari para pemimpin rakyat lapisan atas.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Sejarawan Kalbar)
Baca juga: Lim Bak Yo dan Tio Phia Cheng Gugur Menentang Fasis Jepang
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....