Lim Bak Yo dan Tio Phia Cheng Gugur Menentang Fasis Jepang

  • 25 Jun 2026 11:27 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pada 82 tahun silam meletuslah sebuah peristiwa yang besar dalam sejarah Kalimantan Barat. Peristiwa itu terjadi selama periode pendudukan militer Dai Nippon Teikoku Jepang. Ini adalah suatu peristiwa sejarah yang barangkali tidak ada duanya yang terjadi di tanah air pada waktu itu.

Dan peristiwa penangkapan besar-besaran, disusul dengan pembunuhan besar-besaran yang buas dan keji atas ribuan orang dari semua golongan dan lapisan, terutama lapisan atas atau pimpinan masyarakat Kalimantan Barat, juga sebagian dari lapisan menengah, sampai kepada rakyat kecil.

Tercatatlah bahwa pada 23 Oktober 1943 berlangsung penangkapan besar-besaran yang pertama di kota Pontianak. Adalah sangat mungkin juga di kota dan tempat dan tempat lain di seluruh daerah Kalimantan Barat.

"Disebut penangkapan besar-besaran karena meliputi jumlah orang yang banyak, dan lantaran itu tidak dapat dilakukan oleh Jepang dengan sembunyi-sembunyi", ungkap Santyoso Tio SH MH, tokoh masyarakat Kalimantan Barat yang juga salah seorang ahli waris Pejuang Perintis Kemerdekaan di Kalimantan Barat.

"Sebelum itu mungkin juga sudah dimulai dengan penangkapan-penangkapan, baik di Pontianak maupun di kota dan tempat lain di seluruh Kalimantan Barat. Namun tidak menyolok dan tidak diketahui oleh masyarakat umum", ungkap cucu kandung Tio Phia Cheng dan Lim Bak Yo dua orang tokoh Kalimantan Barat yang gugur menentang fasis militer Jepang di Ketapang.

Adapun penangkapan besar-besaran seperti yang terjadi di Pontianak pada 23 Oktober 1943 itu, dan seperti yang disaksikan oleh banyak orang yang kebetulan melihat kejadiannya, dimulai sejak dinihari.

Serdadu-serdadu Jepang yang melakukan penangkapan itu menggunakan sebuah kenderaan truk yang diberi selubung kain terpal hitam. Kenderaan ini kemudian terkenal dengan sebutan mobil sungkup, auto sungkup, karena orang-orang yang ditangkap itu kepalanya diselubungi atau menurut istilah Pontianak disungkup dengan sarung bantal ataupun kain-kain lainnya, lalu didorong, atau ditendang ataupun dijerumuskan ke dalam truk tersebut, secara simpang-siur dan bersusun tindih, lebih kasar dari perlakuan manusia yang memasukkan hewan ke dalam truk.

Sejak itu terkenallah seorang serdadu Jepang bernama Nakatani, yang mengepalai pelaksanaan penangkapan itu, terkenal pula komandan Kenpeitai bernama Yamamoto dan seorang intelijen bernama Hayashi yang ke mana-mana berpakaian preman.

Kepala Pontianak Hoosoo Kyoku sendiri kelihatannya seperti tidak mengerti duduk perkara. Sedangkan Sin Meo dan Unno tampak serius sekali. Dari sikap dan kata-kata mereka beroleh kesan, bahwa orang-orang Jepang sipil itu sebenarnya takut pula terhadap Kenpeitai mereka sendiri, dan mengenai hal-hal yang penting yang bersifat rahasia belum tentu pula mereka mengetahuinya.

Jawabannya masih juga terus dicari, lebih-lebih bila jawaban yang diperlukan itu dipertautkan dengan nasib diri sendiri. Mungkin mereka yang ditangkap itu berbuat kesalahan yang tidak disengaja, tetapi kesalahan yang besar menurut kacamata Jepang.

Mungkin juga Jepang salah tangkap lantaran salah paham ataupun salah informasi dari mata-mata mereka. Itu semua barulah akan diketahui nanti bila perkaranya diperiksa.

Akan tetapi melihat kepada Jepang melakukan penangkapan itu hanya soal yang kecil atau remeh saja. Dapat dikatakan masing-masing orang berikhtiar memperoleh informasi sebanyak-banyaknya di kalangan sesama penduduk yang awam, yang sama-sama tidak tahu banyak, sehingga bukannya jawaban yang diperoleh, melainkan cerita-cerita yang kacau balau, yang akhirnya membingungkan semua kepala.

Belum sempat lagi mengendapkan perasaan yang gemuruh dan mengheningkan pikiran yang kacau, penduduk Kalimantan Barat dikejutkan lagi dengan sergapan tangkapan besar-besaran yang kedua pada 24 Januari 1944, yaitu kurang lebih tiga bulan sesudah penangkapan massal yang pertama.

"Maka habislah kiranya seluruh lapisan pimpinan masyarakat, raja-rajanya, ulama-ulamanya, para cerdik cendekianya, orang-orang kaya, dokter dan guru, pemimpin-pemimpin organisasi dan pemuka-pemuka masyarakat", dengan Santyoso Tio dengan perasaan haru.

Serasa seolah terjadi semacam perang yang tidak diproklamirkan dan tidak berbunyi di daerah Kalimantan Barat. Rakyat Kalimantan Barat kehilangan pemimpin-pemimpin sekaligus semuanya, baik yang lapisan atasnya maupun yang menengahnya. Seperti anak ayam kehilangan induknya.

"Harta bendapun turut hilang juga, sebab Jepang memang tidak menyia-nyiakan kesempatan yang baik buat mereka", ungkap tokoh masyarakat Kalimantan Barat ini.

Mahkota-mahkota dari duabelas sultan dan raja, yang emas murni bertatahkan ratna mutu manikam dan berbalutkan perhiasan intan baiduri, diangkut oleh balatentara Dai Nippon Jepang dikala menangkap sultan dan raja serta kerabatnya.

Bahkan barang-barang lainpun, yang berharga di mata Jepang, diambilnya seolah menyita, padahal barang-barang itu serasa tidak ada sangkut pautnya dengan bukti perkara. Yang demikian itu tidak terbatas kepada harta raja-raja dan orang-orang berada saja.

"Di rumah siapapun yang kelihatan ada barang berharga buat mereka, mereka bawa pergi ketika melakukan penangkapan", ujar Santyoso sembari mengenang kakeknya, Lim Bak Yo, seorang laothay yang akrab dengan Panembahan Ketapang Gusti Mohammad Saunan.

Bahkan sesudah itupun mereka masih memperoleh barang-barang lain yang menyusul, dengan cara menyampaikan pesan ataupun surat permintaan, seolah-olah dari mereka yang ditahan itu, kepada keluarga masing-masing.

Dan keluarga yang ditinggalkanpun tidak sayang-sayang menyerahkan apa yang diminta itu dengan perantaraan petugas Jepang. Sekalipun terlintas juga pertanyaan, mengapa orang yang ditahan meminta perhiasan emas intan ataupun pakaian yang terbaik, yang biasanya tidak diperlukan dalam penjara, pada waktu itu orang tidak sempat merenungkan, bahwa sampai sebegitu jauhlah Jepang merampok harta penduduk.

Kesalahan apa gerangan yang telah diperbuat oleh mereka yang ditangkap oleh Jepang secara kasar dan dengan sikap bermusuhan itu, merupakan satu misteri buat rakyat yang awam. "Tetapi bagaimanapun orang belum berputus asa melainkan harap-harap cemas. Mungkin saja ada yang dibebaskan nanti setelah ternyata tidak bersalah", ungkap Santyoso mengingat masa 82 tahun silam .

Maka tertujulah perhatian, yang menantikan kapan akan dibuka sidang pengadilannya, bagaimana cara mengadili beribu-ribu orang itu, dan bagaimana cara melakukan pembelaan ataupun mendapatkan pembela.

"Masalah pembelaan buat para tertuduh inilah yang dianggap penting pada waktu itu, sebab di sinilah letak penentuan nasib para terdakwa, apakah dihukum ringan atau berat", ujarnya.

Dan belakangan kemudian diketahuilah, dua orang kakeknya, Lim Bak Yo Laothay terkemuka Ketapang dan Tio Phia Cheng seorang pengusaha dermawan Ketapang pada masanya, gugur sebagai pejuang perintis kolektif kemerdekaan bangsa Indonesia.

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Sejarawan Kalbar)

Baca juga: Korban Jepang Adalah Para Pejuang Kalimantan Barat

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....