Awal Kebengisan Jepang, Malapetaka di Istana Kadriyah Pontianak
- 24 Jun 2026 10:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Rencana militer Dai Nippon Teikoku Jepang untuk daerah Kalimantan Barat ini di masa Perang Dunia ke dua semakin jelas setelah memasuki tahun 1943.
Saat itu di mana Jepang dengan segala keganasan dan kekejamannya mulai menangkap beberapa orang tokoh terkemuka antara lain Ahmad Maidin pedagang, Mohamad Syarif Demang Siantan, Burhanuddin pegawai, Marah Kesuma Indra Mahjuddin pedagang serta dua orang Tionghoa The Hay Sia dan The Sheng Nguang.
Setelah beberapa hari diperiksa, mereka ini dikeluarkan lagi, kecuali Ahmad Maidin yang kemudian diarak keliling kota Pontianak dengan tangan dipasung ke belakang, sedang di punggungnya digantungkan tulisan Orang Jahat. Setelah itu, hilang lenyaplah Ahmad Maidin tanpa diketahui di mana ia dibantai dan dikuburkan.
Sekali pun kemudian timbul perubahan penguasaan daerah Kalimantan Barat dari pemerintahan Angkatan Darat kepada Angkatan Laut, dari pasukan Rikugun [Bintang] kepada pasukan Kaigun [Jangkar], kesemuanya nyaris tidak membawa perobahan apa-apa.
Dengan lain perkataan, bahwa baik Rikugun maupun Kaigun sama saja, malahan yang tersebut belakangan ini lebih keji dan ganas lagi. Semua perkumpulan politik, perkumpulan sosial sampai kepada perkumpulan kecil sekalipun semua dilarang.
Suka atau tidak suka masyarakat terpelajar harus menerima kehadiran perkumpulan Nissinkwai yang dibentuk Jepang, sebagai ganti perkumpulan-perkumpulan yang telah dilarang tadi.
Pembentukan Nissinkwai yang dipaksakan ini direstui oleh Syutizityo [residen] Kalimantan Barat, sedang yang memimpinnya dipercayakan kepada RPM Zubir Notosoedjono, dr Roebini, JE Pattiasina dan Pangeran Adipati serta tokoh-tokoh terkemuka lainnya.
Nissinkwai langsung berada di bawah kekuasaan Letnan Kolonel Yamakawa, Komandan Territorial, dibantu oleh perwira Kempeitai Kapten Yamamoto, Kapten Nakatani dan Letnan Hayashi. Tiga orang perwira inilah yang paling ditakuti dan yang paling menentukan dalam memberikan warna kepada daerah Kalimantan Barat.
Pemerintah Militer Pendudukan Jepang mengharapkan terselenggaranya Nissinkwai, seluruh kegiatan masyarakat termasuk para pemuda dan wanitanya, mendahulukan kepentingan peperangan Asia Timur Raya.
Baik pemerintah Jepang maupun Nissinkwai, nampaknya sejalan dengan apa yang telah digariskan, saling memanfaatkan, namun berlainan tujuan. Tetapi apa yang telah diperhitungkan secara teliti dan akurat, bukan saja tidak membawa hasil, melainkan malapetaka.
Suatu malapetaka yang amat mengerikan yang pernah terhadi di daerah Kalimantan Barat yang belakangan dikenal dengan Peristiwa Mandor Berdarah 28 Juni 1944.
Nissinkwai yang bergerak dalam dua macam arah mencoba untuk mematangkan situasi. Baik pemerintah militer Jepang, maupun Nissinkwai di balik layar, masing-masing memiliki kepentingan yang sama, yakni saling memanfaatkan, tetapi dengan tujuan yang saling berbeda dan bertentangan.
Jepang yang berada di pihak yang kuat dan berkuasa, serakah dan rakus adalah pihak yang paling menentukan. Sementara itu Jepang mulai curiga terhadap segolongan keluarga kesultanan dan kerajaan, golongan terpelajar intelektual dan kaum pergerakan.
Purbasangka itu bertambah kuat beralasan, setelah mereka menerima laporan dari kaki tangan dan mata-matanya mengenai adanya aksi-aksi gelap yang akan merugikan rezim pemerintah militer Jepang, yang dikaitkannya dengan rangkaian kunjungan dr Soesilo dan Ir Makaliwey (Noomo Kakarityo) dari Banjarmasin ke Pontianak.
Kedua tokoh ini dikirim dari Kalimantan Selatan sebagai utusan Gubernur Borneo Dr BJ Haga untuk berunding dengan para pemimpin Nissinkwai antara lain Pangeran Adipati Sri Maharaja, dr Roebini dan Raden Pandji Mohammad Dzubier Notosoedjono. .
Rencana komplotan Dr BJ Haga akan mengadakan suatu pemberontakan terhadap kekuasaan Jepang pada Januari 1944, di saat Banjarmasin diserang dari udara oleh tentara Sekutu.
Akan tetapi, yang terjadi sebaliknya adalah tindakan militer Dai Nippon Jepang untuk pertama kalinya pada 24 Januari 1944, dinihari mengepung, istana sultan Pontianak dengan kekuatan 150 orang bersenjata.
Pengepungan bukan saja dilakukan terhadap Istana Kadriyah, melainkan juga seluruh rumah yang ditempati oleh keluarga kesultanan Pontianak. Di malam buta yang gelap dan pekat, di saat para penghuninya sedang tidur nyenyak, Istana Kadriyah dan rumah-rumah digedor dengan kasar.
Pasukan pengepungan dibagi dalam beberapa kelompok, dengan kekuatan masing-masing 50 orang menjaga 4 penjuru istana, sedang jumlah yang terbanyak menjaga di kopel istana di pinggir Sungai Kapuas.
Semua keluarga sultan yang akan ditangkap pada malam itu konon telah terdaftar nama serta fotonya. Namun beberapa yang tidak terdaftar juga turut diseret dan ditangkap.
Suara tangis dan lengkingan, jeritan yang histeris sangat menyayat hati dan perasaan, sehingga beberapa orang di antaranya tidak sadarkan diri. Para penghuni istana yang disungkup dan tangannya dipasung ke belakang, sedang muka dan kepala disungkup karung goni.
Hiruk pikuk dalam istana, ditambah dengan suara tangisan anak-anak yang meraung-raung, membangkitkan rasa ingin tahu bagi penduduk Kampung Pedalaman, terutama rumah-rumah penduduk yang berdekatan dengan istana.
Namun tidak seorang pun yang berani memberikan bantuan. Dalam gelap gulita yang samar-samar nampak bayangan beberapa orang yang mengendap-endap dengan senjata di tangan serta sangkur terhunus.
Beberapa orang kempeitai memasuki ruangan tengah istana dan memerintahkan agar Sultan Syarif Mohamad Alkadrie keluar dari peraduannya. Ketika itu sultan sedang bersembahyang tahajud. Sultan menolak dipasung dan disungkup, wibawa sultan masih dapat mengurungkan niat kempeitai.
Konon kabarnya jumlah yang ditangkap dan disungkup pada malam nahas itu sedikitnya berjumlah 60 orang yang seluruhnya terdiri dari keluarga sultan Pontianak. Malam itu merupakan malam terakhir antara keluarga kesultanan yang ditangkap dengan anak-isteri sanak-famili yang ditinggalkan.
Yang pergi hilang tak tentu rimbanya, yang ditinggal sedih merana. Tiada tempat untuk mengadukan nasib.
Penulis: Syafaruddin Daeng Usman, Sejarawan Kalimantan Barat
Baca juga: Mengapa Jepang Membantai Satu Generasi Terbaik Kalimantan Barat?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....