Korban Jepang Adalah Para Pejuang Kalimantan Barat
- 25 Jun 2026 09:40 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Korban kekejaman militer Dai Nippon Jepang di masa Perang Dunia ke dua di Kalimantan Barat tidak sedikit jumlahnya. Bahkan dapat dikatakan tidak berhingga banyaknya. Dan kebanyakan di antara mereka yang ditangkap juga tidak mengerti ujung pangkalnya.
Tidak pernah berbuat salah, tapi karena ada laporan sedikit saja dari mata-mata atau kesalahan informasi yang disampaikan, jadilah mereka itu korban yang kesekian ribu.
Penderitaan dan kesedihan bertalu-talu datangnya menimpa rakyat Kalimantan Barat. Selain kesulitan mencari nafkah sehari-hari dalam masyarakat dan ekonominya morat-marit, yang dalam keadaan normal saja sudah di luar kemampuan untuk memperolehnya, ditambah lagi dengan kebingungan, kegelisahan, keputusasaan dan ketakutan yang selalu menghantui kehidupan rakyat.
Setiap orang secara mendadak saja ditangkap dan disungkup. Dipisahkan dari anak-isteri dan sanak keluarganya.
Pada penghujung 1943 militer Jepang mengundang semua kaum pergerakan yang terhimpun dalam Nissinkwai seluruh daerah Kalimantan Barat. Konperensi diadakan di Gedung Medan Sepakat, Landraadweg 12, Jalan Jenderal Urip Sumoharjo sekarang.
Konperensi ini dikujungi lebih kurang 500 orang. Sejalan dengan adanya musyawarah tersebut, balatentara Jepang melakukan pembersihan dan penyungkupan. Tiap ada pertemuan atau rapat, niscaya dilakukan pula penangkapan. Gerakan yang hendak melumpuhkan kekuasaan Jepang telah tersebar dalam setiap kota dan desa, malahan sudah berkembang di daerah pehuluan dan pedalaman.
Di luar dugaan dan perhitungan, Gedung Medan Sepakat yang penuh sesak oleh pengunjung ketika itu telah dikepung oleh sepasukan tentara Jepang bersenjata lengkap.
Mereka memerintahkan tidak seorang pun boleh meninggalkan tempat. Pintu keluar dan jendela ditutup rapat. Para opsir menjaga ketat dengan senjata dan samurai, dan tidak seorang pun boleh bergerak dari tempat duduknya.
Semua pengikut konperensi ditahan. Mereka yang diangkut dengan beberapa truk yang berjumlah beberapa ratus orang pada malam itu tak pernah pulang kembali.
Tindakan selanjutnya ialah, Jepang melarang berkumpul lebih dari dua orang. Jam malam diadakan dengan ketat. Penangkapan lainnya terus dilakukan. Tindakan tentara Jepang ini amat mengerikan. Lebih-lebih bagi kaum wanita. Aksi pembersihan tidak lagi sembunyi-sembunyi, melainkan terang-terangan di siang hari bolong.
Beberapa kendaraan truk saban hari siang dan malam bergerak di hadapan rumah-rumah yang penghuninya dicurigai. Situasi yang demikian itu menimbulkan kepanikan yang untuk kesekian kalinya melanda seluruh hati dan perasaan penduduk.
Pengungsian mulai dilakukan ke desa-desa yang jauh dari kota. Banyak rumah di kota yang ditinggalkan kosong, karena tidak ada yang berani menunggunya.
Adalah Drs H Jimmi M Ibrahim [1932—2005] yang masa itu masih duduk di kelas IV sekolah dasar, ketika Balatentara Dai Nippon berkuasa di Kalimantan Barat. Ia salah seorang putera dari Panembahan Mempawah Mohamad Taufik Aqamaddin.
Semasa hidupnya, suatu ketika kepada penulis, Almarhum menuturkan apa yang disaksikannya.
Mungkin, kata Almarhum mengenang, karena orangtuanya menghendaki agar dirinya tidak menjadi manja, maka ketika mulai bersekolah sejak zaman Belanda, Jimmi diharuskan indekos di rumah orang lain.
Waktu pemerintahan Belanda, Jimmi indekos di rumah orang Belanda kenalan ayahnya. Waktu pemerintahan Jepang, Jimmi indekos di rumah kenalannya yang lain di Pontianak, yaitu Panangian Harahap Gelar Mangaraja Sutan Gunung Tua.
Almarhum Jimmi suatu hari menguping pembicaraan orang-orang tua di Medan Sepakat, tampaknya mereka memang menolak kehadiran Jepang. Dan sebelum Jepang masuk, ada tawaran dari Belanda agar sultan, panembahan dan pemimpin lainnya di Kalimantan Barat untuk mengungsi ke Australia.
"Sebab Belanda sudah mengetahui kekejaman Jepang, sebagaimana yang terjadi di Manchuria. Tapi raja-raja serta pemimpin lainnya sudah sepakat untuk tidak meninggalkan Kalimantan Barat", ungkap Almarhum.
Pada 8 Oktober 1943, pemerintah militer Jepang mengadakan sebuah konferensi di Pontianak, yang dihadiri oleh semua pejabat penting di daerah Kalimantan Barat. Besok pagi konferensi akan berlangsung, apa yang terjadi pada malam harinya di rumah Panangian, telah disaksikan Jimmi dengan mata kepala sendiri.
Waktu itu sekitar pukul 2 dinihari, Jimmi bangun karena ada yang membangunkan.
| Baca juga: Rahadi dan Oetari, Inmemorium Rahadi Osman |
Di depan tempat tidur Jimmi sudah berdiri beberapa kempeitai dengan senapan dan sangkur terhunus.
"Seluruh penghuni rumah dikumpulkan di ruang tengah, lalu Panangian dipanggil. Kepala dan seluruh mukanya ditutup dengan sarung bantal, tangan diikat ke belakang. Pada tangan yang terikat itu dicantelkan kertas bertulisan huruf kanji", kenang Almarhum.
"Yang diperlakukan demikian ini, selain Panangian juga Gusti Djafar Dokoh (panembahan)Tayan. Panembahan Tayan itu kebetulan menginap di rumah Panangian, untuk menghadiri konferensi yang akan diadakan esok hari", lanjut Almarhum.
Setelah itu keduanya digiring naik ke dalam truk yang menunggu di jalan. Ditutupi dengan terpal. Di atas terpal itu, duduk tentara-tentara Jepang di atas kursi. Jimmi mengira, ditempatkan di bawah terpal lalu ditindih dengan kursi dan diinjak-injak, telah membuat orang jadi setengah mati. Belum lagi menjalani penyiksaan atau dibunuh.
Pagi hari, sekitar jam 7 Jimmi disuruh pulang ke Miyakodori [Jalan Merdeka, pen] tak begitu jauh dari rumah kediaman Panangian. Seperti juga dokoh (panembahan) lainnya, ayahnya juga telah datang ke Pontianak dari Mempawah.
Di meja makan tampak ayahnya sarapan pagi bersama Sultan Sambas Mohamad Ibrahim Tsafiuddin. Waktu Jimmi ceritakan tentang penangkapan Panangian Harahap, kedua orang tua itu lalu berhenti makan. Mereka lalu berangkat ke kantor Syuutizi, untuk bergegas menghadiri konferensi.
Menjelang maghrib, ayahnya pulang sendiri, berjalan kaki. Menurut Almarhum Jimmi, Sultan Sambas telah diambil Jepang ketika konferensi berlangsung. Dua bulan kemudian, kempeitai datang ke Mempawah untuk menjemput Panembahan Taufiq Aqamaddin.
"Mereka datang dengan mobil sedan, tampak sedikit hormat. Ketika itu, ayah juga sedang makan. Orangtua ini disuruh meneruskan makannya, baru kemudian kempeitai itu berkata, Dokoh akan mereka bawa ke Pontianak, untuk menghadap Syutizi", kenang Almarhum.
Almarhum mengingat, muka ayahnya tidak ditutup, malahan masih sempat membawa kopor. Berita tentang penangkapan ayahnya baru diketahui Jimmi kemudian, setelah duduk di kelas VI. Kebetulan Jimmi memang loncat kelas, dari kelas IV langsung ke kelas VI.
"Yang menceritakan hal itu kepada saya bukan lain, seorang Jepang bernama Murakawa. Kepada saya dikatakannya, agar jangan jadi susah, karena orang-orang tua itu terpaksa harus dijatuhi hukuman demi keamanan", ungkap Almarhum Jimmi mengenang.
Setelah orangtua Jimmi diambil, di istana Amantubillah Mempawah dipasang plakat berbunyi Warui Hito. Artinya, orang jahat. Istana dinyatakan tertutup dan tidak boleh menerima tamu. Menjelang jatuhnya kekuasaan Jepang, yaitu sekitar bulan Juni ataupun Juli 1945, Jimmi dijemput untuk pulang ke Mempawah guna dilantik sebagai panembahan atau dokoh.
Sebelum tentara Australia mendarat di Kalimantan Barat, Pontianak terlebih dahulu telah diserang oleh Amerika dengan pesawat pembom B26 dan B29. Militer Jepang mengungsi ke Batu Ampar pinggir laut di selatan Pontianak.
Menyambut kedatangan tentara Australia, beberapa peleton tentara Cina yang mengaku Kwomintang telah datang ke Pontianak dari Singkawang. Pasukan Kwomintang itulah yang menjemput dan melakukan penghormatan. Konon, mereka ini memiliki senjata lengkap.
Dengan kedatangan tentara Australia, beberapa tempat penyiksaan dan pembantaian manusia oleh militer Jepang, jadi diketahui. Di gedung yang terletak di belakang bekas Makodam XII/Tanjungpura sekarang, pada waktu itu banyak ditemukan bekas-bekas percikan darah.
"Di salah satu lubang ditemukan terkubur mayat seorang wanita. Diperkirakan, di tempat ini dulunya pernah dijadikan markas militer Jepang itu, adalah tempat penyiksaan dan pemancungan manusia. Bercak-bercak darah banyak ditemui di lantai dan di dinding", kenang Almarhum Jimmi.
Di bangunan Jacobson van den Berg [Jalan Rahadi Osman, ditemukan kerangka orang mati tersalib. Dengan kedatangan tentara Australia, di Pontianak pada waktu itu berkibar tiga bendera. Bendera Australia, Amerika dan Belanda.
Sebagaimana diketahui, Belanda coba masuk lagi ke Indonesia dengan cara membonceng tentara Sekutu. Pemuda-pemuda menuntut agar bendera Belanda diturunkan. Hal tersebut dipenuhi oleh tentara Australia.
Kemudian setelah itu, tokoh-tokoh tentara Jepang yang memegang peranan penting dalam pembunuhan massal di Kalimantan Barat, diangkut dari Singapura ke Pontianak oleh tentara Sekutu, dengan pesawat Katalina.
Mengenai ayahnya, Almarhum Jimmi Mohammad Ibrahim sampai usia senjanya tidak mengetahui di mana kuburannya dengan pasti. Almarhum Jimmi kurang yakin kalau ayahnya ada di pemakanan massal Mandor. "Sebab mayat Sultan Pontianak ditemukan bukan di Mandor", ujarnya ketika itu kepada saya.
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (Sejarawan Kalimantan Barat)
Baca juga: 82 Tahun Silam Tanah Mandor Bersimbah Darah
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....