Kapuas yang Kehilangan Riuh: Dari Deru Tongkang yang Semakin Sunyi
- 05 Mei 2026 08:53 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pagi masih menggantungkan kabut tipis di atas permukaan Sungai Kapuas. Airnya mengalir pelan, memantulkan warna langit yang pucat. Di tepian, deretan tiang kayu tua berdiri seperti saksi yang enggan runtuh bekas tambatan kapal yang dahulu tak pernah benar-benar kosong.
Suara yang terdengar kini bukan lagi dentuman mesin berat atau teriakan awak kapal yang saling bersahut. Hanya gelegak kecil air yang terbelah perahu nelayan, sesekali diselingi derit papan yang lapuk. Seekor burung melintas rendah, lalu menghilang di balik bayang-bayang hutan riparian yang kian menipis.
“Dulu, di jam seperti ini, kita harus menepi,” ujar Latief, matanya menyusuri alur sungai yang lengang. “Tongkang kayu berderet, tak putus dari hulu ke hilir. Airnya keruh oleh gelombang yang mereka ciptakan.”
Abeng, yang berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada, tersenyum tipis. “Keruh, ya. Tapi juga hidup,” balasnya. “Setiap tongkang itu membawa uang. Membawa pekerjaan.”
Angin pagi menyibakkan bau lumpur yang samar. Di kejauhan, sebuah kapal kecil melintas tanpa suara bising, nyaris tak meninggalkan riak.
Latief menghela napas panjang. “Sekarang lihat. Sunyi seperti ini bukan tanda sehat. Ini bukan pemulihan alam semata. Ini juga tanda sesuatu telah berhenti.”
Abeng menggeleng pelan. “Atau berubah,” katanya. “Kayu tidak lagi diangkut seperti dulu. Regulasi diperketat. Industri bergeser. Kita tidak bisa terus bergantung pada penebangan.”
Di sepanjang tepian, beberapa gudang tua tampak terkunci. Catnya mengelupas, pintunya berderit saat angin menyentuhnya. Jejak ban berat yang dulu membekas di tanah kini tertutup rumput liar.
Latief menunjuk ke arah bangunan itu. “Tempat itu dulu tak pernah tidur. Orang keluar-masuk, truk berdatangan, kapal bersandar. Sekarang?” Ia berhenti sejenak. “Sepi seperti ditinggalkan waktu.”
Abeng melangkah mendekati bibir dermaga yang retak. Ia menatap air yang bergerak lambat, lalu berkata dengan suara lebih rendah, “Kau melihat kehilangan. Aku melihat konsekuensi.”
“Konsekuensi dari apa?” tanya Latief, nada suaranya mengeras.
“Dari cara kita memperlakukan hutan,” jawab Abeng tegas. “Kayu-kayu itu tidak datang sendiri. Mereka ditebang. Diangkut. Dijual. Sungai ini hanya jalurnya.”
Sejenak, keduanya terdiam. Hanya suara air yang terus bergerak, seolah menolak berhenti meski manusia mengubah arah sejarahnya.
Latief menunduk, mengambil segenggam pasir basah, lalu membiarkannya jatuh perlahan di antara jari-jarinya. “Aku tidak menyangkal itu,” katanya akhirnya. “Tapi perubahan ini meninggalkan lubang. Orang-orang kehilangan mata pencaharian. Rantai ekonomi terputus.”
Abeng menatapnya, sorot matanya tajam namun tidak sepenuhnya menentang. “Dan jika tidak berubah?” tanyanya. “Berapa lama lagi sungai ini mampu menanggung beban? Berapa banyak lagi hutan yang hilang?”
Sinar matahari mulai menembus kabut, memperjelas permukaan sungai yang luas namun terasa kosong. Tidak ada lagi antrean tongkang panjang yang dahulu seperti ular besi di atas air. Hanya ruang terbuka yang memantulkan cahaya, seolah memberi kesempatan pada sungai untuk bernapas.
Latief mengangkat wajahnya, menatap aliran yang terus bergerak tanpa jeda. “Jadi ini harga yang harus dibayar?” ujarnya lirih.
Abeng tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang arus yang sama, lalu berkata pelan, “Mungkin ini bukan akhir. Hanya peralihan. Tapi peralihan selalu terasa seperti kehilangan bagi yang belum siap.”
Di kejauhan, suara mesin kecil kembali terdengar, perlahan mendekat lalu menjauh. Tidak cukup keras untuk menghidupkan kembali kenangan lama, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa sungai itu masih bekerja dengan ritme yang berbeda. Di atas Sungai Kapuas, waktu tidak benar-benar berhenti. Ia hanya berganti cara bercerita.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....