Udang di Ujung Malu Wak Saloy

  • 03 Mei 2026 11:04 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Pagi itu, matahari baru saja naik malu-malu di ufuk timur. Angin sungai berembus pelan, membawa aroma lumpur yang khas. Di tepian sungai kampung, dua sahabat lama, Wak Saloy dan Senol, sudah bersiap dengan pancing masing-masing. Hari itu hari libur. Mereka sepakat untuk memancing udang demi mengisi waktu sekaligus membawa pulang hasil untuk keluarga.

“Senol, hari ini kita harus dapat banyak. Sudah lama tidak makan udang segar,” ujar Wak Saloy sambil merapikan umpannya.

Senol mengangguk penuh semangat. “Betul, Wak. Kalau tidak dapat, bisa-bisa kita dimarahi istri.”

Mereka pun mulai melemparkan pancing ke sungai. Waktu berjalan pelan. Satu jam berlalu, dua jam berlalu, namun tidak satu pun udang tersangkut.

“Wak, ini udangnya pada libur juga, ya?” keluh Senol.

Wak Saloy menghela napas panjang. “Sepertinya begitu. Dari tadi yang dapat cuma ranting dan plastik.”

Matahari semakin tinggi. Keringat mulai bercucuran. Perut pun mulai lapar, tetapi hasil pancingan tetap nihil.

“Bagaimana ini, Wak? Kalau pulang tangan kosong, aku tidak berani masuk rumah,” kata Senol dengan wajah cemas.

Wak Saloy terdiam sejenak, lalu matanya berbinar seolah mendapat ide.

“Senol, aku punya rencana,” katanya pelan.

“Apa itu, Wak?”

“Kita ke pasar saja. Beli udang di sana, lalu bawa pulang. Bilang saja hasil pancing kita.”

Senol sempat ragu. “Tapi, Wak… itu kan bohong.”

Wak Saloy menepuk bahu Senol. “Daripada dimarahi, lebih baik kita cari aman dulu.”

Akhirnya, mereka pun pergi ke pasar dan membeli udang segar. Dengan hati sedikit waswas, mereka pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, Wak Saloy dengan bangga menyerahkan udang kepada istrinya.

“Ini, hasil pancing Wak hari ini,” katanya.

Namun, istrinya hanya memandang tajam. Ia lalu mengambil udang tersebut, mengamatinya, dan berkata dengan nada tinggi, “Wak, jangan bohong! Ini udang pasar. Ibu tahu betul bentuknya. Bahkan masih ada cap pedagangnya!”

Wak Saloy terdiam, wajahnya memerah karena malu.

Di rumah Senol, hal yang sama terjadi. Istrinya langsung tahu bahwa udang itu bukan hasil pancing. Sore itu, Wak Saloy dan Senol duduk kembali di tepi sungai, bukan untuk memancing, melainkan menertawakan nasib mereka.

“Wak, ternyata lebih baik pulang tanpa hasil daripada membawa hasil yang tidak jujur,” kata Senol.

Wak Saloy mengangguk pelan. “Betul, Nol. Malunya dua kali lipat kalau ketahuan.”

Mereka pun tertawa, meskipun di dalam hati ada penyesalan.

Baca juga: Jejak Pengabdian di Dua Negeri

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....