Jejak Pengabdian di Dua Negeri
- 02 Mei 2026 18:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di suatu sore yang hangat, angin semilir berembus pelan di tepian sungai kampung halaman. Burung-burung kembali ke sarangnya, seakan menyambut kepulangan seorang perantau yang telah lama pergi. Di situlah, dua sahabat lama akhirnya dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun berpisah.
Oemar, seorang guru yang kini mengajar di luar negeri dengan fasilitas lengkap dan gaji tinggi, pulang untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional. Di sisi lain, Bakrie tetap setia mengabdi sebagai guru honorer di sekolah pedalaman Indonesia.
Keduanya bertemu di bawah pohon tua tempat mereka dulu sering belajar bersama.
“Oemar? Benarkah ini kau?” tanya Bakrie dengan mata berbinar.
“Bakrie! Sudah lama sekali. Bagaimana kabarmu, sahabatku?” jawab Oemar sambil tersenyum lebar.
Mereka berjabat tangan erat, seolah tak ingin kehilangan momen yang lama dinanti.
“Aku baik,” kata Bakrie. “Masih mengajar di sekolah kecil di pedalaman. Murid-muridku tak banyak, tetapi semangat mereka luar biasa.”
Oemar mengangguk. “Aku senang mendengarnya. Di tempatku sekarang, fasilitas sangat lengkap. Ruang kelas nyaman, teknologi canggih, dan kesejahteraan guru sangat diperhatikan.”
Bakrie tersenyum tipis. “Itu kabar baik. Guru memang seharusnya dihargai. Di tempatku, kami masih berjuang dengan keterbatasan. Kadang buku tidak cukup, bangunan sekolah pun sederhana.”
Oemar terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Apakah kau pernah berpikir untuk pergi, seperti aku?”
Bakrie menggeleng. “Pernah terlintas. Namun, setiap kali melihat anak-anak itu belajar dengan penuh harapan, aku merasa di sinilah aku dibutuhkan.”
Oemar menatap sahabatnya dengan rasa kagum. “Kau luar biasa, Bakrie. Pengabdianmu tidak ternilai.”
Bakrie tersenyum hangat. “Setiap tempat punya jalannya sendiri. Kau mengabdi di negeri orang, aku di tanah sendiri. Namun tujuan kita sama: mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Langit mulai berubah jingga. Suara azan berkumandang dari kejauhan, menambah khidmat suasana pertemuan itu.
“Semoga suatu hari nanti,” ujar Oemar, “guru-guru di negeri ini mendapatkan kesejahteraan yang layak, seperti yang aku rasakan di luar sana.”
Bakrie mengangguk penuh harap. “Ya, semoga pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini, ada perubahan nyata. Bukan hanya bagi kita, tetapi bagi seluruh guru di pelosok negeri.”
Keduanya pun terdiam, memandang langit senja yang perlahan gelap. Dalam diam, mereka menyimpan harapan yang sama—bahwa pengabdian mereka sebagai guru akan dihargai lebih baik di masa depan.
Dan di Hari Pendidikan Nasional itu, harapan mereka terbang bersama angin, menuju masa depan pendidikan Indonesia yang lebih sejahtera.
Baca juga: Segelas Kopi Susu May Day
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....