Segelas Kopi Susu May Day
- 01 Mei 2026 08:46 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Angin sore berembus pelan di tepian kampung. Jalan tanah yang dulu ramai kini tampak lengang. Di sebuah warung kopi sederhana, dua sahabat lama akhirnya bertemu kembali setelah bertahun-tahun berpisah.
Leman, yang lama merantau ke luar negeri sebagai buruh pabrik tekstil, berdiri mematung sejenak sebelum memeluk sahabatnya, Senol, yang tetap bekerja di kampung sebagai buruh pabrik rokok.
“Senol… akhirnya kita bertemu juga,” ucap Leman dengan suara bergetar.
“Leman! Sudah lama sekali. Kau makin kurus saja,” balas Senol sambil tersenyum haru.
Mereka duduk berhadapan, ditemani dua cangkir kopi hitam yang mengepul. Suasana hangat perlahan mencairkan jarak yang telah lama terbentang.
“Bagaimana hidupmu di sana, Man?” tanya Senol.
Leman menghela napas panjang. “Tidak mudah, Nol. Jam kerja panjang, tekanan tinggi. Kadang kami bekerja hingga larut malam demi mengejar target. Tapi aku bertahan, demi keluarga.”
Senol mengangguk pelan. “Di sini juga tidak jauh berbeda. Di pabrik rokok, kami harus teliti dan cepat. Upah tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya pekerjaan yang ada.”
Leman menatap sahabatnya dengan mata yang dalam. “Kita sama-sama berjuang, ya.”
“Iya,” jawab Senol lirih. “Meski di tempat berbeda, nasib kita tidak jauh berbeda.”
Sejenak mereka terdiam, hanya suara sendok beradu dengan cangkir yang terdengar.
“Besok May Day,” kata Leman tiba-tiba.
Senol tersenyum tipis. “Hari buruh. Dulu kita hanya tahu dari cerita. Sekarang kita menjalaninya sendiri.”
“Di tempatku bekerja, banyak buruh yang turun ke jalan. Mereka menuntut keadilan, upah yang layak, dan jam kerja manusiawi,” ujar Leman.
“Di sini juga mulai ada suara-suara seperti itu,” sahut Senol. “Walau tidak besar, tapi harapan itu ada.”
Leman menatap langit yang mulai memerah. “Aku berharap suatu hari nanti, kita tidak lagi hanya bertahan, tapi benar-benar hidup dengan layak.”
Senol mengangguk mantap. “Semoga May Day tahun ini membawa perubahan. Bukan hanya bagi kita, tapi bagi semua buruh di mana pun berada.”
Angin kembali berembus, membawa harapan yang pelan namun pasti. Di bawah langit kampung yang sederhana, dua sahabat itu menyimpan doa yang sama agar suatu hari, jerih payah mereka dihargai, dan kehidupan sebagai buruh menjadi lebih sejahtera.
Baca juga: May Day 2026: FSPM Independen Serukan Perlawanan lewat Serikat
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....